Urbisida dan Penghapusan Memori Kolektif

Bastian Zulyeno News

Urbisida dan Penghapusan Memori Kolektif
OpiniMemori KolektifUrbisida

Kota boleh saja runtuh, naskah mungkin saja terasing, tetapi tugas kita adalah memastikan bahwa ilmu pengetahuan dan memori kolektif tidak akan pernah mati.

Kota boleh saja runtuh, naskah mungkin saja terasing, tetapi tugas kita adalah memastikan bahwa ilmu pengetahuan dan memori kolektif tidak akan pernah mati. Di balik setiap angka statistik korban perang dan bangunan fisik yang hancur, terdapat sebuah tragedi sunyi yang sering kali luput dari pandangan mata, yakni hilangnya ruh sebuah bangsa.

Konflik global yang kita saksikan pada awal tahun 2026 ini membawa kita pada sebuah kontemplasi mendalam mengenai fenomena Urbisida. Istilah yang berarti ’pembunuhan kota’ ini mengajak kita merenung, melampaui sekadar puing-puing beton yang runtuh. Ia memaksa kita bertanya, apa yang sebenarnya mati ketika sebuah kota dihancurkan? Haruskah peradaban, yang dibangun selama ribuan tahun, menjadi tumbal dalam kemelut yang fana?

Karena Urbisida tidak menyerang sembarang bangunan. Targetnya dipilih secara strategis untuk memastikan sebuah bangsa ”mati” secara identitas, budaya, memori kolektif dan kedaulatan ilmiah.. Pada saat itu, Moorcock menggunakan ”urbisida” untuk mendeskripsikan kematian karakter kota, deskripsi tentang bagaimana sebuah kota ”mati” bukan karena dibom, melainkan karena kehilangan ”ruh” atau ”jaringan sehatnya” akibat perubahan struktur yang dipaksakan. Istilah ini kembali dipopulerkan dengan makna yang lebih modern oleh arsitek Bogdan Bogdanović saat menyaksikan penghancuran sistematis kota-kota di Balkan pada 1990-an.

Baginya, urbisida bukan sekadar kerusakan bangunan, melainkan serangan terhadap keberagaman dan memori kolektif yang terkandung dalam ruang perkotaan. Kota bukan hanya tumpukan semen dan baja, kota adalah entitas hidup yang menyimpan lapisan sejarah, interaksi sosial, dan identitas budaya. Ketika sebuah rudal menghantam jembatan ikonik atau alun-alun bersejarah, yang hancur bukan hanya jalur transportasi, melainkan simpul yang menghubungkan masyarakat dengan masa lalunya. Hal ini pernah terlihat jelas pada 1993, ketika Jembatan Stari Most di Bosnia-Herzegovina yang berusia 400 tahun dihancurkan.

Secara taktis, jembatan tersebut tidak memiliki nilai militer yang besar, tetapi secara simbolis, kehancurannya adalah upaya untuk memutus hubungan antara komunitas yang berbeda. Penghancuran situs warisan dunia di Iran, dari kemegahan Istana Golestan hingga kekokohan Benteng Sasania Falak-ol-Aflak, adalah bentuk pemutusan paksa dialog antara masa lalu dan masa depan. Di sini, yang dihancurkan bukan hanya fisik bangunan, melainkan memori kolektif masyarakatnya. Memori kolektif adalah ruang imajiner tempat sebuah bangsa menyimpan identitas, mitologi, dan rasa kepemilikan mereka.

Berdasarkan laporan dari Kementerian Warisan Budaya, Pariwisata, dan Kerajinan Tangan Iran, hingga 29 Maret 2026, setidaknya 131 bangunan bersejarah dan 64 unit pariwisata di 18 provinsi telah rusak atau hancur total. Organisasi kebudayaan PBB UNESCO merespons konflik ini dengan menyatakan kekhawatiran mendalam dan mengirimkan koordinat 29 situs warisan dunia milik Iran kepada pihak-pihak yang bertikai untuk memastikan perlindungannya.

Ketika ruang-ruang publik yang menyimpan kenangan bersama ini diratakan, generasi baru akan kehilangan titik referensi tentang siapa leluhur mereka dan apa nilai-nilai yang mereka perjuangkan. Kita dipaksa menyaksikan bagaimana batu-batu yang telah menyaksikan sejarah ribuan tahun berubah menjadi debu dalam hitungan detik, meninggalkan ruang hampa dalam sanubari manusia yang tidak akan pernah bisa diisi kembali oleh bangunan beton baru mana pun. Sejarah kemanusiaan adalah rangkaian luka urbisida yang berulang.

Pada tahun 146 SM, Romawi tidak hanya mengalahkan Kartago secara militer, tetapi meratakan seluruh kota tersebut dan menaburkan garam di tanahnya agar tidak ada lagi kehidupan yang bisa tumbuh. Namun, urbisida tidak selalu datang melalui mesiu dan api. Di Nusantara, kita mengenal bentuk urbisida yang lebih sunyi. Namun, sama merusaknya: pengasingan memori melalui penjarahan naskah.

Pada tahun 1812, melalui peristiwa Geger Sepehi, ribuan naskah kuno yang menjadi pusat peradaban intelektual Keraton Yogyakarta diangkut secara paksa. Sebagian besar kekayaan naskah Nusantara lainnya, dari Bone hingga Lombok, kini tersimpan di ribuan kilometer jauhnya, seperti di Universitas Leiden. Ini adalah bentuk lain ”pembunuhan kota” secara administratif.

Tragedi ini mengingatkan kita pada peristiwa tahun 1258, ketika pasukan Mongol menghancurkan Baghdad dan membakar perpustakaan Baitul Hikmah, hingga konon air Sungai Tigris menghitam karena tinta dari ribuan buku dan naskah ilmu pengetahuan yang dibuang ke dalamnya. Pola yang sama terjadi setelah pemberontakan rakyat Polandia, Hitler memerintahkan penghancuran 85 persen bangunan kota sebagai hukuman simbolis. Targetnya bukan lagi militer, melainkan identitas Polandia itu sendiri.

Begitu pula yang dilakukan ISIS di Palmyra pada 2015, mereka menghancurkan kuil-kuil kuno bukan untuk memenangi pertempuran, melainkan untuk mencuci sejarah dan menggantinya dengan narasi tunggal yang ekstrem. Selain urbisida, perang juga secara sengaja menyasar epistemosida, yaitu upaya sistematis untuk memusnahkan sistem pengetahuan dan kearifan lokal yang menjadi landasan berpikir suatu bangsa. Dengan menghancurkan laboratorium riset, universitas, hingga penjarahan naskah-naskah kuno, penyerang berupaya memutus transmisi keilmuan antar-generasi agar bangsa tersebut kehilangan kedaulatan intelektualnya secara permanen.

Epistemosida memberikan dimensi yang lebih dalam bahwa yang mati bukan hanya ”bangunan” atau ”orangnya”, tetapi ”cara berpikir” dan ”kekayaan ilmu” sebuah bangsa . Dengan menjauhkan sumber pengetahuan dari masyarakat pemiliknya, sebuah bangsa dipaksa untuk mengalami amnesia budaya. Mereka menjadi asing terhadap sejarahnya sendiri, karena ”ruh” dari pemikiran leluhur mereka terkunci di rak-rak arsip di benua lain. Bukankah saat ini juga kita sedang merasakan hal tersebut?

Dunia internasional telah mencoba membentengi memori manusia melalui berbagai konvensi, seperti Konvensi Den Haag 1954. Namun, kenyataan pahit di lapangan menunjukkan bahwa gedung dan situs budaya sering kali tidak mampu menjadi tameng yang cukup kuat. Di sini kita diuji, apakah nilai sebuah peradaban lebih rendah daripada nilai sebuah kemenangan taktis sementara? Sejarawan University of California Touraj Daryaee mengingatkan kita bahwa ketika memori kolektif serta identitas budaya sebuah bangsa dilumpuhkan, yang tersisa adalah kerapuhan yang permanen.

Sebuah bangsa yang kehilangan akar sejarah dan sayap pengetahuannya akan mudah terombang-ambing dalam ketidakmandirian. Jika keduanya dipotong, bangsa tersebut akan jatuh dalam ketergantungan yang abadi. Ini bukan lagi soal siapa yang menang atau kalah dalam pertempuran, melainkan soal apakah kemanusiaan secara kolektif akan membiarkan sebagian dari dirinya sendiri dihapus dari peta sejarah melalui serangan terencana terhadap rahim-rahim pengetahuan. Urbisida adalah pengingat yang menyakitkan bahwa peradaban adalah sesuatu yang rapuh sekaligus sangat berharga.

Ia mengingatkan kita bahwa setiap gedung universitas, setiap perpustakaan, dan situs sejarah budaya adalah bukti dari perjuangan manusia untuk mencari kebenaran dan keindahan. Haruskah peradaban menjadi tumbal? Secara moral, nurani kita akan menjawab ”tidak”. Namun, merawat peradaban di tengah kecamuk kebencian membutuhkan lebih dari sekadar retorika.

Hal itu membutuhkan komitmen global untuk memandang warisan bangsa lain sebagai warisan milik kemanusiaan secara keseluruhan. Kota boleh saja runtuh, naskah mungkin saja terasing, tetapi tugas kita adalah memastikan bahwa ilmu pengetahuan dan memori kolektif tidak akan pernah mati sepenuhnya. Karena pada akhirnya, kekuatan sejati sebuah bangsa tidak terletak pada dinding-dinding kotanya, melainkan pada keteguhan mereka untuk terus mengingat dan belajar, bahkan di hadapan penghapusan sejarah yang paling brutal sekalipun.

Di balik setiap angka statistik korban perang dan bangunan fisik yang hancur, terdapat sebuah tragedi sunyi yang sering kali luput dari pandangan mata, yakni hilangnya ruh sebuah bangsa. Konflik global yang kita saksikan pada awal tahun 2026 ini membawa kita pada sebuah kontemplasi mendalam mengenai fenomena Urbisida. Istilah yang berarti ’pembunuhan kota’ ini mengajak kita merenung, melampaui sekadar puing-puing beton yang runtuh. Ia memaksa kita bertanya, apa yang sebenarnya mati ketika sebuah kota dihancurkan?

Haruskah peradaban, yang dibangun selama ribuan tahun, menjadi tumbal dalam kemelut yang fana? Karena Urbisida tidak menyerang sembarang bangunan. Targetnya dipilih secara strategis untuk memastikan sebuah bangsa ”mati” secara identitas, budaya, memori kolektif dan kedaulatan ilmiah.. Pada saat itu, Moorcock menggunakan ”urbisida” untuk mendeskripsikan kematian karakter kota, deskripsi tentang bagaimana sebuah kota ”mati” bukan karena dibom, melainkan karena kehilangan ”ruh” atau ”jaringan sehatnya” akibat perubahan struktur yang dipaksakan.

Istilah ini kembali dipopulerkan dengan makna yang lebih modern oleh arsitek Bogdan Bogdanović saat menyaksikan penghancuran sistematis kota-kota di Balkan pada 1990-an. Baginya, urbisida bukan sekadar kerusakan bangunan, melainkan serangan terhadap keberagaman dan memori kolektif yang terkandung dalam ruang perkotaan. Kota bukan hanya tumpukan semen dan baja, kota adalah entitas hidup yang menyimpan lapisan sejarah, interaksi sosial, dan identitas budaya.

Ketika sebuah rudal menghantam jembatan ikonik atau alun-alun bersejarah, yang hancur bukan hanya jalur transportasi, melainkan simpul yang menghubungkan masyarakat dengan masa lalunya. Hal ini pernah terlihat jelas pada 1993, ketika Jembatan Stari Most di Bosnia-Herzegovina yang berusia 400 tahun dihancurkan. Secara taktis, jembatan tersebut tidak memiliki nilai militer yang besar, tetapi secara simbolis, kehancurannya adalah upaya untuk memutus hubungan antara komunitas yang berbeda.

Penghancuran situs warisan dunia di Iran, dari kemegahan Istana Golestan hingga kekokohan Benteng Sasania Falak-ol-Aflak, adalah bentuk pemutusan paksa dialog antara masa lalu dan masa depan. Di sini, yang dihancurkan bukan hanya fisik bangunan, melainkan memori kolektif masyarakatnya. Memori kolektif adalah ruang imajiner tempat sebuah bangsa menyimpan identitas, mitologi, dan rasa kepemilikan mereka.

Berdasarkan laporan dari Kementerian Warisan Budaya, Pariwisata, dan Kerajinan Tangan Iran, hingga 29 Maret 2026, setidaknya 131 bangunan bersejarah dan 64 unit pariwisata di 18 provinsi telah rusak atau hancur total. Organisasi kebudayaan PBB UNESCO merespons konflik ini dengan menyatakan kekhawatiran mendalam dan mengirimkan koordinat 29 situs warisan dunia milik Iran kepada pihak-pihak yang bertikai untuk memastikan perlindungannya.

Ketika ruang-ruang publik yang menyimpan kenangan bersama ini diratakan, generasi baru akan kehilangan titik referensi tentang siapa leluhur mereka dan apa nilai-nilai yang mereka perjuangkan. Kita dipaksa menyaksikan bagaimana batu-batu yang telah menyaksikan sejarah ribuan tahun berubah menjadi debu dalam hitungan detik, meninggalkan ruang hampa dalam sanubari manusia yang tidak akan pernah bisa diisi kembali oleh bangunan beton baru mana pun. Sejarah kemanusiaan adalah rangkaian luka urbisida yang berulang.

Pada tahun 146 SM, Romawi tidak hanya mengalahkan Kartago secara militer, tetapi meratakan seluruh kota tersebut dan menaburkan garam di tanahnya agar tidak ada lagi kehidupan yang bisa tumbuh. Namun, urbisida tidak selalu datang melalui mesiu dan api. Di Nusantara, kita mengenal bentuk urbisida yang lebih sunyi. Namun, sama merusaknya: pengasingan memori melalui penjarahan naskah.

Pada tahun 1812, melalui peristiwa Geger Sepehi, ribuan naskah kuno yang menjadi pusat peradaban intelektual Keraton Yogyakarta diangkut secara paksa. Sebagian besar kekayaan naskah Nusantara lainnya, dari Bone hingga Lombok, kini tersimpan di ribuan kilometer jauhnya, seperti di Universitas Leiden. Ini adalah bentuk lain ”pembunuhan kota” secara administratif.

Tragedi ini mengingatkan kita pada peristiwa tahun 1258, ketika pasukan Mongol menghancurkan Baghdad dan membakar perpustakaan Baitul Hikmah, hingga konon air Sungai Tigris menghitam karena tinta dari ribuan buku dan naskah ilmu pengetahuan yang dibuang ke dalamnya. Pola yang sama terjadi setelah pemberontakan rakyat Polandia, Hitler memerintahkan penghancuran 85 persen bangunan kota sebagai hukuman simbolis. Targetnya bukan lagi militer, melainkan identitas Polandia itu sendiri.

Begitu pula yang dilakukan ISIS di Palmyra pada 2015, mereka menghancurkan kuil-kuil kuno bukan untuk memenangi pertempuran, melainkan untuk mencuci sejarah dan menggantinya dengan narasi tunggal yang ekstrem. Selain urbisida, perang juga secara sengaja menyasar epistemosida, yaitu upaya sistematis untuk memusnahkan sistem pengetahuan dan kearifan lokal yang menjadi landasan berpikir suatu bangsa. Dengan menghancurkan laboratorium riset, universitas, hingga penjarahan naskah-naskah kuno, penyerang berupaya memutus transmisi keilmuan antar-generasi agar bangsa tersebut kehilangan kedaulatan intelektualnya secara permanen.

Epistemosida memberikan dimensi yang lebih dalam bahwa yang mati bukan hanya ”bangunan” atau ”orangnya”, tetapi ”cara berpikir” dan ”kekayaan ilmu” sebuah bangsa . Dengan menjauhkan sumber pengetahuan dari masyarakat pemiliknya, sebuah bangsa dipaksa untuk mengalami amnesia budaya. Mereka menjadi asing terhadap sejarahnya sendiri, karena ”ruh” dari pemikiran leluhur mereka terkunci di rak-rak arsip di benua lain. Bukankah saat ini juga kita sedang merasakan hal tersebut?

Dunia internasional telah mencoba membentengi memori manusia melalui berbagai konvensi, seperti Konvensi Den Haag 1954. Namun, kenyataan pahit di lapangan menunjukkan bahwa gedung dan situs budaya sering kali tidak mampu menjadi tameng yang cukup kuat. Di sini kita diuji, apakah nilai sebuah peradaban lebih rendah daripada nilai sebuah kemenangan taktis sementara? Sejarawan University of California Touraj Daryaee mengingatkan kita bahwa ketika memori kolektif serta identitas budaya sebuah bangsa dilumpuhkan, yang tersisa adalah kerapuhan yang permanen.

Sebuah bangsa yang kehilangan akar sejarah dan sayap pengetahuannya akan mudah terombang-ambing dalam ketidakmandirian. Jika keduanya dipotong, bangsa tersebut akan jatuh dalam ketergantungan yang abadi. Ini bukan lagi soal siapa yang menang atau kalah dalam pertempuran, melainkan soal apakah kemanusiaan secara kolektif akan membiarkan sebagian dari dirinya sendiri dihapus dari peta sejarah melalui serangan terencana terhadap rahim-rahim pengetahuan. Urbisida adalah pengingat yang menyakitkan bahwa peradaban adalah sesuatu yang rapuh sekaligus sangat berharga.

Ia mengingatkan kita bahwa setiap gedung universitas, setiap perpustakaan, dan situs sejarah budaya adalah bukti dari perjuangan manusia untuk mencari kebenaran dan keindahan. Haruskah peradaban menjadi tumbal? Secara moral, nurani kita akan menjawab ”tidak”. Namun, merawat peradaban di tengah kecamuk kebencian membutuhkan lebih dari sekadar retorika.

Hal itu membutuhkan komitmen global untuk memandang warisan bangsa lain sebagai warisan milik kemanusiaan secara keseluruhan. Kota boleh saja runtuh, naskah mungkin saja terasing, tetapi tugas kita adalah memastikan bahwa ilmu pengetahuan dan memori kolektif tidak akan pernah mati sepenuhnya. Karena pada akhirnya, kekuatan sejati sebuah bangsa tidak terletak pada dinding-dinding kotanya, melainkan pada keteguhan mereka untuk terus mengingat dan belajar, bahkan di hadapan penghapusan sejarah yang paling brutal sekalipun.

We have summarized this news so that you can read it quickly. If you are interested in the news, you can read the full text here. Read more:

hariankompas /  🏆 8. in İD

Opini Memori Kolektif Urbisida X-Hide-Give-Me-Perspective

 

United States Latest News, United States Headlines

Similar News:You can also read news stories similar to this one that we have collected from other news sources.

5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek JuaraPortal berita yang menyajikan informasi terhangat baik peristiwa politik, entertainment dan lain lain
Read more »

PDIP Peringati Hari Buruh: Tak Boleh Ada Eksploitasi Buruh oleh Pemilik ModalPDIP Peringati Hari Buruh: Tak Boleh Ada Eksploitasi Buruh oleh Pemilik ModalHari Buruh adalah sebuah pengakuan bahwa buruh adalah pilar penting bangsa ini
Read more »

Gyokeres Bicara Usai Borong Dua Gol: Arsenal Tak Boleh Kehilangan KepercayaanGyokeres Bicara Usai Borong Dua Gol: Arsenal Tak Boleh Kehilangan KepercayaanArsenal menang 3-0 atas Fulham dalam laga lanjutan Liga Inggris, Viktor Gyokeres mencetak dua gol, fokus ke Liga Champions.
Read more »

Pindah ke Godts? 'Tidak mungkin dia berpikir bisa bermain di Liga Premier'Pindah ke Godts? 'Tidak mungkin dia berpikir bisa bermain di Liga Premier'Menurut Kenneth Perez, bintang Ajax Mika Godts tidak boleh berharap bisa bermain di Liga Premier tahun depan, demikian disampaikan analis tersebut dalam acara Dit Was Het Weekend di ESPN. Menurutnya, hal ini terutama berkaitan dengan aspek kebugaran.
Read more »

Jaga Asa Juara, Andritany Minta Persija Jakarta Tak Boleh Terpeleset di Kandang PersijapJaga Asa Juara, Andritany Minta Persija Jakarta Tak Boleh Terpeleset di Kandang PersijapPortal berita yang menyajikan informasi terhangat baik peristiwa politik, entertainment dan lain lain
Read more »



Render Time: 2026-05-04 23:03:05