Hidup berkesadaran dan intensional mengubah pola konsumsi sebagian orang. Alih-alih supaya hemat, yang mereka pikirkan adalah, ”Mau disimpan di mana barangnya?”
Praktik konsumsi berkesadaran dan intensional muncul sporadis di masyarakat urban. Praktik ini membuat konsumen berpikir panjang sebelum membeli sesuatu dan motifnya tidak melulu ekonomi. Sebagian orang ingin liberasi, hidup yang tidak dikontrol oleh tumpukan barang yang menuntut atensi.
Mereka mendambakan kedamaian, jeda untuk berpikir, dan ruang untuk merasa secara lebih otentik.di situ, apalagi menjelang hari besar. Banyak banget! Misal ada dua tumpuk, ada kali tumpukannya sepaha aku,” ujar Andra Alodita sambil menunjuk salah satu sudut di rumahnya di bilangan Jakarta Selatan, Selasa .yang ia maksud biasanya dikirim oleh jenama-jenama mode dan kecantikan lokal. Isinya berbagai produk untuk promosi. Andra dikirimi paket karena perannya sebagaiMulanya Andra senang-senang saja menerima paket. Ada keseruan setiap kali membuka paket alias. Kehadiran paket-paket ini juga tanda bahwa jenama lokal tumbuh subur. Tetapi, lama-lama Andra kewalahan. Paket datang silih berganti, menumpuk, dan menuntut segera dibuka. Setiap hari ada keputusan yang harus diambil. Paket mana yang mesti dibuka? Di mana barangnya disimpan? Kapan dan bagaimana barangnya digunakan? Bagaimana mengelola sampahnya? Energi dan waktu Andra banyak tersedot untuk mengurus ini.) karena ”kebanjiran” paket. Tanggung jawab untuk mengelola barang-barang ini sudah melebihi kapasitasnya.unboxing , aku punya tanggung jawab ke sampah dan barangnya. Ada energi yang mesti disiapkan. Tapi, masa, sih, energi kita untukKelelahan ini, ditambah kondisi medis, membuat Andra mantap mengambil jeda karier selama dua tahun. Selama itu, kiriman paket mereda dan lantas hilang. Ia lega luar biasa. Ternyata, hidupnya baik-baik saja tanpa paket dan barang baru.Jeda ini memberi Andra waktu untuk menyortir barang-barang di rumah berdasarkan prioritas, utilitas, dan makna. Ternyata, ada banyak barang di rumah. Sebagian dibeli berdasarkan keinginan, bukan kebutuhan.,” aku Andra yang dulu konsumsinya didorong oleh validasi diri. ”Kebutuhan sudah terpenuhi, tapi mungkin karena aku enggak punya hobi, kesadaran, dan kebijaksanaan diri, jadi mengejarUsai mengurasi barang, tidak hanya rumah yang kian lega, pikiran Andra jadi ikutan jernih. Refleksi diri pun terjadi secara organik dan tanpa pretensi. Ia menyadari bahwa kebahagiaannya tidak bersumber dari barang yang dimiliki, melainkan kenikmatan dari keseharian. Kini, atensi Andra dipusatkan pada keluarga, aroma seduhan kopi di rumah, buku-buku yang tersusun rapi di rak, dan jurnal-jurnal tebal yang diisi saban hari. Kurasi barang pada akhirnya bermuara ke kurasi energi, waktu, dan kegiatan. Basis seleksinya sederhana: semua harus bermakna. Ia menyebutnyaLain lagi dengan pendiri jenama Sare Studio, Cempaka Asriani , yang mempraktikkan konsumsi berkesadaran lewat busana produksinya. Busana itu mengusung mode lambat yang tumbuh dari kejengahan akan tren mode yang berputar terlalu cepat. Saking cepatnya, busana lekas ketinggalan zaman dan tak diinginkan lagi. Sare Studio melawan arus kecepatan. Dalam setahun mereka hanya mengeluarkan empat koleksi. Busana diproduksi dengan bahan dan kerajinan bagus supaya tahan lama. Konsekuensinya ada di harga yang cukup mahal. ”Dulu ada masa kami diskon. Yang beli banyak, tapi konsumen beli karena murah, padahal belum tentu butuh. Kami belajar bahwa semakin dikasih harga murah, semakin konsumen tidak memahami kualitas dan esensi barang yang dijual,” kata Cempaka. Baginya, konsumsi berkesadaran terkait erat dengan pembelian produk berkualitas yang menjanjikan barang berumur panjang. Itu sekaligus jadi mantra Cempaka untuk mengonsumsi barang. Sejak pindah rumah dan mengurasi barangnya yang banyak, Cempaka kini hidup simpel dengan 30 busana di koleksi kapsulnya. Kesederhanaan itu memberi banyak waktu dan energi untuk mengembangkan diri, termasuk belajar bahasa Perancis. Stres pun berhasil dieliminasi dan berujung pada kesembuhan Cempaka dari GERD. Kualitas hidupnya meningkat. ”Dengan hidup lebih sadar, saya pengin lebih tenang, pelan, menikmati proses, lalu lebih kritis dalam melihat segala hal. Jujur, semua ini nyaman banget.”Sebagai pemengaruh di dunia digital, sikap Andra dan Cempaka bisa dibilang melawan arus. Selama ini pemengaruh lekat dengan citra konsumtif, entah untuk mengikuti tren atau demi menjaga citra diri. Di sisi lain, sejujurnya, manusia tidak bisa benar-benar lepas dari konsumsi. Konsumsi niscaya terjadi selama hidup, apalagi jika yang dikonsumsi punya kegunaan dan meningkatkan kualitas hidup. Tetapi, ada perubahan pola konsumsi di era kapitalisme. Konsumsi tidak lagi bertumpu pada utilitas saja, melainkan ”identitas”. Konsumsi kini dilakukan untuk membangun citra, identitas, serta menentukan posisi sosial. Konsumsi menjadi simbolis dan berbatasan tipis dengan konsumerisme. Kalaupun bukan untuk membangun citra, konsumsi bisa terjadi karena terbuai pemasaran yang kian kreatif dan meyakinkan. Tanpa kesadaran yang cukup, sangat mungkin konsumen kehilangan otoritas untuk mengambil keputusan dan berakhir membeli ini-itu. Di dunia konsumsi, realitas konsumen akan yang ”nyata” dan ”tidak nyata” menjadi kabur. Ini karena realitas tidak lagi ditentukan oleh konsumen, tetapi juga dibentuk oleh tren dan iklan yang terus memproduksi citra. FilsufJean Baudrillard menyebut ini simulakra, yakni proses produksi citra atau gambaran yang lantas menjadi ”realitas”. Sebagai contoh, tren dan iklan secara subtil menggaungkan narasi bahwa Anda ”butuh” atau ”jika tidak beli, nanti menyesal”. Katakanlah narasi ini terus-terusan diproduksi, maka akhirnya konsumen akan percaya bahwa mereka ”butuh” dan ”nanti menyesal”. Nada Arini adalah salah satu individu subversif dari produksi narasi itu. Di dunia yang memuja penampilan, Nada bertahan hanya dengan empat pasang alas kaki: satu sepatu, satu sandal jepit, dan dua sandal gunung.milihSikap Nada bertumpu pada kesadaran bahwa tiap pilihannya akan berdampak ke orang lain alias. Itu sebabnya dia pilih-pilih betul untuk membeli barang. Sepotong kaus bisa jadi dihasilkan dari rantai produksi superpanjang. Barang-barang di rumah pun sebisa mungkin digunakan sampai si barang menyerah alias rusak. Misalnya, kulkas dan dispenser airnya berusia 13 tahun dan masih dipertahankan.the shape of our communityMenurut psikolog Unika Atma Jaya Jakarta, Eunike Sri Tyas Suci, gaya hidup berkesadaran dipilih sebagian orang dari kelas ekonomi menengah sampai menengah atas untuk aktualisasi diri. Artinya, kebutuhan dasar mereka sudah terpenuhi. Aktualisasi dicari untuk mencapai kepuasan batin. Dalam konteks ini, publik merasa cukup dengan hal-hal sederhana, namun bernilai tinggi seperti prinsip hidup. Ada pula yang memilih kesederhanaan karena sadar akan keterbatasan kapasitas untuk mengelola hidup.. Bisa tiba-tiba uangnya habis. Secara finansial mungkin tidak apa-apa, tapi barang menumpuk di rumah memberi konsekuensi moral untuk mengelola ’harta karun’ dan itu tidak mudah,” tutur Eunike.. Namun, sekali-kali, boleh juga untuk pikir-pikir dulu sebelum belanja! Mereka mendambakan kedamaian, jeda untuk berpikir, dan ruang untuk merasa secara lebih otentik.di situ, apalagi menjelang hari besar. Banyak banget! Misal ada dua tumpuk, ada kali tumpukannya sepaha aku,” ujar Andra Alodita sambil menunjuk salah satu sudut di rumahnya di bilangan Jakarta Selatan, Selasa .yang ia maksud biasanya dikirim oleh jenama-jenama mode dan kecantikan lokal. Isinya berbagai produk untuk promosi. Andra dikirimi paket karena perannya sebagaiMulanya Andra senang-senang saja menerima paket. Ada keseruan setiap kali membuka paket alias. Kehadiran paket-paket ini juga tanda bahwa jenama lokal tumbuh subur. Tetapi, lama-lama Andra kewalahan. Paket datang silih berganti, menumpuk, dan menuntut segera dibuka. Setiap hari ada keputusan yang harus diambil. Paket mana yang mesti dibuka? Di mana barangnya disimpan? Kapan dan bagaimana barangnya digunakan? Bagaimana mengelola sampahnya? Energi dan waktu Andra banyak tersedot untuk mengurus ini.) karena ”kebanjiran” paket. Tanggung jawab untuk mengelola barang-barang ini sudah melebihi kapasitasnya.unboxing , aku punya tanggung jawab ke sampah dan barangnya. Ada energi yang mesti disiapkan. Tapi, masa, sih, energi kita untukKelelahan ini, ditambah kondisi medis, membuat Andra mantap mengambil jeda karier selama dua tahun. Selama itu, kiriman paket mereda dan lantas hilang. Ia lega luar biasa. Ternyata, hidupnya baik-baik saja tanpa paket dan barang baru.Jeda ini memberi Andra waktu untuk menyortir barang-barang di rumah berdasarkan prioritas, utilitas, dan makna. Ternyata, ada banyak barang di rumah. Sebagian dibeli berdasarkan keinginan, bukan kebutuhan.,” aku Andra yang dulu konsumsinya didorong oleh validasi diri. ”Kebutuhan sudah terpenuhi, tapi mungkin karena aku enggak punya hobi, kesadaran, dan kebijaksanaan diri, jadi mengejarUsai mengurasi barang, tidak hanya rumah yang kian lega, pikiran Andra jadi ikutan jernih. Refleksi diri pun terjadi secara organik dan tanpa pretensi. Ia menyadari bahwa kebahagiaannya tidak bersumber dari barang yang dimiliki, melainkan kenikmatan dari keseharian. Kini, atensi Andra dipusatkan pada keluarga, aroma seduhan kopi di rumah, buku-buku yang tersusun rapi di rak, dan jurnal-jurnal tebal yang diisi saban hari. Kurasi barang pada akhirnya bermuara ke kurasi energi, waktu, dan kegiatan. Basis seleksinya sederhana: semua harus bermakna. Ia menyebutnyaLain lagi dengan pendiri jenama Sare Studio, Cempaka Asriani , yang mempraktikkan konsumsi berkesadaran lewat busana produksinya. Busana itu mengusung mode lambat yang tumbuh dari kejengahan akan tren mode yang berputar terlalu cepat. Saking cepatnya, busana lekas ketinggalan zaman dan tak diinginkan lagi. Sare Studio melawan arus kecepatan. Dalam setahun mereka hanya mengeluarkan empat koleksi. Busana diproduksi dengan bahan dan kerajinan bagus supaya tahan lama. Konsekuensinya ada di harga yang cukup mahal. ”Dulu ada masa kami diskon. Yang beli banyak, tapi konsumen beli karena murah, padahal belum tentu butuh. Kami belajar bahwa semakin dikasih harga murah, semakin konsumen tidak memahami kualitas dan esensi barang yang dijual,” kata Cempaka. Baginya, konsumsi berkesadaran terkait erat dengan pembelian produk berkualitas yang menjanjikan barang berumur panjang. Itu sekaligus jadi mantra Cempaka untuk mengonsumsi barang. Sejak pindah rumah dan mengurasi barangnya yang banyak, Cempaka kini hidup simpel dengan 30 busana di koleksi kapsulnya. Kesederhanaan itu memberi banyak waktu dan energi untuk mengembangkan diri, termasuk belajar bahasa Perancis. Stres pun berhasil dieliminasi dan berujung pada kesembuhan Cempaka dari GERD. Kualitas hidupnya meningkat. ”Dengan hidup lebih sadar, saya pengin lebih tenang, pelan, menikmati proses, lalu lebih kritis dalam melihat segala hal. Jujur, semua ini nyaman banget.”Sebagai pemengaruh di dunia digital, sikap Andra dan Cempaka bisa dibilang melawan arus. Selama ini pemengaruh lekat dengan citra konsumtif, entah untuk mengikuti tren atau demi menjaga citra diri. Di sisi lain, sejujurnya, manusia tidak bisa benar-benar lepas dari konsumsi. Konsumsi niscaya terjadi selama hidup, apalagi jika yang dikonsumsi punya kegunaan dan meningkatkan kualitas hidup. Tetapi, ada perubahan pola konsumsi di era kapitalisme. Konsumsi tidak lagi bertumpu pada utilitas saja, melainkan ”identitas”. Konsumsi kini dilakukan untuk membangun citra, identitas, serta menentukan posisi sosial. Konsumsi menjadi simbolis dan berbatasan tipis dengan konsumerisme. Kalaupun bukan untuk membangun citra, konsumsi bisa terjadi karena terbuai pemasaran yang kian kreatif dan meyakinkan. Tanpa kesadaran yang cukup, sangat mungkin konsumen kehilangan otoritas untuk mengambil keputusan dan berakhir membeli ini-itu. Di dunia konsumsi, realitas konsumen akan yang ”nyata” dan ”tidak nyata” menjadi kabur. Ini karena realitas tidak lagi ditentukan oleh konsumen, tetapi juga dibentuk oleh tren dan iklan yang terus memproduksi citra. FilsufJean Baudrillard menyebut ini simulakra, yakni proses produksi citra atau gambaran yang lantas menjadi ”realitas”. Sebagai contoh, tren dan iklan secara subtil menggaungkan narasi bahwa Anda ”butuh” atau ”jika tidak beli, nanti menyesal”. Katakanlah narasi ini terus-terusan diproduksi, maka akhirnya konsumen akan percaya bahwa mereka ”butuh” dan ”nanti menyesal”. Nada Arini adalah salah satu individu subversif dari produksi narasi itu. Di dunia yang memuja penampilan, Nada bertahan hanya dengan empat pasang alas kaki: satu sepatu, satu sandal jepit, dan dua sandal gunung.milihSikap Nada bertumpu pada kesadaran bahwa tiap pilihannya akan berdampak ke orang lain alias. Itu sebabnya dia pilih-pilih betul untuk membeli barang. Sepotong kaus bisa jadi dihasilkan dari rantai produksi superpanjang. Barang-barang di rumah pun sebisa mungkin digunakan sampai si barang menyerah alias rusak. Misalnya, kulkas dan dispenser airnya berusia 13 tahun dan masih dipertahankan.the shape of our communityMenurut psikolog Unika Atma Jaya Jakarta, Eunike Sri Tyas Suci, gaya hidup berkesadaran dipilih sebagian orang dari kelas ekonomi menengah sampai menengah atas untuk aktualisasi diri. Artinya, kebutuhan dasar mereka sudah terpenuhi. Aktualisasi dicari untuk mencapai kepuasan batin. Dalam konteks ini, publik merasa cukup dengan hal-hal sederhana, namun bernilai tinggi seperti prinsip hidup. Ada pula yang memilih kesederhanaan karena sadar akan keterbatasan kapasitas untuk mengelola hidup.. Bisa tiba-tiba uangnya habis. Secara finansial mungkin tidak apa-apa, tapi barang menumpuk di rumah memberi konsekuensi moral untuk mengelola ’harta karun’ dan itu tidak mudah,” tutur Eunike.
Conscious Living Hidup Berkesadaran Konsumsi Berkesadaran Gaya Hidup Kompas Urbana Utama X-Hide-Give-Me-Perspective
United States Latest News, United States Headlines
Similar News:You can also read news stories similar to this one that we have collected from other news sources.
12 Rekomendasi Margarin untuk Kue Kering, Pilihan Terbaik untuk LebaranRahasia kue kering renyah dan lezat ada pada pemilihan margarin yang tepat. Simak 12 rekomendasi margarin untuk kue kering yang wajib Anda coba.
Read more »
Barcelona, pertemuan dengan Manchester City untuk membahas Haaland: ini adalah target kandidat Font untuk menggantikan LewandowskiLangkah terpenting dalam perebutan kursi presiden Barcelona dilakukan oleh Victor Font dengan menjalin kontak langsung dengan Manchester City untuk membawa Erling Haaland ke Blaugrana.
Read more »
Mojtaba Khamenei: Kami Akan Balas Darah Para Syuhada Kami!Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei merilis pernyataan pertamanya usai terpilih menggantikan mendiang ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei. Baca selengkapnya
Read more »
Manfaat Air Beras untuk Rambut, Perawatan Alami untuk Perkuat dan Perhalus Setiap HelaiManfaat air beras untuk rambut ternyata cukup beragam, mulai dari membantu memperkuat rambut, membuatnya lebih halus dan berkilau, hingga menjaga kesehatan kuli
Read more »
Belanja K/L Tembus Rp155 T, Purbaya: Kita Desak Belanja Lebih Cepat!Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan kenaikan belanja pemerintah pusat mencapai Rp 346,1 triliun pada Februari 2026, tumbuh 63,7% dari tahun lalu.
Read more »
Spanyol Tolak AS Gunakan Pangkalan Militer untuk Serang Iran: Kami Tidak TakutMenlu Spanyol mengatakan, negaranya tidak takut jika AS memberi tekanan usai Madrid menolak Washington menggunakan pangkalan militernya untuk menyerang Iran.
Read more »
