Dari Bekas Gudang hingga Pabrik Sabun: Ruang Lama, Napas Baru

Desain News

Dari Bekas Gudang hingga Pabrik Sabun: Ruang Lama, Napas Baru
Ruang SeniBandungTjap Sahabat

Tjap Sahabat dan Pustaka Ccita menghidupkan ruang lama di Bandung. Dari bekas pabrik sabun hingga gudang kini menjadi tempat kreativitas baru.

Bentangan kanvas raksasa itu nyaris memenuhi ruang Loka Imajinasi di galeri seni Tjap Sahabat di Jalan Cibadak, Kota Bandung . Berjudul ”Arsip Antroposen”, lukisan berukuran 3 meter x 6 meter itu berada di antara dinding beton kasar dan atap setinggi 10 meter.

Dari kejauhan, karya Vincent Rumahloine itu tampak seperti melayang di tengah ruangan. Karya tentang ruang dan ulah manusia itu menjadi salah satu yang dibawakan Vincent dalam pameran bertajukMenurut Vincent, karakter ruang di Tjap Sahabat berbeda dengan galeri seni pada umumnya. Dinding semen dengan sebagian cat terkelupas, bekas retakan bangunan lama, dan gema langkah kaki di ruang tinggi besar justru menjadi magnetnya. Hal itu membuatnya merasa dekat dengan karya-karyanya yang lebih akrab dengan jalanan ketimbang galeri putih yang steril.

Selama ini, Vincent dikenal lewat karya-karya jalanan ketimbang pameran di galeri. Karena itu juga, Loka Imajinasi Tjap Sahabat seperti menghadirkan titik temu antara praktik seni jalanannya dan tempat pameran yang lebih formal. ”Saya jatuh cinta sejak pertama kali melihat ruangan ini tahun 2024. Saat itu berpikir harus buat karya di sini,” ujarnya.

Dua tahun kemudian, cinta itu terbayar. Lukisan besar dibuat bersama empat seniman asal kampung pelukis di Jelekong, Kabupaten Bandung. Setelah jadi, ia memikirkan juga detail pendukungnya agar tak tenggelam ”dimakan” Loka Imajinasi. Lukisan, misalnya, tidak ditempelkan di dinding.

Sebagai gantinya, karya raksasa itu ditopang dudukan baja ringan dengan tinggi sekitar 50 sentimeter dari lantai semen. Itu membuat lukisan tampak melayang di tengah ruangan. ”Ruang di Tjap Sahabat berpotensi menghadirkan keberanian berkesenian. Saat itu hadir, kreativitas anyar itu berpotensi mengundang banyak orang untuk datang,” katanya.

Hingga dua tahun lalu, Tjap Sahabat bukan galeri seni. Bangunan berlantai tiga tersebut pernah lama menjadi pabrik sabun di jantung niaga dan kuliner Kota Bandung. Bekas fungsi lamanya masih terlihat. Jalur masuk truk pengangkut barang tetap ada.

Saluran pembuangan di sekeliling Loka Imajinasi dipertahankan. Dinding kasar juga tidak sepenuhnya dipoles ulang. Di luar bangunan, suasana Jalan Cibadak juga masih tetap berjalan seperti biasa. Aroma masakan dari kedai-kedai legendaris bercampur dengan suara wajan.

Kecuali hari Kamis, saat semua kedai di Cibadak libur, pengunjung yang hilir mudik terlihat dari sore hingga malam. Di tengah kawasan yang padat dan kerap dilanda macet itu, Tjap Sahabat tampak seperti jeda kecil di antara hiruk pikuk kota. ”Kami hendak menjadi wadah persilangan antara seni, sejarah, dan kehidupan sehari-hari sekaligus berbagi kebahagiaan berkesenian kepada orang-orang di sekitar,” kata Mei Suling , pengelola galeri seni Tjap Sahabat. Menurut Mei, penting bagi warga untuk memiliki akses terhadap simpul berkesenian.

Berkesenian bukan hanya soal menghasilkan karya, melainkan juga menghadirkan tempat bertemu dan berdialog. ”Kadang orang merasa seni itu jauh dan eksklusif. Padahal, seni bisa menjadi ruang bermain hingga memahami lingkungan sekitar,” ujarnya. Jarak antara karya seni dan manusianya itu pernah dialami Mei.

Berada di kawasan kuliner, bisnis, dan permukiman peranakan Tionghoa, Tjap Sahabat awalnya tampak seperti anomali. Pertanyaan dari warga sekitar tentang mengapa bangunan itu tidak dijadikan toko atau lahan parkir kerap muncul. ”Itu wajar karena kawasan ini memang hidup dari aktivitas perdagangan. Orang melihat ruang kosong sebagai potensi ekonomi,” katanya.

Kini, perlahan Tjap Sahabat mulai mendapat tempat hangat. Dia mencontohkan, saat menggelar pertunjukan wayang potehi selama 14 hari pada Januari-Februari 2026, banyak warga lokal berdatangan untuk menonton. Perpustakaan di antara distro Tjap Sahabat tidak berdiri sendiri. Terpisah sekitar 3 kilometer, fenomena warga menghidupkan ruang lama juga muncul di Kota Bandung.

Di The Hallway Pasar Kosambi, misalnya, salah satu bekas gudang berubah menjadi perpustakaan kecil bernama Pustaka Ccita. Di sela suara musik, warna-warni pakaian distro, dan langkah pengunjung yang hilir mudik, anak-anak muda duduk membaca atau berbincang tentang buku. Berbeda dengan Tjap Sahabat, Pustaka Ccita tampil ramai dan penuh warna. Dinding muka dicat biru tua.

Di dalamnya, beragamSekitar 400 buku yang diselipkan di antara rak-rak coklat itu juga memberikan warna menyatu dengan hiruk pikuk The Hallway, salah satu simpul ”skena” anak muda Bandung. Namun, perpustakaan yang diluncurkan pada Mei 2026 itu juga tidak hanya menawarkan tempat membaca alternatif bagi anak muda. Pengelolanya mencoba menghadirkan pendekatan lebih personal, menjembatani buku dengan karakter pembacanya.

Hal itu tidak lepas dari latar belakang Pustaka Ccita yang lahir dari pengembangan program Ourchetype, menggabungkan desain, seni, teknologi, dan psikologi untuk memberikan kisah perjalanan menjelajahi personaliti manusia secara interaktif. ”Kadang orang merasa membaca itu berat karena tidak tahu harus mulai dari mana. Kami mencoba jadi pintu masuk sekaligus jembatan yang lebih personal,” kata Muhammad Fajar Ramadan , salah satu pengelolanya.

Jika seseorang diketahui memiliki karakter ”rebel”, misalnya, ia akan diarahkan pada buku-buku bertema kritik sosial atau tokoh-tokoh yang hidup di luar arus utama. Fajar mencontohkan karya Martin Aleida berjudulBuku itu bahkan diberi penanda pada halaman tertentu. Tujuannya, kembali memandu pembaca menemukan sisi menarik saat membaca buku itu. Namun, bagi penulis buku, panduan tersebut memberikan manfaat.antusias dengan Pustaka Ccita.

Dia merasa bisa dengan cepat bertemu orang-orang yang membutuhkan ide dalam bukunya. ”Perpustakaan ini juga bisa memandu dan menguatkan penulis saat berkarya. Di sini, setiap ide seperti dicarikan jodoh pada peminatnya,” kata Cantika. Andy Abdulqodir , pengelola Pustaka Ccita lainnya, mengatakan, beragam kolaborasi dengan konsep pengenalan diri akan terus dihadirkan.

Kegiatan seperti penulisan populer, pembacaan puisi, hingga diskusi desain dan mode bakal digelar. The Hallway diharapkan tidak lagi hanya sekadar tempat transaksi, tetapi juga ruang rekreasi dan pertemuan bagi anak muda mengenali dirinya. ”Masih banyak tempat di The Hallway yang bisa dimanfaatkan siapa saja yang datang untuk mengenali karakter diri sendiri,” katanya. Menjelang malam, Jalan Cibadak dan Pasar Kosambi masih ramai kendaraan, kuliner, musik, dan lalu lintas manusia.

Namun, di sela hiruk pikuk itu, ruang-ruang alternatif perlahan tumbuh siap membuat semua yang datang jatuh cinta seperti Vincent. Dari kejauhan, karya Vincent Rumahloine itu tampak seperti melayang di tengah ruangan.

Karya tentang ruang dan ulah manusia itu menjadi salah satu yang dibawakan Vincent dalam pameran bertajukMenurut Vincent, karakter ruang di Tjap Sahabat berbeda dengan galeri seni pada umumnya. Dinding semen dengan sebagian cat terkelupas, bekas retakan bangunan lama, dan gema langkah kaki di ruang tinggi besar justru menjadi magnetnya. Hal itu membuatnya merasa dekat dengan karya-karyanya yang lebih akrab dengan jalanan ketimbang galeri putih yang steril. Selama ini, Vincent dikenal lewat karya-karya jalanan ketimbang pameran di galeri.

Karena itu juga, Loka Imajinasi Tjap Sahabat seperti menghadirkan titik temu antara praktik seni jalanannya dan tempat pameran yang lebih formal. ”Saya jatuh cinta sejak pertama kali melihat ruangan ini tahun 2024. Saat itu berpikir harus buat karya di sini,” ujarnya. Dua tahun kemudian, cinta itu terbayar.

Lukisan besar dibuat bersama empat seniman asal kampung pelukis di Jelekong, Kabupaten Bandung. Setelah jadi, ia memikirkan juga detail pendukungnya agar tak tenggelam ”dimakan” Loka Imajinasi. Lukisan, misalnya, tidak ditempelkan di dinding. Sebagai gantinya, karya raksasa itu ditopang dudukan baja ringan dengan tinggi sekitar 50 sentimeter dari lantai semen.

Itu membuat lukisan tampak melayang di tengah ruangan. ”Ruang di Tjap Sahabat berpotensi menghadirkan keberanian berkesenian. Saat itu hadir, kreativitas anyar itu berpotensi mengundang banyak orang untuk datang,” katanya. Hingga dua tahun lalu, Tjap Sahabat bukan galeri seni.

Bangunan berlantai tiga tersebut pernah lama menjadi pabrik sabun di jantung niaga dan kuliner Kota Bandung. Bekas fungsi lamanya masih terlihat. Jalur masuk truk pengangkut barang tetap ada. Saluran pembuangan di sekeliling Loka Imajinasi dipertahankan.

Dinding kasar juga tidak sepenuhnya dipoles ulang. Di luar bangunan, suasana Jalan Cibadak juga masih tetap berjalan seperti biasa. Aroma masakan dari kedai-kedai legendaris bercampur dengan suara wajan. Kecuali hari Kamis, saat semua kedai di Cibadak libur, pengunjung yang hilir mudik terlihat dari sore hingga malam.

Di tengah kawasan yang padat dan kerap dilanda macet itu, Tjap Sahabat tampak seperti jeda kecil di antara hiruk pikuk kota. ”Kami hendak menjadi wadah persilangan antara seni, sejarah, dan kehidupan sehari-hari sekaligus berbagi kebahagiaan berkesenian kepada orang-orang di sekitar,” kata Mei Suling , pengelola galeri seni Tjap Sahabat. Menurut Mei, penting bagi warga untuk memiliki akses terhadap simpul berkesenian. Berkesenian bukan hanya soal menghasilkan karya, melainkan juga menghadirkan tempat bertemu dan berdialog.

”Kadang orang merasa seni itu jauh dan eksklusif. Padahal, seni bisa menjadi ruang bermain hingga memahami lingkungan sekitar,” ujarnya. Jarak antara karya seni dan manusianya itu pernah dialami Mei. Berada di kawasan kuliner, bisnis, dan permukiman peranakan Tionghoa, Tjap Sahabat awalnya tampak seperti anomali.

Pertanyaan dari warga sekitar tentang mengapa bangunan itu tidak dijadikan toko atau lahan parkir kerap muncul. ”Itu wajar karena kawasan ini memang hidup dari aktivitas perdagangan. Orang melihat ruang kosong sebagai potensi ekonomi,” katanya. Kini, perlahan Tjap Sahabat mulai mendapat tempat hangat.

Dia mencontohkan, saat menggelar pertunjukan wayang potehi selama 14 hari pada Januari-Februari 2026, banyak warga lokal berdatangan untuk menonton. Perpustakaan di antara distro Tjap Sahabat tidak berdiri sendiri. Terpisah sekitar 3 kilometer, fenomena warga menghidupkan ruang lama juga muncul di Kota Bandung. Di The Hallway Pasar Kosambi, misalnya, salah satu bekas gudang berubah menjadi perpustakaan kecil bernama Pustaka Ccita.

Di sela suara musik, warna-warni pakaian distro, dan langkah pengunjung yang hilir mudik, anak-anak muda duduk membaca atau berbincang tentang buku. Berbeda dengan Tjap Sahabat, Pustaka Ccita tampil ramai dan penuh warna. Dinding muka dicat biru tua. Di dalamnya, beragamSekitar 400 buku yang diselipkan di antara rak-rak coklat itu juga memberikan warna menyatu dengan hiruk pikuk The Hallway, salah satu simpul ”skena” anak muda Bandung.

Namun, perpustakaan yang diluncurkan pada Mei 2026 itu juga tidak hanya menawarkan tempat membaca alternatif bagi anak muda. Pengelolanya mencoba menghadirkan pendekatan lebih personal, menjembatani buku dengan karakter pembacanya. Hal itu tidak lepas dari latar belakang Pustaka Ccita yang lahir dari pengembangan program Ourchetype, menggabungkan desain, seni, teknologi, dan psikologi untuk memberikan kisah perjalanan menjelajahi personaliti manusia secara interaktif. ”Kadang orang merasa membaca itu berat karena tidak tahu harus mulai dari mana.

Kami mencoba jadi pintu masuk sekaligus jembatan yang lebih personal,” kata Muhammad Fajar Ramadan , salah satu pengelolanya. Jika seseorang diketahui memiliki karakter ”rebel”, misalnya, ia akan diarahkan pada buku-buku bertema kritik sosial atau tokoh-tokoh yang hidup di luar arus utama. Fajar mencontohkan karya Martin Aleida berjudulBuku itu bahkan diberi penanda pada halaman tertentu. Tujuannya, kembali memandu pembaca menemukan sisi menarik saat membaca buku itu.

Namun, bagi penulis buku, panduan tersebut memberikan manfaat.antusias dengan Pustaka Ccita. Dia merasa bisa dengan cepat bertemu orang-orang yang membutuhkan ide dalam bukunya. ”Perpustakaan ini juga bisa memandu dan menguatkan penulis saat berkarya. Di sini, setiap ide seperti dicarikan jodoh pada peminatnya,” kata Cantika.

Andy Abdulqodir , pengelola Pustaka Ccita lainnya, mengatakan, beragam kolaborasi dengan konsep pengenalan diri akan terus dihadirkan. Kegiatan seperti penulisan populer, pembacaan puisi, hingga diskusi desain dan mode bakal digelar. The Hallway diharapkan tidak lagi hanya sekadar tempat transaksi, tetapi juga ruang rekreasi dan pertemuan bagi anak muda mengenali dirinya. ”Masih banyak tempat di The Hallway yang bisa dimanfaatkan siapa saja yang datang untuk mengenali karakter diri sendiri,” katanya.

Menjelang malam, Jalan Cibadak dan Pasar Kosambi masih ramai kendaraan, kuliner, musik, dan lalu lintas manusia. Namun, di sela hiruk pikuk itu, ruang-ruang alternatif perlahan tumbuh siap membuat semua yang datang jatuh cinta seperti Vincent.

We have summarized this news so that you can read it quickly. If you are interested in the news, you can read the full text here. Read more:

hariankompas /  🏆 8. in İD

Ruang Seni Bandung Tjap Sahabat Perpustakaan Pustaka Ccita The Hallway Pasar Kosambi Kompas Urbana X-Hide-Inspire-Me

 

United States Latest News, United States Headlines

Similar News:You can also read news stories similar to this one that we have collected from other news sources.

AS Bebaskan Suporter Piala Dunia 2026 dari Sejumlah Negara dari Kewajiban Deposit VisaAS Bebaskan Suporter Piala Dunia 2026 dari Sejumlah Negara dari Kewajiban Deposit VisaPortal berita yang menyajikan informasi terhangat baik peristiwa politik, entertainment dan lain lain
Read more »

Harvey Elliott menerima permintaan maaf dari Unai Emery atas masa peminjamannya yang 'memalukan' dari LiverpoolHarvey Elliott menerima permintaan maaf dari Unai Emery atas masa peminjamannya yang 'memalukan' dari LiverpoolUnai Emery telah meminta maaf kepada Harvey Elliott atas minimnya waktu bermainnya di Aston Villa akibat adanya klausul transfer permanen senilai £30 juta dalam kesepakatan peminjamannya dari Liverpool.
Read more »

Lirik Lagu Acai dari Cortis Trending Nomor 5, Dari Mini Album GreenGreen Yang FenomenalLirik Lagu Acai dari Cortis Trending Nomor 5, Dari Mini Album GreenGreen Yang FenomenalCortis merilis album mini kedua, GreenGreen yang memfiturkan sejumlah hit termasuk “Acai.” Lirik lagu “Acai” mencuri perhatian publik sepanjang Mei 2026.
Read more »

Tumbang dari Jeon Hyeok Jin, Ubed Akui Sulit Keluar dari TekananTumbang dari Jeon Hyeok Jin, Ubed Akui Sulit Keluar dari TekananPortal berita yang menyajikan informasi terhangat baik peristiwa politik, entertainment dan lain lain
Read more »



Render Time: 2026-05-16 04:32:04