Nadine Chandrawinata, Reza Rahadian, dan Syakir Daulay hanya beberapa pesohor yang menggunakan MRT. Transportasi yang rapi mendorong penumpang untuk ikut menjaganya.
Manusia menciptakan perangkat, ruang, gedung, hingga kota yang pada akhirnya membentuk perilaku manusia itu sendiri. Premis ini juga berlaku pada sarana transportasi publik. April ini, genap tujuh tahun moda raya terpadu alias MRT beroperasi di Jakarta.
Lebih dari sekadar transportasi, MRT juga menjadi etalase-perilaku kaum urban Jakarta yang ternyata bisa lebih genah beradab. Malam itu, MRT jurusan Lebak Bulus berhenti di Stasiun MRT Senayan Mastercard, Rabu . Pintu terbuka. Di dalam gerbong, penumpang berjubel dan sebagian berdiri. Di antara mereka yang berdiri itu ada aktor Reza Rahadian tengah berpegangan padasambil bersandar di dinding gerbong untuk menjaga keseimbangan. Dia bercengkrama dengan manajernya, Arya Ibrahim, dan aktor Ali Fikry Assegaf. Reza santai saja dan menikmati suasana di dalam gerbong MRT. Sesekali terdengar dia tertawa. Penumpang lain pun bersikap wajar selayaknya bertemu penumpang lain, bukan aktor tersohor. Sama sekali tak terjadi kegaduhan atau kehebohan orang-orang yang berebut meminta foto bersama dengannya. Hanya seorang penumpang yang dengan sopan dan sedikit sungkan meminta foto bersama dan Reza pun melayaninya dengan santai.Reza baru saja menghadiri di kantor Soraya Intercine Films, Jakarta. Dalam film itu, Reza berperan sebagai Pramuja yang beradu peran dengan Luna Maya . kalangan pesohor seperti dirinya di ruang publik. MRT menjadi semesta tersendiri, di mana penggunanya cenderung cukup beradab untuk tidak menerabas ruang personal orang lain, sekalipun pesohor yang amat terkenal. ”Semesta MRT” mendorong orang menjadi segan bertingkah sembarangan dan ”terpaksa” beradab. Pesohor lain, Syakir Daulay, juga rutin menumpang transportasi umum, termasuk MRT. Aktor muda yang membintangi berbagai film, misalnya, itu tak mengkhawatirkan soal privasi saat menumpang MRT. Ia malah menikmati kesempatan berbaur dengan banyak penumpang sebagai”Seenggaknya, seminggu sekali naik transum, transportasi umum. Ada satu atau dua orang yang kenal atau menyapa, tapi aku jadikan bagian dari bersosialisasi,” ujarnya. Syakir juga tak peduli rambutnya jadi kurang rapi karena berjejal-jejalan di transum. Setelah sampai di tujuan, ia tinggal menyisir lagi. Tak bisa dimungkiri, kenyamanan MRT dengan aturan dan etika yang ditegakkan membuat kaum urban termasuk figur-figur publik merasa aman dan nyaman. Siapa pun, ketika menumpang MRT, seperti mau tak mau jadi berperilaku lebih beradab, ikut aturan dan etika. Salah satu yang paling sederhana danDi media sosial, banyak pembuat konten dari kalangan ekspatriat pun memuji performa dan kenyamanan MRT di Jakarta yang bahkan dinilai lebih baik daripada di Paris, New York, atau London.kehidupan sehari-hari di Jakarta. Salah satu unggahan di akun Instagramnya, @chrisintranslation, ia memuji kenyamanan MRT yang menurut dia jauh lebih baik dari kampung halamannya. Selain tak sebersih MRT Jakarta, keretaKehadiran MRT di Jakarta yang juga merepresentasi simbol peradaban modern pada akhirnya menjadi seperti wahana rekreasi bagi orang dari daerah lain. Pelesir ke Jakarta seolah belum lengkap kalau belum mencicipi MRT. Seperti yang dijalani kakak beradik Artanti dan Renata . Lebaran lalu, di sela waktu menyambangi keluarga selama sepekan, salah satuwajib mereka berdua di Jakarta adalah menjajal MRT. Sarana transum publik semacam itu belum ada di daerah asal mereka, Sidoarjo, Jawa Timur. Senin pagi, mereka sudah naik MRT dari Lebak Bulus ke Bundaran HI. Mereka juga berhenti di beberapa stasiun untuk berjalan-jalan, termasuk makan siang. ”Senang juga jadi serba dekat dan nyaman ke mana-mana,” ujar Artanti, mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya, Jatim.reliable alias bisa diandalkan. Ia menyetir mobil dari rumahnya di Serpong, Tangerang Selatan, Banten. ”Parkir di Lebak Bulus terus naik MRT ke Setiabudi. Total, kurang dari satu jam sudah sampai kantor,” kata penumpang komuter sejak 2023 tersebut.Tedjo, yang pernah kuliah di Belanda itu, membandingkan transum sejenis di Eropa. Di Perancis, gerbongnya malah kotor. Pegawai perbankan tersebut beberapa kali juga melihat figur publik naik MRT. Anies Baswedan, contohnya, diajak beberapa orang berfoto, tetapi masih dalam taraf yang wajar, tidak sampai heboh dan mengganggu. Selebritas seperti Nadine Chandrawinata pun menggunakan jasa MRT setidaknya dua hingga tiga kali, terutama untuk bekerja. Apalagi jika lokasi yang dituju ada di tengah kota yang biasanya macet. Bahkan, ia beberapa kali sudah mengenakan kostum lengkap.) tak memicu keraguan Nadine yang pernah mengajak kedua anaknya naik MRT. ”Mungkin karena pengalaman model jadi terbiasa pakaidan kostum lengkap. Apalagi, ada lift dan eskalator, jadi enggak repot naik turun,” tambahnya. Penampilan para penumpang MRT pun menarik untuk diamati. Mulai dari mengenakan jas dan dasi hingga gayayang eksentrik. Tak sedikit pula muda-mudi berkostum ala Anime yang naik turun di Blok M. Belum lagi suporter klub sepak bola yang kadang ”beringas” sontak jadi anak manis dan beradab saat naik MRT. Siapa pun bisa nyaman di MRT dengan penampilan semenyolok apa pun, tanpa menuai pandangan aneh dari penumpang lain.Apakah memang sarana yang apik membentuk perilaku kaum urban sehingga ikut menjaga MRT karena rasa memiliki . Punya karakteristik masyarakat berbeda dengan kota-kota lain di dunia, di mana kelas sosialnya lebih beragam,” tuturnya. Setelah tujuh tahun, habitus MRT dengan potret keberadabannya itu seharusnya sudah bisa menjangkiti seluruh kota. Lebih dari sekadar transportasi, MRT juga menjadi etalase-perilaku kaum urban Jakarta yang ternyata bisa lebih genah beradab. Malam itu, MRT jurusan Lebak Bulus berhenti di Stasiun MRT Senayan Mastercard, Rabu . Pintu terbuka. Di dalam gerbong, penumpang berjubel dan sebagian berdiri. Di antara mereka yang berdiri itu ada aktor Reza Rahadian tengah berpegangan padasambil bersandar di dinding gerbong untuk menjaga keseimbangan. Dia bercengkrama dengan manajernya, Arya Ibrahim, dan aktor Ali Fikry Assegaf. Reza santai saja dan menikmati suasana di dalam gerbong MRT. Sesekali terdengar dia tertawa. Penumpang lain pun bersikap wajar selayaknya bertemu penumpang lain, bukan aktor tersohor. Sama sekali tak terjadi kegaduhan atau kehebohan orang-orang yang berebut meminta foto bersama dengannya. Hanya seorang penumpang yang dengan sopan dan sedikit sungkan meminta foto bersama dan Reza pun melayaninya dengan santai.Reza baru saja menghadiri di kantor Soraya Intercine Films, Jakarta. Dalam film itu, Reza berperan sebagai Pramuja yang beradu peran dengan Luna Maya . kalangan pesohor seperti dirinya di ruang publik. MRT menjadi semesta tersendiri, di mana penggunanya cenderung cukup beradab untuk tidak menerabas ruang personal orang lain, sekalipun pesohor yang amat terkenal. ”Semesta MRT” mendorong orang menjadi segan bertingkah sembarangan dan ”terpaksa” beradab. Pesohor lain, Syakir Daulay, juga rutin menumpang transportasi umum, termasuk MRT. Aktor muda yang membintangi berbagai film, misalnya, itu tak mengkhawatirkan soal privasi saat menumpang MRT. Ia malah menikmati kesempatan berbaur dengan banyak penumpang sebagai”Seenggaknya, seminggu sekali naik transum, transportasi umum. Ada satu atau dua orang yang kenal atau menyapa, tapi aku jadikan bagian dari bersosialisasi,” ujarnya. Syakir juga tak peduli rambutnya jadi kurang rapi karena berjejal-jejalan di transum. Setelah sampai di tujuan, ia tinggal menyisir lagi. Tak bisa dimungkiri, kenyamanan MRT dengan aturan dan etika yang ditegakkan membuat kaum urban termasuk figur-figur publik merasa aman dan nyaman. Siapa pun, ketika menumpang MRT, seperti mau tak mau jadi berperilaku lebih beradab, ikut aturan dan etika. Salah satu yang paling sederhana danDi media sosial, banyak pembuat konten dari kalangan ekspatriat pun memuji performa dan kenyamanan MRT di Jakarta yang bahkan dinilai lebih baik daripada di Paris, New York, atau London.kehidupan sehari-hari di Jakarta. Salah satu unggahan di akun Instagramnya, @chrisintranslation, ia memuji kenyamanan MRT yang menurut dia jauh lebih baik dari kampung halamannya. Selain tak sebersih MRT Jakarta, keretaKehadiran MRT di Jakarta yang juga merepresentasi simbol peradaban modern pada akhirnya menjadi seperti wahana rekreasi bagi orang dari daerah lain. Pelesir ke Jakarta seolah belum lengkap kalau belum mencicipi MRT. Seperti yang dijalani kakak beradik Artanti dan Renata . Lebaran lalu, di sela waktu menyambangi keluarga selama sepekan, salah satuwajib mereka berdua di Jakarta adalah menjajal MRT. Sarana transum publik semacam itu belum ada di daerah asal mereka, Sidoarjo, Jawa Timur. Senin pagi, mereka sudah naik MRT dari Lebak Bulus ke Bundaran HI. Mereka juga berhenti di beberapa stasiun untuk berjalan-jalan, termasuk makan siang. ”Senang juga jadi serba dekat dan nyaman ke mana-mana,” ujar Artanti, mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya, Jatim.reliable alias bisa diandalkan. Ia menyetir mobil dari rumahnya di Serpong, Tangerang Selatan, Banten. ”Parkir di Lebak Bulus terus naik MRT ke Setiabudi. Total, kurang dari satu jam sudah sampai kantor,” kata penumpang komuter sejak 2023 tersebut.Tedjo, yang pernah kuliah di Belanda itu, membandingkan transum sejenis di Eropa. Di Perancis, gerbongnya malah kotor. Pegawai perbankan tersebut beberapa kali juga melihat figur publik naik MRT. Anies Baswedan, contohnya, diajak beberapa orang berfoto, tetapi masih dalam taraf yang wajar, tidak sampai heboh dan mengganggu. Selebritas seperti Nadine Chandrawinata pun menggunakan jasa MRT setidaknya dua hingga tiga kali, terutama untuk bekerja. Apalagi jika lokasi yang dituju ada di tengah kota yang biasanya macet. Bahkan, ia beberapa kali sudah mengenakan kostum lengkap.) tak memicu keraguan Nadine yang pernah mengajak kedua anaknya naik MRT. ”Mungkin karena pengalaman model jadi terbiasa pakaidan kostum lengkap. Apalagi, ada lift dan eskalator, jadi enggak repot naik turun,” tambahnya. Penampilan para penumpang MRT pun menarik untuk diamati. Mulai dari mengenakan jas dan dasi hingga gayayang eksentrik. Tak sedikit pula muda-mudi berkostum ala Anime yang naik turun di Blok M. Belum lagi suporter klub sepak bola yang kadang ”beringas” sontak jadi anak manis dan beradab saat naik MRT. Siapa pun bisa nyaman di MRT dengan penampilan semenyolok apa pun, tanpa menuai pandangan aneh dari penumpang lain.Apakah memang sarana yang apik membentuk perilaku kaum urban sehingga ikut menjaga MRT karena rasa memiliki . Punya karakteristik masyarakat berbeda dengan kota-kota lain di dunia, di mana kelas sosialnya lebih beragam,” tuturnya. Setelah tujuh tahun, habitus MRT dengan potret keberadabannya itu seharusnya sudah bisa menjangkiti seluruh kota.
Nadine Chandrawinata Reza Rahadian Syakir Daulay Peradaban Urban Gaya Hidup Transportasi Umum Kompas Urbana Utama X-Hide-Inspire-Me
United States Latest News, United States Headlines
Similar News:You can also read news stories similar to this one that we have collected from other news sources.
Sekda Provinsi DKI Jakarta Uus Kuswanto Diangkat Jadi Komisaris MRTPT MRT Jakarta mengumumkan perubahan dewan komisaris. Dodik Wijanarno diberhentikan, Uus Kuswanto diangkat.
Read more »
Sekda DKI Uus Kuswanto Jadi Komisaris MRT JakartaKeputusan ini berdasarkan para pemegang saham di luar Rapat Umum Pemegang Saham PT MRT Jakarta (Perseroda) tentang Perubahan Susunan Dewan Komisaris tanggal 10 Maret 2026
Read more »
Sekda DKI Uus Kuswanto diangkat jadi Komisaris MRT JakartaSekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta, Uus Kuswanto diangkat menjadi salah satu Komisaris PT MRT Jakarta (Perseroda).Keputusan ini berdasarkan para pemegang ...
Read more »
Sekda DKI Uus Kuswanto Diangkat Jadi Komisaris MRT Jakarta, Gantikan Dodik WijanarkoPerubahan susunan komisaris ini didasarkan pada Keputusan Para Pemegang Saham di luar Rapat Umum Pemegang Saham tertanggal 10 Maret 2026.
Read more »
MRT Jakarta Rombak Dewan Komisaris, Uus Kuswanto Masuk Gantikan Dodik WijanarkoPortal berita yang menyajikan informasi terhangat baik peristiwa politik, entertainment dan lain lain
Read more »
7 Potret Ruang Makan Rumah Rieta Amilia, Compact tapi NyamanRayakan Lebaran bersama anak, cucu, dan kerabat, intip potret ruang makan rumah Rieta Amilia ini.
Read more »
