Dosen HI Binus University, Tia Mariatul Kibtiah, menilai pendekatan agresif Presiden Trump terhadap Iran menghambat perundingan lanjutan. Ia menyarankan pendekatan yang lebih lembut dan membangun kepercayaan.
Presiden Amerika Serikat , Donald Trump , baru-baru ini menyampaikan pidato saat sarapan bersama Asosiasi Gubernur Nasional di Ruang Makan Negara, Gedung Putih, Washington D.C. , pada tanggal 20 Februari 2026.
Pertemuan ini menjadi sorotan di tengah upaya diplomatik yang sedang berlangsung, khususnya terkait dengan hubungan AS dan Iran. Upaya untuk menjalin kembali dialog antara kedua negara ini menjadi semakin penting mengingat kegagalan perundingan tahap pertama yang telah dilaksanakan di Islamabad, Pakistan, pada tanggal 11-12 April 2026. Perundingan tersebut, sayangnya, tidak menghasilkan kesepakatan yang signifikan, meninggalkan pertanyaan besar mengenai prospek masa depan hubungan bilateral.
Situasi ini menuntut pendekatan yang lebih strategis dan hati-hati dari pihak Amerika Serikat, terutama dalam mempertimbangkan cara untuk mendorong Iran kembali ke meja perundingan. Analisis mendalam mengenai dinamika hubungan AS-Iran dan strategi yang paling efektif untuk mencapai solusi diplomatik menjadi krusial dalam konteks geopolitik yang kompleks ini. Kegagalan perundingan pertama menggarisbawahi pentingnya pemahaman yang mendalam tentang perspektif dan kepentingan masing-masing pihak, serta kebutuhan untuk menghindari tindakan-tindakan yang dapat memperburuk ketegangan.
Tia Mariatul Kibtiah, seorang dosen Ilmu Hubungan Internasional dari Binus University, memberikan pandangan kritis terhadap pendekatan yang diambil oleh Presiden Trump dalam menghadapi Iran. Menurutnya, taktik yang sering digunakan Trump, yaitu tindakan yang tidak terprediksi seperti serangan mendadak atau tekanan psikologis, justru kontraproduktif dan dapat menghambat upaya perundingan lebih lanjut. Tia menekankan bahwa Iran adalah negara dengan harga diri dan kepentingan nasional yang kuat, sehingga pendekatan yang agresif dan provokatif hanya akan memicu reaksi keras dan memperdalam ketidakpercayaan.
Sebaliknya, ia mengusulkan pendekatan yang lebih lembut dan konstruktif, yang berfokus pada pembangunan kepercayaan dan pemberian pernyataan-pernyataan yang tidak memicu ketegangan. Pendekatan ini, menurut Tia, akan menciptakan lingkungan yang lebih kondusif untuk dialog dan negosiasi yang produktif. Ia juga menyoroti pentingnya menghindari tindakan-tindakan provokatif yang dapat memicu eskalasi konflik. Pengalaman dari pemilu paruh waktu juga menjadi pelajaran berharga, menunjukkan bahwa pendekatan yang lebih moderat dan inklusif cenderung lebih efektif dalam mencapai hasil yang positif.
Dengan demikian, Tia meyakini bahwa AS perlu menunjukkan komitmen yang tulus untuk membangun hubungan yang lebih stabil dan saling menguntungkan dengan Iran. Lebih lanjut, Tia memperingatkan bahwa setiap tindakan serangan dari pihak AS terhadap Iran akan secara efektif menutup pintu bagi perundingan lebih lanjut. Ia meyakini bahwa serangan semacam itu akan dianggap sebagai pelanggaran berat terhadap kedaulatan Iran dan akan memicu reaksi yang sangat keras, sehingga membuat dialog menjadi tidak mungkin.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya menahan diri dari tindakan-tindakan militer dan fokus pada upaya diplomatik. Tia juga menekankan bahwa membangun kepercayaan adalah kunci utama untuk mencapai kesepakatan yang berkelanjutan. Ini membutuhkan transparansi, komunikasi yang terbuka, dan kesediaan untuk saling memahami perspektif masing-masing. Selain itu, ia menyarankan agar AS mempertimbangkan untuk memberikan insentif kepada Iran untuk kembali ke meja perundingan, seperti pelonggaran sanksi atau jaminan keamanan.
Dengan demikian, AS dapat menciptakan lingkungan yang lebih menarik bagi Iran untuk terlibat dalam dialog dan mencapai solusi yang saling menguntungkan. Pada akhirnya, keberhasilan upaya diplomatik ini akan bergantung pada kemampuan kedua belah pihak untuk mengatasi perbedaan mereka dan menemukan titik temu yang dapat mengarah pada hubungan yang lebih stabil dan damai di kawasan tersebut. Situasi ini memerlukan kebijaksanaan, kesabaran, dan komitmen yang kuat dari kedua belah pihak
Amerika Serikat Iran Donald Trump Perundingan Diplomasi Hubungan Internasional Tia Mariatul Kibtiah Binus University
United States Latest News, United States Headlines
Similar News:You can also read news stories similar to this one that we have collected from other news sources.
Trump Kembali Ancam Hancurkan Infrastruktur Sipil Iran Jika Kesepakatan Tak TercapaiTrump ancam hancurkan infrastruktur Iran jika kesepakatan gagal. Ketegangan meningkat jelang berakhirnya gencatan senjata.
Read more »
[POPULER GLOBAL] 4 Skenario jika Perundingan AS-Iran Gagal | Kapal Terkait Iran DisergapRangkuman berita internasional terpopuler dari Kompas.com edisi Selasa (22/4/2026).
Read more »
Trump Perpanjang Gencatan Senjata tapi Blokade Iran Tetap Berlanjut, Apa yang Terjadi?Trump perpanjang gencatan senjata AS-Iran demi negosiasi, namun blokade pelabuhan Iran tetap berlanjut.
Read more »
Kapal Iran Tembak Kapal Kontainer Dekat Oman, Ketegangan AS-Iran MeningkatInsiden penembakan oleh kapal Iran terhadap kapal kontainer di dekat Oman terjadi setelah perpanjangan gencatan senjata oleh Trump, meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik AS-Iran. Iran menuduh AS melanggar gencatan senjata, sementara AS melanjutkan blokade terhadap pelabuhan Iran.
Read more »
Trump: Tak ada 'kerangka waktu' untuk akhiri perang dengan IranPresiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Rabu (22/4), mengatakan bahwa "tidak ada kerangka waktu" untuk mengakhiri perang AS-Israel dengan Iran. ...
Read more »
Utusan Donald Trump Ingin Timnas Italia Gantikan Iran di Piala Dunia 2026Utusan Donald Trump meminta FIFA untuk menunjuk Timnas Italia sebagai pengganti Iran di Piala Dunia 2026.
Read more »
