Mengembalikan Spirit Pesantren dan Penguatan Akar Rumput dalam Manajemen Nahdlatul Ulama

Opini News

Mengembalikan Spirit Pesantren dan Penguatan Akar Rumput dalam Manajemen Nahdlatul Ulama
Nahdlatul UlamaGus SalamPesantren

KH Abdussalam Shohib menekankan pentingnya pola koordinasi desentralisasi dan pendekatan humanis dalam mengelola Nahdlatul Ulama agar tetap berakar kuat di masyarakat.

Pemikiran yang disampaikan oleh KH Abdussalam Shohib atau yang lebih dikenal dengan Gus Salam merupakan sebuah refleksi mendalam hasil dari berbagai diskusi silaturahmi bersama Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama atau PCNU di berbagai wilayah Jawa Tengah.

Dalam berbagai kesempatan pertemuan tersebut, terungkap sebuah aspirasi kolektif mengenai bagaimana seharusnya organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama dikelola agar tetap konsisten dengan jati dirinya. Gus Salam menekankan bahwa kekuatan utama NU sebenarnya terletak pada arus bawah, di mana para penggerak di tingkat kecamatan, ranting, hingga basis masjid dan musholla menjadi ujung tombak dalam melayani umat. PCNU mendapatkan apresiasi yang sangat tinggi karena peran mereka yang bersentuhan langsung dengan warga, mengorkestrasi gerakan kemaslahatan, serta membangkitkan semangat religiusitas di tingkat akar rumput.

Namun, terdapat sebuah catatan kritis bahwa meskipun NU tidak pernah kekurangan sosok alim yang menjadi penggerak alami, organisasi ini seringkali lemah dalam merawat para ulama tersebut agar tetap terhubung secara harmonis dengan umatnya. Lebih lanjut, Gus Salam menyoroti masalah pengelolaan amal usaha di lingkungan NU. Meskipun jumlah amal usaha sangat melimpah, terdapat kelemahan dalam manajemen pengelolaannya agar manfaat yang dihasilkan bisa lebih berkah dan berjangka panjang. Solusi yang ditawarkan adalah dengan memperkuat koordinasi antar level organisasi.

Beliau menegaskan bahwa NU adalah organisasi yang berbasis pada koordinasi, bukan instruksi. Struktur NU yang sudah mapan hingga ke pelosok desa seharusnya berfungsi dengan pola desentralisasi yang menghargai inisiatif lokal, bukan menggunakan pola komando ala militer yang kaku. Pemaksaan pola kepemimpinan yang terlalu sentralistik pada organisasi sipil yang bersifat keguyuban ini dikhawatirkan akan menyebabkan kontraksi organisasi yang justru menghambat pertumbuhan dan kenyamanan para anggotanya dalam berkhidmat.

Dalam upaya memperkokoh jamiyyah Nahdlatul Ulama, terutama menjelang dan setelah muktamar ke-35, diperlukan lima ikhtiar nyata yang harus dipedomani bersama. Hal ini dimulai dengan melakukan rekonsiliasi nasional untuk merawat ukhuwwah nahdliyyah agar persaudaraan antar warga NU tetap terjaga. Gus Salam mengingatkan kembali bahwa jiwa NU adalah jiwa pesantren yang dibangun di atas tiga spirit utama, yaitu spirit pesantren itu sendiri, spirit jihad, dan spirit khidmah atau pengabdian.

Nilai-nilai ini diperkuat dengan lima wasiat dari almarhum KH Ali Ma’shum, yang meliputi ideologisasi berjamiyyah, membangun usaha, kesungguhan dalam berupaya, kesabaran dalam profesionalitas, serta rasa percaya dan yakin terhadap usaha di dalam NU. Perpaduan antara wasiat tersebut dengan spirit pesantren harus menjadi kaidah utama dalam menjalankan organisasi, sehingga NU tidak kehilangan akar tradisinya dalam mengejar kemajuan zaman. Terakhir, Gus Salam memberikan penekanan khusus mengenai manajemen di tingkat pusat atau PBNU.

Mengingat besarnya skala organisasi ini, NU tidak bisa dikelola dengan prinsip sekadar patuh pada atasan atau mengikuti satu garis komando yang kaku. Pola pelayanan NU seharusnya didasarkan pada pemetaan kebutuhan dan inisiatif dari bawah. Meskipun ada kemitraan dengan pemerintah atau pihak asing yang memerlukan manajemen khusus, karakter dasar NU sebagai organisasi yang berkembang dari bawah tidak boleh hilang. Oleh karena itu, manajemen PBNU dituntut untuk mengedepankan pendekatan yang humanis, transparan, dan akuntabel.

Pimpinan pusat harus mau benar-benar mendengar aspirasi dari bawah, menghargai kreativitas serta inovasi yang muncul dari tingkat cabang, dan tidak menutup-nutupi penggalangan sumber daya internal. Dengan demikian, perjuangan NU tidak akan menjadi ajang perebutan kekuasaan atau mencari siapa yang terbaik, melainkan menjadi perlombaan dalam memberikan pertolongan dan pelayanan terbaik bagi umat manusia

We have summarized this news so that you can read it quickly. If you are interested in the news, you can read the full text here. Read more:

rmol_id /  🏆 21. in İD

Nahdlatul Ulama Gus Salam Pesantren Manajemen Organisasi Ukhuwwah Nahdliyyah

 

United States Latest News, United States Headlines

Similar News:You can also read news stories similar to this one that we have collected from other news sources.

Alasan Gus Miftah Ikut PMKNU, Program Kaderisasi di Tubuh NUAlasan Gus Miftah Ikut PMKNU, Program Kaderisasi di Tubuh NUGus Yusuf Chudlori, KH Imam Jazuli, dan Gus Miftah, kompak mengikuti Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU), program kaderisasi formal untuk mencetak penggerak NU militan.
Read more »

Syekh M Al Deeb Bongkar Oknum Ulama Hobi Nikah Tiap Bulan di Hotel: Cuma Berduaan!Syekh M Al Deeb Bongkar Oknum Ulama Hobi Nikah Tiap Bulan di Hotel: Cuma Berduaan!Portal berita yang menyajikan informasi terhangat baik peristiwa politik, entertainment dan lain lain
Read more »

Modus Licik Oknum Ulama Nikahi Banyak Perempuan: Pakai Dalil Palsu hingga Hamil KembarModus Licik Oknum Ulama Nikahi Banyak Perempuan: Pakai Dalil Palsu hingga Hamil KembarPortal berita yang menyajikan informasi terhangat baik peristiwa politik, entertainment dan lain lain
Read more »

Soroti Moderasi Beragama dan Transformasi Pesantren, Kemenag Ingatkan Spirit Pendiri NU Kiai Wahab HasbullahSoroti Moderasi Beragama dan Transformasi Pesantren, Kemenag Ingatkan Spirit Pendiri NU Kiai Wahab HasbullahKemenag ingatkan spirit Kiai Wahab Hasbullah sebagai pondasi moderasi beragama dan transformasi pesantren dalam menghadapi tantangan sosial keagamaan.
Read more »



Render Time: 2026-05-17 11:57:47