Stigma membuat perilaku kekerasan diidentikkan dengan penderita gangguan jiwa. Padahal, mereka yang yang tidak mengalami gangguan jiwa justru lebih banyak melakukan kekerasan. Humaniora AdadiKompas Baca➡️
“Orang dengan skizofrenia justru lebih banyak jadi korban kekerasan dibanding jadi pelaku, mulai dari dipasung, ditelantarkan, didiskriminasi hingga berbagai tindak tak manusiawi lainnya,” kata Lahargo.
Peningkatan hormon kortisol akan mematikan banyak sel saraf di korteks prefrontal atau otak bagian depan yang berperan dalam pengambilan keputusan logis dan perencanaan. Kortisol berlebih juga mematikan sel saraf di hipokampus, bagian otak yang mengatur memori hingga dia tidak ingat apa yang diucapkan atau dilakukan kita marah.
“Namun, skizofrenia bisa diobati. Jika penderita sejak awal dapat pengobatan adekuat, dia bisa sembuh sempurna hingga bisa berfungsi seperti semula,” katanya. “Jika gejala skizofrenia sudah diobati saat episode pertama muncul, dia bisa sembuh diobati dengan minum obat maksimal 2 tahun,” ujarnya. Kalau diobati saat ditemukan pada episode kedua, waktu minum obat maksimal 5 tahun. Jika diobati pada kekambuhan yang lebih dari tiga kali, maka dia harus menjalani pengobatan seumur hidup.
Di negara maju, pemahaman yang baik tentang kesehatan jiwa membuat pemberdayaan terhadap penderita gangguan jiwa lebih baik dilakukan. Berbagai insentif diberikan pemerintah baik pada penderita maupun keluarga yang memiliki penderita gangguan jiwa. Akibatnya, tingkat produktivitas mereka pun tetap baik.
Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama
Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.
Postingan BPJS Soal Joker Dianggap Stigma yang Kejam pada Gangguan JiwaBPJS Kesehatan menuai kontroversi terkait postingannya di media sosial. Menggunakan sosok Joker, postingan tersebut dinilai memperkuat stigma negatif. BPJSKesehatan via detikHealth
Baca lebih lajut »
Popularitas Film Joker Dibayangi Stigma Negatif Gangguan Jiwa'Film Joker berusaha menjelaskan latar belakang mengapa Joker berkembang menjadi monster. Namun, saya khawatir bahwa penggambarannya akan menambah stigmatisasi lebih lanjut..' via detikHealth
Baca lebih lajut »
Tips Nonton Joker Tak Termakan Stigma Buruk Gangguan JiwaMau nonton film Joker? Sebelum menontonnya, ada baiknya dengarkan saran ini dulu nih agar tidak termakan stigma buruk gangguan jiwa. Joker via detikHealth
Baca lebih lajut »
Pseudobulbar Affect, Gangguan Jiwa Sang 'Joker'Joker selalu terlihat tertawa, bahkan dalam situasi yang tidak tepat.
Baca lebih lajut »
Joker, usaha sendiri, dan gangguan jiwaStatus pekerjaan 'berusaha sendiri' termasuk paling rawan mengalami gejala gangguan jiwa.
Baca lebih lajut »
Unggah Iklan Joker, BPJS Kesehatan Dianggap Buat Stigma bagi ODGJKetua Perhimpunan Jiwa Sehat, Yeni Rosa mengatakan, tak sepatutnya orang gangguan jiwa disamakan dengan tokoh fiktif dalam film Joker ini. Megapolitan
Baca lebih lajut »