Laporan mendalam mengenai disparitas harga LPG global per April 2026 yang dipengaruhi oleh kebijakan fiskal, subsidi pemerintah, dan ketergantungan negara terhadap pasokan energi impor.
Dinamika harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) di tingkat global saat ini menunjukkan disparitas yang sangat mencolok antarnegara, menciptakan lanskap energi yang beragam bagi konsumen di seluruh dunia. Berdasarkan data per 13 April 2026, rata-rata harga LPG dunia berada di angka US$0,91 per liter atau setara dengan Rp 15.597 dengan asumsi kurs US$1 setara Rp 17.140.
Perbedaan harga yang signifikan ini tidak serta-merta mencerminkan fluktuasi harga bahan baku di pasar internasional, melainkan lebih banyak dipengaruhi oleh intervensi kebijakan domestik masing-masing pemerintahan. Struktur pajak energi, besaran subsidi yang diberikan pemerintah, serta kondisi geografis dan logistik menjadi penentu utama yang membentuk harga eceran di tingkat rumah tangga dan industri di berbagai negara. Jika kita menilik negara dengan harga LPG paling terjangkau, Aljazair memimpin daftar dengan harga yang sangat ekonomis, yakni hanya US$0,091 atau sekitar Rp 1.542 per liter. Posisi ini diikuti oleh Angola dengan harga US$0,109 per liter. Arab Saudi, sebagai salah satu raksasa energi dunia, juga mampu mempertahankan harga di angka US$0,290 per liter, disusul oleh Rusia di angka US$0,409 per liter dan Azerbaijan pada US$0,412 per liter. Fenomena harga murah di negara-negara tersebut sangat erat kaitannya dengan posisi mereka sebagai produsen sekaligus eksportir gas alam yang masif. Kemandirian pasokan domestik, ditambah dengan kebijakan pemerintah yang memberikan dukungan subsidi energi secara besar-besaran, membuat masyarakat di negara-negara ini terlindungi dari guncangan harga pasar internasional yang kerap tidak menentu. Di sisi lain spektrum harga, terdapat negara-negara yang harus menanggung beban biaya LPG yang jauh di atas rata-rata global. Yunani tercatat sebagai negara dengan harga LPG tertinggi di dunia, mencapai US$1,611 atau setara Rp 27.424 per liter, diikuti ketat oleh Israel pada angka US$1,595 per liter. Di Eropa, Jerman mencatatkan harga US$1,405 per liter, sementara Swiss dan Kroasia masing-masing berada di kisaran US$1,393 dan US$1,388 per liter. Tingginya harga di negara-negara tersebut dipicu oleh keterbatasan cadangan domestik, yang memaksa mereka bergantung sepenuhnya pada pasokan energi impor. Selain itu, kebijakan pajak energi yang tinggi untuk mendukung transisi ke energi hijau dan minimnya subsidi langsung dari pemerintah membuat harga eceran menjadi sangat sensitif terhadap dinamika harga gas alam global. Akibatnya, konsumen di negara-negara tersebut harus menanggung biaya energi yang jauh lebih mahal demi menjaga stabilitas pasokan di tengah tantangan geopolitik dan ketergantungan pada rantai pasok global yang rentan
Harga LPG Global Energi Subsidi Energi Komoditas Gas Kebijakan Fiskal
United States Latest News, United States Headlines
Similar News:You can also read news stories similar to this one that we have collected from other news sources.
Harga LPG 5,5 Kg-12 Kg Naik, Pertamina Pastikan Harga LPG 3 Kg Tetap!Harga LPG subsidi 3 Kg dipastikan tidak naik
Read more »
Harga LPG Nonsubsidi Melonjak, Warteg Bingung: Kurangi Porsi atau Naikkan Harga?Portal berita yang menyajikan informasi terhangat baik peristiwa politik, entertainment dan lain lain
Read more »
Menteri Bahlil jamin harga LPG 3 kg tidak naik dan stok amanMenteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjamin harga LPG 3 kg atau LPG bersubsidi tidak naik, sekaligus menyampaikan stok LPG ...
Read more »
Harga LPG Non-Subsidi 'Terbang', Bahlil: Pemerintah Tak Campur Tangan, Ikut Harga Dunia!Portal berita yang menyajikan informasi terhangat baik peristiwa politik, entertainment dan lain lain
Read more »
Menteri Bahlil: Harga LPG Non-Subsidi Ikuti Pasar, LPG 3 Kg Tak Pernah Naik Sejak 2007Menteri ESDM menegaskan harga LPG non-subsidi mengikuti pasar, sementara LPG 3 kg tidak pernah naik sejak 2006. Kenaikan di lapangan terjadi di distribusi.
Read more »
Disinggung Kenaikan LPG Nonsubsidi, Bahlil Malah Berkelit soal LPG 3 KgIHSG
Read more »
