Jokowi harus mengendalikan pendengungnya, yang makin lama makin ngawur. Berpotensi merusak demokrasi.
TINGKAH buzzer pendukung Presiden Joko Widodo makin lama makin membahayakan demokrasi di negeri ini. Berbagai kabar bohong mereka sebarkan dan gaungkan di media sosial untuk mempengaruhi opini dan sikap publik. Para pendengung menjadi bagian dari kepentingan politik jangka pendek: mengamankan kebijakan pemerintah.Para pendengung itulah yang pertama kali menyebarkan kabar tentang ambulans berlogo pemerintah DKI Jakarta yang berisi batu saat unjuk rasa pelajar sekolah menengah atas pekan lalu.
Diterpa arus informasi yang masif dari para pendengung yang saling menggaungkan pesan, para pendukung Jokowi yang tidak melakukan verifikasi ikut-ikutan mendukung sikap tersebut dan menghujat mereka yang berbeda pandangan.Para pendengung agaknya punya hubungan kuat dengan penguasa dan aparat negara. Mereka bisa dengan mudah mendapatkan profil pihak yang dianggap sebagai lawan, seperti kartu tanda penduduk, nomor telepon, bahkan jenis telepon seluler yang digunakan.
Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama
Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.
Tokoh Minangkabau Minta Tak Ada Balas DendamSaatnya masyarakat Minangkabau menjalankan filosofi keminangkabauan.
Baca lebih lajut »
Pakar: Saatnya Bali pelopori kajian ilmiah tembakau alternatifPakar kesehatan yang juga dokter spesialis penyakit dalam dr Kadek Dian Lestari MBiomed, SpPD, mengusulkan Pemerintah Provinsi Bali untuk memelopori kajian ...
Baca lebih lajut »
Adon Keluar Dari Base Jam, Setelah 25 Tahun BersamaAdon tidak mengungkapkan alasan ia hengkang dari Base Jam yang begitu populer di era 90-an ini. Tapi ia menilai, saatnya memilih jalan sendiri.
Baca lebih lajut »
Ulah Buzzer Pendukung Jokowi: Berbahaya dan Produk Gagal Demokrasi? - Analisa - www.indonesiana.idFenomena buzzer alias pendengung tidaklah baru di zaman demokrasi sekaligus era digital. Kehadirannya membikin riuh rendah di media sosial, dan amat bising ketika masa kampanye pemilihan presiden lalu.
Baca lebih lajut »