Morrison dinilai tak mengetahui sejarah awal negeri yang dipimpinnya.
REPUBLIKA.CO.ID, CANBERRA -- Perdana Menteri Australia Scott Morrison dibanjiri kritik setelah menyebut tidak ada perbudakan di negaranya. Morrison dianggap tak mengetahui sejarah negeri yang dipimpinnya.
“Perbudakan penduduk asli, pria, wanita, dan anak-anak didokumentasikan dengan baik. Budak bekerja di bidang mutiara, perikanan, industri pastoral, dan sebagai pekerja rumah tangga,” kata mantan anggota parlemen federal yang juga menjabat sebagai profesor politik di Monash University, Sharman Stone, Kamis .
Kemudian Morrison dimintai pendapat soal sosok Kapten James Cook. “Ketika Anda berbicara tentang Kapten James Cook, pada masanya dia adalah salah satu orang yang paling tercerahkan tentang masalah-masalah ini yang dapat Anda bayangkan,” katanya, dikutip laman the Guardian.
Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama
Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.
Mahathir Gugat PM Malaysia Muhyiddin ke PengadilanMahathir Mohamad dan empat anggota parlemen dari Partai Bersatu, mengajukan gugatan untuk menantang PM Malaysia Muhyiddin Yassin atas penghentian dari partai.
Baca lebih lajut »
China Prihatin dengan Komentar PM Jepang Soal Hong Kong |Republika OnlineBeijing menegaskan Hong Kong merupakan urusan dalam negeri China.
Baca lebih lajut »
Penembak Mantan PM Swedia Olof Palme Bunuh Diri 20 Tahun LaluStig Ensgtrom, pelaku pembunuhan mantan Perdana Menteri Swedia, Olof Palme, bunuh diri saat diperiksa terkait keterlibatannya.
Baca lebih lajut »
Pembunuhan Eks PM Olof Palme Berakhir Tragis, Ini PenyebabnyaJaksa akhirnya mengumumkan penembak mati eks PM Olof Palme 34 tahun lalu, tokoh dunia berpengaruh, yakni desainer grafis Stig Engstrom.
Baca lebih lajut »
Setelah 30 Tahun, Kasus Pembunuhan Mantan PM Swedia DitutupSiapa pembunuh mantan Perdana Menteri Swedia, Olof Palme, akhirnya dipastikan. Jaksa Krister Petersson menyampaikan bahwa sosok yang membunuh Palme 34 tahun lalu adalah Stig Engstrom.
Baca lebih lajut »