Indikator Politik sejak Juli menggelar survei terhadap tokoh terkait pandemi Covid.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sejak awal Juli lalu, lembaga survei Indikator melakukan jejak pendapat pada elite opinion maker dari berbagai latar belakang di Indonesia. Hasilnya, mayoritas pemuka opini itu memandang bahwa rapid test tidak efektif.
"Sekitar 56,9 persen elite atau opinion maker itu menganggap bahwa rapid test tidak efektif,’’ ujar Direktur Eksekutif Survei Indikator Burhanuddin Muhtadi, Kamis . Baca Juga Namun demikian, hal itu ia sebut berbanding terbalik dengan pelaksanaan protokol kesehatan yang diberlakukan oleh pemerintah. Khususnya dalam menjaga jarak, menggunakan masker di tempat umum hingga mencuci tangan.
"Dalam adaptasi kebiasaan baru, elite tersebut juga cenderung lebih memaknai protokol kesehatan daripada masyarakat umum. Termasuk stay at home, jadi elite lebih tinggi pemahamannya, meski itu bukan hal baru," kata dia. Burhanuddin menambahkan, dalam survei yang dilakukan pada pemuka opini yang di antaranya adalah akademisi, pemimpin media, kepala daerah, peneliti, kepala NGO, pemuka agama dan lainnya itu, memandang kinerja terhadap pemerintah lebih kritis.
Bahkan, elite dalam survei Indikator, memandang jika pemprov dalam menangani Covid-19 dari segi pelaksanaan dan pencegahan, lebih baik daripada pemerintah pusat.Dia menjelaskan, survei indikator memang tidak memiliki data survei pemuka opini sebelumnya. Oleh sebab itu, dari narasumber yang ada, dipilih 304 elite yang kerap mengemukakan pendapatnya dari 20 kota di Indonesia.Dalam survei tersebut ia mengklaim jika tidak ada margin or error.
Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama
Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.
Survei Indikator: 54,6 Persen Elite Ingin PSBB Dilanjutkan |Republika OnlineIndikator melakukan survei terhadap 304 elite di 20 kota terkait pandemi Covid-19.
Baca lebih lajut »
Survei LIPI: Kelompok Tumah Tangga Masih Ragu Tingkatkan KonsumsiRumah tangga Indonesia terdampak dua sisi secara bersamaan, yaitu kontraksi pendapatan dan keterbatasan ruang konsumsi.
Baca lebih lajut »
Survei SMRC: Mayoritas Warga Keberatan Biayai Belajar OnlineSebanyak 67 persen responden mengaku keberatan dengan biaya belajar via internet anggota keluarganya di tengah pandemi virus corona.
Baca lebih lajut »
Survei SMRC: 92% Siswa dan Mahasiswa Terkendala PJJ DaringSurvei dilakukan kepada 2201 responden yang dipilih secara acak dengan jumlah proporsional menurut provinsi untuk mewakili nasional.
Baca lebih lajut »
Survei SMRC: 67 Persen Responden Kesulitan Sekolah OnlineDi antara mereka, 17 persen responden merasa sangat berat dan 50 persen merasa cukup berat untuk biaya sekolah 'online'.
Baca lebih lajut »