Fenomena buzzer alias pendengung tidaklah baru di zaman demokrasi sekaligus era digital. Kehadirannya membikin riuh rendah media sosial...
Indonesiana.ID | 01/10/2019 14:21 INDONESIANA.ID - Fenomena buzzer alias pendengung tidaklah baru di zaman demokrasi sekaligus era digital. Kehadirannya membikin riuh rendah media sosial, dan amat bising ketika masa kampanye pemilihan presiden lalu.
Tulisan itu juga menggambarkan adanya dugaan para buzzer di balik kabar tentang ambulans berlogo pemerintah DKI Jakarta yang berisi batu saat unjuk rasa pelajar sekolah menengah atas pekan lalu. Begitu pula dalam kasus seleksi calon pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi dan revisi Undang-Undang KPK. Para pendengung dinilai menyebarkan agitasi bahwa lembaga itu dikuasai kelompok agama garis keras yang mereka sebut Taliban. Mereka menyebut Novel Baswedan, penyidik yang dikenal gigih mengusut pelbagai kasus korupsi jumbo, sebagai antek khilafah. Produk gagal demokrasi?
Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama
Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.
Ulah Buzzer Pendukung Jokowi: Berbahaya dan Produk Gagal Demokrasi? - Analisa - www.indonesiana.idFenomena buzzer alias pendengung tidaklah baru di zaman demokrasi sekaligus era digital. Kehadirannya membikin riuh rendah di media sosial, dan amat bising ketika masa kampanye pemilihan presiden lalu.
Baca lebih lajut »
Hasil Sidang Komdis PSSI, Persija Didenda Akibat Ulah SuporternyaPersija didenda Rp30 juta akibat ulah suporter mereka yang masuk ke area sentle ban dan pelemparan botol pada laga kontra Bali United.
Baca lebih lajut »
Saatnya Menertibkan BuzzerJokowi harus mengendalikan pendengungnya, yang makin lama makin ngawur. Berpotensi merusak demokrasi.
Baca lebih lajut »