Dari situ saya belajar asas pertumbuhan: seperti pohon, bertumbuh satu senti dalam sehari.
Setiap kali ada orang buka usaha seperti warung atau toko, ingatan saya melayang pada masa remaja di kampung di kota kecil kelahiran saya. Tetangga sebelah rumah, priayi yang banyak duit, mendadak berniat buka warung.
Didirikanlah bangunan berbentuk kotak di sudut halaman menghadap jalan, terpisah dari rumah induk. Terlihat mentereng dibandingkan warung sederhana milik Babah Ong—demikian kami memanggilnya—yang menjual segala macam kebutuhan sehari-hari bagi lingkungan sekitar. Warung kemudian mulai beroperasi. Segala macam barang digelar.
Ramai orang berdatangan, selain berbelanja juga mengagumi tempat yang gemebyar oleh cahaya neon putih, buka sampai malam. Maklum, waktu itu di kampung kami listrik belum menjangkau semua rumah penduduk. Saya tidak ingat persis seberapa lama warung tadi ramai, sebelum perlahan-lahan surut. Warung mulai sepi pembeli, barang dagangan tak lagi bertambah, menyusut, sebelum kemudian warung tutup sama sekali.
Bangunan dijadikan kamar tidur anak lelakinya yang seusia saya sekaligus teman sepermainan, ditempeli poster Suzi Quatro. Sehari-hari saya main di situ, main gitar, baca komik dan stensilan berisi cerita porno, dan lain-lain bacaan kecuali buku pelajaran sekolah. Kenangan mengenai warung tersebut bangkit, tatkala puluhan tahun kemudian saya mulai kerja di Jakarta. Teman kantor yang biasa menangani administrasi keuangan, wanita sederhana berkacamata, pensiun.
Beberapa waktu setelah pensiun, tiap sore ia muncul di kantor kami yang bersahabat, menenteng kantong, menawarkan kue yang dikenal dengan sebutan bika ambon. Dia sodorkan irisan-irisan kecil untuk uji rasa dari bika berukuran cukup besar untuk keluarga di rumah. Sebagai bujangan, tinggal di kamar indekos, saya bilang kepada dia, kenapa tidak bikin potongan kecil untuk kami nikmati di tempat karena kebutuhan saya di rumah cuma sebatas tidur. Sore berikutnya dia menyediakan versi potongan.
Kami menikmatinya sambil minum teh dan tentu saja juga sembari mengetik berita. Begitulah kehidupan sederhana kami pada masa itu. Saat-saat berikutnya dia muncul tidak lagi menenteng kantong. Di belakangnya mengekor asisten membawa banyak sekali dagangan, tidak hanya bika ambon tetapi juga pastel, pisang goreng, dan lain-lain.
Ia cukup bersedekap tangan, demikian gaya khas dia yang saya ingat, berjalan sambil mengumpulkan uang. Berikutnya lagi ia tidak masuk kantor menjajakan makanan. Dia membuka warung kopi sederhana, yang seiring waktu menjadi kian besar dan berubah jadi rumah makan. Saya memanggilnya Mbak Saudagri dan ia selalu tertawa ketika saya menyebut demikian.
Dari situ saya belajar asas pertumbuhan: seperti pohon, bertumbuh satu senti dalam sehari. Pernah ketika sejenak sekolah di Inggris, tatkala mengunjungi teman di Sussex saya sengaja menyempatkan diri singgah di distrik kecil bernama Brighton. Di sini Anita Roddick, melalui sebuah toko kecil yang dimaksudkan untuk mendapatkan pemasukan mandiri bagi diri sendiri dan anak-anak, mengawali jaringan bisnis yang namanya kini tidak asing di dunia: The Body Shop. Kisah Anita Roddick dan The Body Shop telah banyak ditulis orang.
Termasuk saat ia meminta para pelanggan membawa kembali botol kosong untuk diisi kembali cairan sabun mandi, sampo, dan lain-lain. Pertimbangan saat itu, ia tidak merasa mampu terus-menerus menyediakan botol. Tak dinyana, ini menjadi ikhwal gerakan daur ulang, berlanjut pada kampanye anti-percobaan terhadap binatang, dan kemudian hak-hak asasi manusia. Dalam kapasitas sebagai wartawan, pernah pula saya diundang untuk mengunjungi pabrik furnitur terkenal di Swedia, Ikea.
Kami, rombongan wartawan, diajak berkeliling dari pabrik,sampai rumah masa kecil Ingvar Kamprad, pendiri Ikea. Dia memulai belajar bisnis sedari remaja, dengan menjual ikat pinggang, pena, dan arloji. Di bawah tempat tidurnya masa itu katanya banyak kardus berisi dagangannya. Tak mudah meringkas perjalanan bisnisnya.
Yang jelas kini Ikea mendunia, selain jualan furnitur di setiap gerainya tersedia kafe yang menjual makanan ala negeri asalnya yangSekarang di negeri kita tengah menggemuruh gerakan buka warung/toko, berjumlah ribuan di desa-desa. Bangunan ada yang didirikan di tengah sawah, tepi hutan, pinggir jurang, dan lain-lain. Entah mengapa, dalam penerawangan saya, bangunan-bangunan tersebut nantinya tidak hanya akan jadi tempat serupa warung tetangga yang kemudian jadi kamar tidur teman saya dulu, tetapi bakal jadi karang hantu.
Didirikanlah bangunan berbentuk kotak di sudut halaman menghadap jalan, terpisah dari rumah induk. Terlihat mentereng dibandingkan warung sederhana milik Babah Ong—demikian kami memanggilnya—yang menjual segala macam kebutuhan sehari-hari bagi lingkungan sekitar.
Warung kemudian mulai beroperasi. Segala macam barang digelar. Ramai orang berdatangan, selain berbelanja juga mengagumi tempat yang gemebyar oleh cahaya neon putih, buka sampai malam. Maklum, waktu itu di kampung kami listrik belum menjangkau semua rumah penduduk.
Saya tidak ingat persis seberapa lama warung tadi ramai, sebelum perlahan-lahan surut. Warung mulai sepi pembeli, barang dagangan tak lagi bertambah, menyusut, sebelum kemudian warung tutup sama sekali. Bangunan dijadikan kamar tidur anak lelakinya yang seusia saya sekaligus teman sepermainan, ditempeli poster Suzi Quatro. Sehari-hari saya main di situ, main gitar, baca komik dan stensilan berisi cerita porno, dan lain-lain bacaan kecuali buku pelajaran sekolah.
Kenangan mengenai warung tersebut bangkit, tatkala puluhan tahun kemudian saya mulai kerja di Jakarta. Teman kantor yang biasa menangani administrasi keuangan, wanita sederhana berkacamata, pensiun. Beberapa waktu setelah pensiun, tiap sore ia muncul di kantor kami yang bersahabat, menenteng kantong, menawarkan kue yang dikenal dengan sebutan bika ambon. Dia sodorkan irisan-irisan kecil untuk uji rasa dari bika berukuran cukup besar untuk keluarga di rumah.
Sebagai bujangan, tinggal di kamar indekos, saya bilang kepada dia, kenapa tidak bikin potongan kecil untuk kami nikmati di tempat karena kebutuhan saya di rumah cuma sebatas tidur. Sore berikutnya dia menyediakan versi potongan. Kami menikmatinya sambil minum teh dan tentu saja juga sembari mengetik berita. Begitulah kehidupan sederhana kami pada masa itu.
Saat-saat berikutnya dia muncul tidak lagi menenteng kantong. Di belakangnya mengekor asisten membawa banyak sekali dagangan, tidak hanya bika ambon tetapi juga pastel, pisang goreng, dan lain-lain. Ia cukup bersedekap tangan, demikian gaya khas dia yang saya ingat, berjalan sambil mengumpulkan uang. Berikutnya lagi ia tidak masuk kantor menjajakan makanan.
Dia membuka warung kopi sederhana, yang seiring waktu menjadi kian besar dan berubah jadi rumah makan. Saya memanggilnya Mbak Saudagri dan ia selalu tertawa ketika saya menyebut demikian. Dari situ saya belajar asas pertumbuhan: seperti pohon, bertumbuh satu senti dalam sehari. Pernah ketika sejenak sekolah di Inggris, tatkala mengunjungi teman di Sussex saya sengaja menyempatkan diri singgah di distrik kecil bernama Brighton.
Di sini Anita Roddick, melalui sebuah toko kecil yang dimaksudkan untuk mendapatkan pemasukan mandiri bagi diri sendiri dan anak-anak, mengawali jaringan bisnis yang namanya kini tidak asing di dunia: The Body Shop. Kisah Anita Roddick dan The Body Shop telah banyak ditulis orang. Termasuk saat ia meminta para pelanggan membawa kembali botol kosong untuk diisi kembali cairan sabun mandi, sampo, dan lain-lain. Pertimbangan saat itu, ia tidak merasa mampu terus-menerus menyediakan botol.
Tak dinyana, ini menjadi ikhwal gerakan daur ulang, berlanjut pada kampanye anti-percobaan terhadap binatang, dan kemudian hak-hak asasi manusia. Dalam kapasitas sebagai wartawan, pernah pula saya diundang untuk mengunjungi pabrik furnitur terkenal di Swedia, Ikea. Kami, rombongan wartawan, diajak berkeliling dari pabrik,sampai rumah masa kecil Ingvar Kamprad, pendiri Ikea. Dia memulai belajar bisnis sedari remaja, dengan menjual ikat pinggang, pena, dan arloji.
Di bawah tempat tidurnya masa itu katanya banyak kardus berisi dagangannya. Tak mudah meringkas perjalanan bisnisnya. Yang jelas kini Ikea mendunia, selain jualan furnitur di setiap gerainya tersedia kafe yang menjual makanan ala negeri asalnya yangSekarang di negeri kita tengah menggemuruh gerakan buka warung/toko, berjumlah ribuan di desa-desa. Bangunan ada yang didirikan di tengah sawah, tepi hutan, pinggir jurang, dan lain-lain.
Entah mengapa, dalam penerawangan saya, bangunan-bangunan tersebut nantinya tidak hanya akan jadi tempat serupa warung tetangga yang kemudian jadi kamar tidur teman saya dulu, tetapi bakal jadi karang hantu.
Udar Rasa Bre Redana Kompas Urbana Merintis Bisnis X-Hide-Give-Me-Perspective
United States Latest News, United States Headlines
Similar News:You can also read news stories similar to this one that we have collected from other news sources.
Tetangga Dekat RI Kaji Rencana Penggunaan Energi NuklirSingapura rencanakan evaluasi pemanfaatan energi nuklir untuk diversifikasi sumber energi, mendukung target emisi nol bersih dengan standar IAEA.
Read more »
Modus Kerja di Warung Pecel Lele, Pelaku Curanmor di Cilandak Jaksel Gasak Motor MajikanPolsek Cilandak bongkar kasus curanmor, salah satu pelaku menyamar jadi karyawan warung sebelum mencuri motor majikan
Read more »
Soto Lamongan Meramaikan Kuliner Solo: Tiga Warung Favorit Mahasiswa dan Warga LokalSolo menambah pilihan kuliner dengan Soto Lamongan berkuah kuning kental dan taburan koya. Tiga warung unggulan-Cak Har, Cak No, dan Pak Wid-menjadi favorit mahasiswa dan warga berkat rasa autentik Jawa Timur, porsi melimpah, dan harga terjangkau.
Read more »
Djokovic tersingkir dari Roland Garros usai kalah dari petenis remajaNovak Djokovic tersingkir dari French Open 2026 setelah kalah dari petenis remaja Joao Foseca yang berusia 20 tahun lebih muda darinya, pada babak ketiga ...
Read more »




