Pertemuan Meja Bundar Tingkat Tinggi ASEAN di Filipina membahas pengelolaan migrasi tenaga kerja yang adil dan aman, dengan fokus pada perlindungan hak-hak migran dan penguatan kerja sama regional. Filipina, sebagai Ketua ASEAN 2026, memimpin upaya ini.
Para perwakilan dari negara-negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara ( ASEAN ) baru-baru ini berpartisipasi dalam Pertemuan Meja Bundar Tingkat Tinggi ASEAN yang diadakan di Filipina pada tanggal 24 April 2026.
Pertemuan ini mengangkat tema penting yaitu 'Migrasi di Persimpangan Jalan: Memajukan Kerja Sama Regional yang Berorientasi pada Solusi di Asia Tenggara'. Pertemuan ini menjadi platform penting bagi negara-negara anggota untuk membahas dan merumuskan strategi terkait pengelolaan migrasi tenaga kerja di kawasan ini. Filipina, sebagai Ketua ASEAN tahun 2026, menunjukkan komitmen kuat untuk memimpin upaya regional dalam memastikan migrasi tenaga kerja yang adil, tertib, aman, dan teratur.
Komitmen ini diungkapkan oleh Penjabat Menteri Ketenagakerjaan Filipina, Benedicto Ernesto R. Bitonio, yang menekankan pentingnya dialog, kerja sama, dan inisiatif regional yang menjunjung tinggi hak dan martabat para migran serta keluarga mereka. Lebih lanjut, Menteri Pekerja Migran Filipina, Hans Leo J. Cacdac, menegaskan bahwa Filipina akan terus memprioritaskan pekerja migran dalam setiap kebijakan yang diambil, serta memperkuat perlindungan, kesiapan, dan kerja sama regional dalam menghadapi kompleksitas mobilitas tenaga kerja yang semakin meningkat.
Pertemuan ini diselenggarakan oleh Departemen Pekerja Migran dan Departemen Ketenagakerjaan Filipina, bekerja sama dengan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), dan didukung oleh Sekretariat ASEAN. Pertemuan Meja Bundar Tingkat Tinggi ASEAN ini berfokus pada beberapa isu krusial terkait migrasi tenaga kerja. Diskusi mendalam dilakukan mengenai perlindungan hak-hak pekerja migran, termasuk memastikan akses terhadap jalur migrasi yang aman dan teratur.
Para peserta mengakui bahwa mobilitas tenaga kerja di Asia Tenggara semakin kompleks, dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pertumbuhan ekonomi, perubahan demografis, urbanisasi yang pesat, transformasi digital, dan berbagai guncangan global lainnya. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2024, lebih dari 24 juta migran internasional berasal dari negara-negara anggota ASEAN, sementara ASEAN sendiri menampung sekitar 11 juta migran internasional, termasuk 7 juta migran intra-ASEAN. Angka-angka ini menggarisbawahi tingginya tingkat keterkaitan mobilitas tenaga kerja di kawasan ini.
Selain itu, diskusi juga menyoroti dampak perkembangan global terhadap pekerja migran, keluarga mereka, dan komunitas tempat mereka berasal. Oleh karena itu, para peserta sepakat bahwa diperlukan respons regional yang terkoordinasi, berorientasi pada perlindungan, dan memiliki visi ke depan untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut. ASEAN menegaskan bahwa migrasi, jika dikelola dengan baik, dapat menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi dan sosial di kawasan ini.
Hal ini dapat dicapai melalui perluasan jalur migrasi yang aman dan teratur, peningkatan mobilitas tenaga kerja, pengembangan keterampilan, penguatan perlindungan, dan peningkatan akses terhadap informasi, layanan, dan sistem pendukung. Lebih lanjut, negara-negara anggota ASEAN sepakat untuk memperkuat sistem perlindungan pekerja migran dan mengarusutamakan standar perekrutan yang adil dan etis. Mereka juga mendukung program kepulangan yang aman dan reintegrasi berkelanjutan bagi para migran yang kembali ke negara asal mereka.
Selain itu, negara-negara anggota ASEAN berencana untuk memperkuat kemitraan multilateral dan bilateral dalam bidang migrasi tenaga kerja. Diskusi juga menekankan pentingnya tata kelola migrasi yang adaptif dan berbasis risiko, yang mampu menghadapi tantangan-tantangan di masa depan. IOM menegaskan kembali komitmennya sebagai mitra jangka panjang ASEAN dalam pengelolaan migrasi, dan menyoroti sifat lintas sektoral dari isu migrasi.
Pertemuan ini diselenggarakan menjelang Forum Tinjauan Migrasi Internasional (IMRF) dan Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke-48, serta menjadi bagian dari agenda Pertemuan Pejabat Senior Tenaga Kerja ASEAN (SLOM) dalam Rencana Aksi 2026-2030 untuk perlindungan pekerja migran. Pertemuan ini menunjukkan komitmen kuat ASEAN untuk menciptakan lingkungan migrasi yang lebih aman, teratur, dan bermanfaat bagi semua pihak yang terlibat. Upaya ini sejalan dengan tema ASEAN 2026 di bawah kepemimpinan Filipina, yaitu 'Mengarungi Masa Depan Bersama'
ASEAN Migrasi Tenaga Kerja Filipina Perlindungan Migran Kerja Sama Regional
United States Latest News, United States Headlines
Similar News:You can also read news stories similar to this one that we have collected from other news sources.
May Day 2026, Menaker Yassierli Tegaskan Negara Komitmen Lindungi Pekerja hingga ke Tengah LautPortal berita yang menyajikan informasi terhangat baik peristiwa politik, entertainment dan lain lain
Read more »
Hardiknas, Seskab dukung kolaborasi majukan pendidikan IndonesiaSekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya mendukung komunitas pendidikan agar terus berkolaborasi dengan pemerintah dalam melakukan berbagai upaya ...
Read more »
China dan ASEAN luncurkan proyek kerja sama manajemen bencanaUpacara peluncuran proyek kerja sama penanggulangan bencana China-ASEAN digelar pada Kamis di Sekretariat ASEAN di Jakarta, Indonesia.Sekretaris Jenderal ...
Read more »
ASEAN dan China Jalin Kerja Sama Manajemen BencanaChina dan Asia Tenggara (ASEAN) resmi menandatangani kerja sama manajemen bencana pada Kamis (30/4/2026) di Jakarta.
Read more »
Upaya bersama majukan desa lewat KopilaborasiPemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo, Jawa Timur, menaruh perhatian serius untuk mendorong potensi desa yang tertuang dalam rangkaian kegiatan bertajuk ...
Read more »
Rano: Kolaborasi kunci majukan industri hadapi ketidakpastian globalWakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengatakan kolaborasi antara pemerintah, pekerja dan pengusaha menjadi kunci dalam memajukan industri menghadapi ...
Read more »
