Indef memprediksi nilai tukar rupiah bakal masih melemah pada 2020.
TEMPO.CO, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar diprediksi masih akan melemah pada 2020 karena eskalasi perang dagang Amerika Serikat dan Cina belum reda. Wakil Direktur Eksekutif Institute for Development of Economic and Finance atau Indef Eko Listiyanto memprediksi kurs rupiah bakal melampaui asumsi makro pemerintah dalam rencana anggaran pendapatan dan belanja negara atau RAPBN 2020.“Dugaan saya tahun depan bisa sampai Rp 14.
Di sektor sawit, misalnya, volume ekspor diprediksi bakal melorot setelah Uni Eropa memungut bea masuk sebesar 18 persen kepada eksportir Indonesia. Padahal, selama ini ekspor Indonesia salah satunya bergantung pada komoditas sawit. Ia juga menyebut pengembangan negara tujuan ekspor baru seperti Afrika masih sukar dijajaki.“Kemudian mau masuk pasar India juga tarif lebih mahal,” tuturnya.Kondisi ini mengakibatkan volume ekspor Indonesia terhambat.
Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama
Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.
Indef Pesimistis Target APBN 2020 Bakal Sulit TercapaiAdapun untuk asumsi nilai tukar yang berada di kisaran Rp 14.400 per dollar AS pada RAPBN 2020
Baca lebih lajut »
Indef: Pemerintah Ingin Tingkatkan Kualitas SDM Tapi Tak Tecermin di APBN 2020Dalam anggaran belanja pemerintah pada APBN 2020 tidak mencerminkan hal tersebut
Baca lebih lajut »
Indef Dukung Jokowi Beri Gaji Tetap Perangkat DesaIndef mendukung rencana Jokowi menaikan gaji perangkat desa. Menaikan daya beli masyarakat.
Baca lebih lajut »
Indef Sarankan Jokowi Naikkan Status BKPM Jadi KementerianDirektur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad menilai upaya Presiden Joko Widodo membentuk kementerian investasi mubazir.
Baca lebih lajut »
Bulog Salurkan BPNT, Indef: Tak Efektif Kurangi Stok BerasBulog diperkirakan hanya mampu menyalurkan 700 ribu ton beras.
Baca lebih lajut »
Indef Tak Yakin Target Pertumbuhan 5,3 Persen Bakal TercapaiTarget target pertumbuhan ekonomi yang berada pada tingkat 5,3 persen mengandalkan konsumsi dan investasi sebagai motor penggerak utamanya.
Baca lebih lajut »