Banyak ”ahli” tampil sebagai analis perang. Namun, benarkah mereka memiliki kompetensi? Media massa diminta berhati-hati dan periksa rekam jejak narasumbernya.
Banyak ”ahli” tampil sebagai analis perang. Namun, benarkah mereka memiliki kompetensi? Media massa diminta berhati-hati dan periksa rekam jejak narasumbernya., dan media sosial menyuguhkan komentar dan analisis perang yang marak belakangan ini.
Terutama perang Amerika Serikat-Israel lawan Iran. Forum analisis tersebut menampilkan para figur yang mengaku atau diberi predikat sebagai ”ahli geopolitik, geostrategi, atau geoekonomi”. Mengamati ruang publik dan media massa di Indonesia, menurut Henny, timbul pertanyaan: Apakah mereka yang tampil sebagai ”ahli” itu benar-benar memiliki kompetensi? Ataukah yang tampak hanyalah ”citra keahlian” berdasarkanalias ”pakar semu”. Pakar semacam ini bahkan ada yang berasal dari kalangan akademisi.televisi nasional menampilkan ”pakar” yang terbatas penguasaan data akurat dan mutakhirnya serta tak berbasis kerangka teoretik dan strategis yang memadai. Saya sendiri tidak punya pengetahuan untuk menganalisis perang Iran lawan AS-Israel yang berimplikasi luas pada berbagai aspek dan terasa dampaknya ke seluruh dunia. Namun, sebagai khalayak awam, kadang timbul juga skeptisisme. Betulkah seperti itu? Apa rujukannya? Apakah sesederhana itu? Memadaikah konteks empirik dan historikal analisisnya? Kebetulan sebagai peminat amatir masalah kemiliteran, pertahanan, dan alutsista, mulai awal 1970-an, semenjak 1975 hingga akhir 1980-an, saya menulis artikel populer di sejumlah surat kabar, termasuk. Menurut saya, pada umumnya para pakar perlu juga memahami aspek kemiliteran dan persenjataan/alutsista yang digunakan dalam perang Iran lawan AS-Israel. Tentu ada pengecualian, beberapa komentator sangat mumpuni. Pengetahuan sisi kemiliteran dan alutsista berimplikasi pada ketajaman analisis sang pakar, terutama jika fokusnya adalah aspek pertempuran dan strategi militer. Ada beberapa langkah perbaikan yang ditawarkan Henny Saptatia, antara lain media harus memeriksa rekam jejak keahlian para pakar sebagai narasumber dan tidak mengandalkan popularitas semata. Di tengah berkecamuknya peperangan yang menimbulkan kecemasan, menurut saya, publik membutuhkan narasi berbasis data akurat, merujuk pada kerangka teoretik yang relevan, dan disajikan secara populer., dan media sosial menyuguhkan komentar dan analisis perang yang marak belakangan ini. Terutama perang Amerika Serikat-Israel lawan Iran. Forum analisis tersebut menampilkan para figur yang mengaku atau diberi predikat sebagai ”ahli geopolitik, geostrategi, atau geoekonomi”. Mengamati ruang publik dan media massa di Indonesia, menurut Henny, timbul pertanyaan: Apakah mereka yang tampil sebagai ”ahli” itu benar-benar memiliki kompetensi? Ataukah yang tampak hanyalah ”citra keahlian” berdasarkanalias ”pakar semu”. Pakar semacam ini bahkan ada yang berasal dari kalangan akademisi.televisi nasional menampilkan ”pakar” yang terbatas penguasaan data akurat dan mutakhirnya serta tak berbasis kerangka teoretik dan strategis yang memadai. Saya sendiri tidak punya pengetahuan untuk menganalisis perang Iran lawan AS-Israel yang berimplikasi luas pada berbagai aspek dan terasa dampaknya ke seluruh dunia. Namun, sebagai khalayak awam, kadang timbul juga skeptisisme. Betulkah seperti itu? Apa rujukannya? Apakah sesederhana itu? Memadaikah konteks empirik dan historikal analisisnya?Kebetulan sebagai peminat amatir masalah kemiliteran, pertahanan, dan alutsista, mulai awal 1970-an, semenjak 1975 hingga akhir 1980-an, saya menulis artikel populer di sejumlah surat kabar, termasuk. Menurut saya, pada umumnya para pakar perlu juga memahami aspek kemiliteran dan persenjataan/alutsista yang digunakan dalam perang Iran lawan AS-Israel. Tentu ada pengecualian, beberapa komentator sangat mumpuni. Pengetahuan sisi kemiliteran dan alutsista berimplikasi pada ketajaman analisis sang pakar, terutama jika fokusnya adalah aspek pertempuran dan strategi militer. Ada beberapa langkah perbaikan yang ditawarkan Henny Saptatia, antara lain media harus memeriksa rekam jejak keahlian para pakar sebagai narasumber dan tidak mengandalkan popularitas semata. Di tengah berkecamuknya peperangan yang menimbulkan kecemasan, menurut saya, publik membutuhkan narasi berbasis data akurat, merujuk pada kerangka teoretik yang relevan, dan disajikan secara populer.
Surat Pembaca Pakar Semu Pseudo-Expert X-Hide-Give-Me-Perspective
United States Latest News, United States Headlines
Similar News:You can also read news stories similar to this one that we have collected from other news sources.
Proses Berjalan, Pakar Ingatkan Publik Tak Responsif Usai Kabais TNI MundurPublik tidak perlu responsif dalam menyikapi langkah Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI Letnan Jenderal Yudi Abrimantyo yang mundur dari
Read more »
Pakar Unja: Regulasi Perlindungan Anak di Dunia Digital Jadi Investasi Jangka PanjangAdanya regulasi perlindungan anak di ranah digital merupakan investasi jangka panjang.
Read more »
Pakar: Pembatasan medsos anak perlu pendekatan edukatifPakar Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Prof Mite Setiansah menilai kebijakan pembatasan media sosial (medsos) bagi anak perlu ...
Read more »
Pakar minta OJK perketat pengawasan industri pindarKonsultan dan Perencana Keuangan Elvi Diana CFP meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK), khususnya Departemen Pengawasan Financial Technology (Fintech), untuk ...
Read more »
Paus Leo XIV: Yesus Menolak Doa Pengobar PerangYesus adalah Raja Damai, yang menolak perang, yang tidak dapat digunakan siapa pun untuk membenarkan perang.
Read more »
”Redaksi Yth”: Penerima Beasiswa LPDPTriliunan rupiah uang rakyat digelontorkan untuk LPDP demi tujuan mulia, yaitu meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia.
Read more »
