Teleskop itu dipergunakan untuk mengetahui keberadaan asteroid berbahaya.
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Badan Ruang Angkasa Amerika Serikat sedang membangun teleskop ruang angkasa baru. Teleskop itu dipergunakan untuk mengetahui keberadaan asteroid berbahaya yang berpotensi menabrak atmosfer Bumi.
NASA mengatakan teleskop itu memungkinkan untuk menemukan 90 persen objek dekat bumi yang akan mengenai bumi dalam 10 tahun. Sehingga, kejadian ledakan asteroid yang sempat terjadi di Rusia tak lagi terulang. NASA menjelaskan, bahaya batu ruang angkasa yang memasuki atmosfer bumi. Jika menabrak bumi, ledakan yang dihasilkan dapat menghancurkan area hingga mencapai 50 mil dari jatuhnya asteroid itu.
Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama
Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.
Legenda Tinju Dunia Yakin Bumi Datar dan NASA Pakai Gambar CGI'Bumi itu 100% datar. Tidak ada bukti yang menampakkan kelengkungan Bumi dan badan antariksa palsu ini menggunakan gambar CGI. Saya melihat gambar-gambar ini dan berpikir mereka seperti kartun,' via detikinet
Baca lebih lajut »
Enggak Mau Manusia Punah Karena Meteor Bak Dinosaurus, NASA Ambil Langkah Ini!NASA berencana meluncurkan teleskop ruang angkasa untuk memantau asteroid berbahaya.
Baca lebih lajut »
Enggak Mau Manusia Punah Karena Meteor Bak Dinosaurus, NASA Ambil Langkah Ini!NASA berencana meluncurkan teleskop ruang angkasa untuk memantau asteroid berbahaya.
Baca lebih lajut »
Pemerintah Butuh Rp 375 Triliun Bangun Jalan Tol hingga 2024Kementerian PUPR menegaskan program pembangunan jalan tol masih dilakukan hingga 2024
Baca lebih lajut »
Investasi Agustus 2019 Naik, Aset LPS Capai Rp 118,4 TriliunLPS mencatatkan kenaikan aset 15,2 persen secara tahun berjalan menjadi Rp 118,4 triliun dari periode Desember 2018 Rp 102,7 triliun.
Baca lebih lajut »
Tahun Depan, Sri Mulyani Tambah Anggaran Polri Rp 10 TriliunKementerian Keuangan akan menambah alokasi anggaran untuk Polri sebesar Rp 10,4 triliun menjadi Rp 104,7 triliun.
Baca lebih lajut »