Beyond the Breaking News

Pembicaraan Presiden Prabowo Mengenai Dampak Depresi Rupiah

Berita Politik News

Pembicaraan Presiden Prabowo Mengenai Dampak Depresi Rupiah
Prabowo SubiantoDampak Depresi RupiahAnalisis Ekonomi

Pemerintah menilai narasi Presiden sebagai strategi psikologis meredam kepanikan di tingkat akar rumput

2. Dampak Depresiasi Rupiah Terasa hingga Meja Makan4. Nilai Tukar Rupiah Anjlok, Berikut Ini Tips MenghadapinyaDolar AS kembali jadi perbincangan hangat sejak akhir pekan ini.

Namun, kegaduhan di ruang publik hingga jagat media sosial kali ini bukan lagi dipicu oleh kepanikan atas nilai tukar rupiah yang terus melorot hingga menembus kisaran Rp 17.500-Rp 17.600 per dolar AS. Perhatian publik justru tertuju pada pernyataan beruntun Presiden Prabowo Subianto saat kunjungan kerja di Jawa Timur, Sabtu . Presiden menyebut bahwa gejolak mata uang global itu sejatinya tidak mengusik hidup masyarakat desa karena mereka tidak bertransaksi menggunakan dolar AS.

Riuhnya perbincangan ini terekam dalam data Google Trends pada Minggu . Kata kunci ”Prabowo” langsung melesat ke puncak pencarian populer di Indonesia dengan volume lebih dari 5.000 penelusuran dalam 24 jam terakhir. Sorotan publik itu bermula saat Presiden Prabowo meresmikan operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Desa Nglawak, Kecamatan Kertosono, Jawa Timur. Saat itu, Presiden menyampaikan pandangan ekonominya lewat seloroh sembari menyapa Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang turut hadir di acara tersebut.

”Purbaya sekarang populer banget, Purbaya itu. Selama Purbaya bisa senyum, tenang aja, enggak usah kalian khawatir itu. Mau dolar berapa ribu, kek, kan, kalian di desa-desa enggak pakai dolar, benar enggak? Yang pusing yang itu, yang suka ke luar negeri,” kata Presiden disusul tawa para undangan.

Pernyataam Presiden itu lantas memantik polemik di ruang publik. Kubu propemerintah menilai narasi Presiden sebagai strategi psikologis meredam kepanikan di tingkat akar rumput. Sebaliknya, kubu kontra menganggap gaya komunikasi ini terlalu menyederhanakan masalah, padahal ekonomi perdesaan ikut terjepit harga-harga yang merangkak naik akibat guncangan kurs dolar AS. Dari tahun ke tahun, konsumsi tempe dan tahu di Indonesia selalu ada di atas 70 persen dari total konsumsi komoditas pangan lainnya.

Hal ini menjelaskan keberadaan tempe dan tahu bukan sekadar makanan pelengkap, melainkan bagian penting dari konsumsi harian masyarakat. Pengaruh naiknya harga tempe dan tahu langsung terasa bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Akibatnya, pengeluaran rumah tangga untuk konsumsi ikut melambung dan daya beli masyarakat menurun. Dalam jangka panjang, situasi ini bisa berakibat pada inflasi pangan yang lebih luas.

Gambaran ini tentu memperlihatkan bagaimana tingginya kebutuhan kedelai pada produk tempe dan tahu. Hanya saja, kebutuhan produksi kedelai sangat besar, tidak sebanding dengan produksi dalam negeri. Tak heran, Indonesia harus mengimpor kedelai dari negara lain. Mayoritas pasokan impor masih berasal dari Amerika Serikat, sekitar 2,4 juta ton atau 88 persen, sisanya berasal dari Kanada dan Argentina.

United States Department of Agriculture menyebutkan rata-rata produksi kedelai Indonesia pada periode 2014-2023 hanya mencapai 498.000 ton dengan rerata pertumbuhannya minus 5 persen. Sementara pada 2024, produksi kedelai Indonesia tercatat sebesar 375.000 ton atau turun 4 persen secara tahunan. Penurunan produksi masih berlanjut hingga 2026, diproyeksikan turun berkisar 320.000-340.000 ton. Menurut USDA, penurunan produksi kedelai di Indonesia terjadi karena banyak petani, terutama di lahan tadah hujan, memilih beralih menanam padi dan jagung yang dinilai lebih menguntungkan dibandingkan dengan kedelai.

Dalam sistem ekonomi yang saling terhubung seperti sekarang, keadaan ini imbasnya dapat menjalar hingga ke dapur rumah tangga masyarakat desa. Lemahnya nilai rupiah sama dengan bertambahnya biaya yang harus dikeluarkan untuk impor kedelai. Akibatnya, harga kedelai di Indonesia menjadi mahal. Ini menandakan Indonesia sangat rentan terhadap gejolak nilai tukar rupiah.

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai terasa hingga ke tingkat petani di perdesaan. Kenaikan harga pupuk nonsubsidi yang dipicu mahalnya bahan baku impor membuat biaya produksi pertanian melonjak dan semakin memberatkan petani. Sebagian petani di Jawa Timur menilai kondisi ini kian diperparah dengan kebijakan pemerintah yang tetap mengekspor pupuk ke sejumlah negara. Mereka berharap kelebihan produksi pupuk dalam negeri dapat diprioritaskan untuk memperkuat sarana produksi pertanian di dalam negeri.

Ketua Umum Perkumpulan Petani Pangan Nasional Jumantoro mengatakan, pemerintah memang telah menurunkan harga pupuk subsidi sebesar 20 persen. Namun, kuota pupuk subsidi masih sangat terbatas sehingga belum mampu mencukupi kebutuhan tanam. Sebagai gambaran, kebutuhan rata-rata pupuk urea dan phonska mencapai 400-600 kilogram per hektar. Sementara alokasi pupuk subsidi hanya 200-300 kilogram per hektar.

Kekurangannya, 200-300 kilogram, harus dipenuhi dengan pupuk nonsubsidi. ”Harga pupuk nonsubsidi berpotensi naik lagi jika rupiah terus melemah terhadap dolar AS. Hal itu karena ada bahan baku pupuk yang berasal dari impor,” ujar Jumantoro. Ia juga mengatakan, untuk tanaman padi, petani tidak hanya membutuhkan urea dan phonska, tetapi juga pupuk organik dan ZA atau amonium sulfat.

Selain itu, petani harus membeli pestisida untuk memberantas organisme pengganggu tanaman. ”Tingginya harga pupuk nonsubsidi sangat memberatkan biaya produksi pertanian karena biaya tenaga kerja, sewa lahan, bahan bakar minyak, dan benih juga naik,” kata Jumantoro. Ia mengatakan, jika ada kelebihan produksi pupuk, sebaiknya kelebihan itu digunakan untuk menambah alokasi pupuk subsidi. Selain itu, petani berharap harga pupuk nonsubsidi di dalam negeri bisa ditekan agar dampak pelemahan rupiah tidak sepenuhnya dibebankan kepada petani.

Dosen Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang , Yunan Saifullah, Rabu , mengatakan, merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS biasanya terjadi ketika permintaan dolar meningkat lebih tinggi dibandingkan rupiah. Penyebabnya bisa beragam, mulai dari kondisi ekonomi global, suku bunga AS naik, impor tinggi, ketidakpastian politik atau ekonomi, hingga keluarnya investasi asing dari Indonesia. Menghadapi kondisi berat itu, Yunan membagikan beberapa tips. Hal itu perlu dipikirkan agar orang bisa bertahan dalam kondisi tidak pasti seperti sekarang ini.

Pertama, kurangi pengeluaran yang bergantung pada barang impor. Prioritaskan kebutuhan utama terlebih dahulu. Tunda pembelian barang sensitif terhadap dolar, seperti gawai baru, barang elektronik nonprioritas, atau barang hobi impor. Harga produk-produk tersebut diprediksi akan terus naik.

Kedua, perkuat dana darurat. Saat ekonomi tidak stabil, dana darurat menjadi sangat penting. Idealnya, nilai dana darurat adalah 3-6 bulan pengeluaran rutin untuk karyawan atau 6-12 bulan untukKetiga, hindari utang konsumtif. Seperti paylater berlebihan, cicilan konsumsi, atau utang berbunga tinggi.

Dalam kondisi ekonomi melemah, kemampuan bayar bisa ikut tertekan. Tips selanjutnya, pada peningkatan skill dan pendapatan. Dengan update kemampuan, kita bisa mendapatkan penghasilan tambahan di luar gaji. Tips lainnya lagi adalah melakukan diversifikasi tabungan dan investasi.

Jangan menaruh seluruh aset di satu tempat. Contoh diversifikasi misalnya tabungan rupiah, tabungan emas, reksa dana pasar uang, saham sektor defensif, atau aset berbasis dolar. ”Ini tujuannya untuk mengurangi risiko ketika satu aset tertekan,” katanya.cash flowApa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?3. Dolar AS Menguat, Beban Petani Kian BeratKelakar Dolar AS Prabowo dari Desa Nglawak Dolar AS kembali jadi perbincangan hangat sejak akhir pekan ini.

Namun, kegaduhan di ruang publik hingga jagat media sosial kali ini bukan lagi dipicu oleh kepanikan atas nilai tukar rupiah yang terus melorot hingga menembus kisaran Rp 17.500-Rp 17.600 per dolar AS. Perhatian publik justru tertuju pada pernyataan beruntun Presiden Prabowo Subianto saat kunjungan kerja di Jawa Timur, Sabtu . Presiden menyebut bahwa gejolak mata uang global itu sejatinya tidak mengusik hidup masyarakat desa karena mereka tidak bertransaksi menggunakan dolar AS.

Riuhnya perbincangan ini terekam dalam data Google Trends pada Minggu . Kata kunci ”Prabowo” langsung melesat ke puncak pencarian populer di Indonesia dengan volume lebih dari 5.000 penelusuran dalam 24 jam terakhir. Sorotan publik itu bermula saat Presiden Prabowo meresmikan operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Desa Nglawak, Kecamatan Kertosono, Jawa Timur. Saat itu, Presiden menyampaikan pandangan ekonominya lewat seloroh sembari menyapa Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang turut hadir di acara tersebut.

”Purbaya sekarang populer banget, Purbaya itu. Selama Purbaya bisa senyum, tenang aja, enggak usah kalian khawatir itu. Mau dolar berapa ribu, kek, kan, kalian di desa-desa enggak pakai dolar, benar enggak? Yang pusing yang itu, yang suka ke luar negeri,” kata Presiden disusul tawa para undangan.

Pernyataam Presiden itu lantas memantik polemik di ruang publik. Kubu propemerintah menilai narasi Presiden sebagai strategi psikologis meredam kepanikan di tingkat akar rumput. Sebaliknya, kubu kontra menganggap gaya komunikasi ini terlalu menyederhanakan masalah, padahal ekonomi perdesaan ikut terjepit harga-harga yang merangkak naik akibat guncangan kurs dolar AS. Dampak Depresiasi Rupiah Terasa hingga Meja Makan Dari tahun ke tahun, konsumsi tempe dan tahu di Indonesia selalu ada di atas 70 persen dari total konsumsi komoditas pangan lainnya.

Hal ini menjelaskan keberadaan tempe dan tahu bukan sekadar makanan pelengkap, melainkan bagian penting dari konsumsi harian masyarakat. Pengaruh naiknya harga tempe dan tahu langsung terasa bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Akibatnya, pengeluaran rumah tangga untuk konsumsi ikut melambung dan daya beli masyarakat menurun. Dalam jangka panjang, situasi ini bisa berakibat pada inflasi pangan yang lebih luas.

Gambaran ini tentu memperlihatkan bagaimana tingginya kebutuhan kedelai pada produk tempe dan tahu. Hanya saja, kebutuhan produksi kedelai sangat besar, tidak sebanding dengan produksi dalam negeri. Tak heran, Indonesia harus mengimpor kedelai dari negara lain. Mayoritas pasokan impor masih berasal dari Amerika Serikat, sekitar 2,4 juta ton atau 88 persen, sisanya berasal dari Kanada dan Argentina.

United States Department of Agriculture menyebutkan rata-rata produksi kedelai Indonesia pada periode 2014-2023 hanya mencapai 498.000 ton dengan rerata pertumbuhannya minus 5 persen. Sementara pada 2024, produksi kedelai Indonesia tercatat sebesar 375.000 ton atau turun 4 persen secara tahunan. Penurunan produksi masih berlanjut hingga 2026, diproyeksikan turun berkisar 320.000-340.000 ton. Menurut USDA, penurunan produksi kedelai di Indonesia terjadi karena banyak petani, terutama di lahan tadah hujan, memilih beralih menanam padi dan jagung yang dinilai lebih menguntungkan dibandingkan dengan kedelai.

Dalam sistem ekonomi yang saling terhubung seperti sekarang, keadaan ini imbasnya dapat menjalar hingga ke dapur rumah tangga masyarakat desa. Lemahnya nilai rupiah sama dengan bertambahnya biaya yang harus dikeluarkan untuk impor kedelai. Akibatnya, harga kedelai di Indonesia menjadi mahal. Ini menandakan Indonesia sangat rentan terhadap gejolak nilai tukar rupiah.

Dolar AS Menguat, Beban Petani Kian Berat Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai terasa hingga ke tingkat petani di perdesaan. Kenaikan harga pupuk nonsubsidi yang dipicu mahalnya bahan baku impor membuat biaya produksi pertanian melonjak dan semakin memberatkan petani. Sebagian petani di Jawa Timur menilai kondisi ini kian diperparah dengan kebijakan pemerintah yang tetap mengekspor pupuk ke sejumlah negara. Mereka berharap kelebihan produksi pupuk dalam negeri dapat diprioritaskan untuk memperkuat sarana produksi pertanian di dalam negeri.

Ketua Umum Perkumpulan Petani Pangan Nasional Jumantoro mengatakan, pemerintah memang telah menurunkan harga pupuk subsidi sebesar 20 persen. Namun, kuota pupuk subsidi masih sangat terbatas sehingga belum mampu mencukupi kebutuhan tanam. Sebagai gambaran, kebutuhan rata-rata pupuk urea dan phonska mencapai 400-600 kilogram per hektar. Sementara alokasi pupuk subsidi hanya 200-300 kilogram per hektar.

Kekurangannya, 200-300 kilogram, harus dipenuhi dengan pupuk nonsubsidi. ”Harga pupuk nonsubsidi berpotensi naik lagi jika rupiah terus melemah terhadap dolar AS. Hal itu karena ada bahan baku pupuk yang berasal dari impor,” ujar Jumantoro. Ia juga mengatakan, untuk tanaman padi, petani tidak hanya membutuhkan urea dan phonska, tetapi juga pupuk organik dan ZA atau amonium sulfat.

Selain itu, petani harus membeli pestisida untuk memberantas organisme pengganggu tanaman. ”Tingginya harga pupuk nonsubsidi sangat memberatkan biaya produksi pertanian karena biaya tenaga kerja, sewa lahan, bahan bakar minyak, dan benih juga naik,” kata Jumantoro. Ia mengatakan, jika ada kelebihan produksi pupuk, sebaiknya kelebihan itu digunakan untuk menambah alokasi pupuk subsidi. Selain itu, petani berharap harga pupuk nonsubsidi di dalam negeri bisa ditekan agar dampak pelemahan rupiah tidak sepenuhnya dibebankan kepada petani.

Nilai Tukar Rupiah Anjlok, Berikut Ini Tips Menghadapinya Dosen Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang , Yunan Saifullah, Rabu , mengatakan, merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS biasanya terjadi ketika permintaan dolar meningkat lebih tinggi dibandingkan rupiah. Penyebabnya bisa beragam, mulai dari kondisi ekonomi global, suku bunga AS naik, impor tinggi, ketidakpastian politik atau ekonomi, hingga keluarnya investasi asing dari Indonesia. Menghadapi kondisi berat itu, Yunan membagikan beberapa tips.

Hal itu perlu dipikirkan agar orang bisa bertahan dalam kondisi tidak pasti seperti sekarang ini. Pertama, kurangi pengeluaran yang bergantung pada barang impor. Prioritaskan kebutuhan utama terlebih dahulu. Tunda pembelian barang sensitif terhadap dolar, seperti gawai baru, barang elektronik nonprioritas, atau barang hobi impor.

Harga produk-produk tersebut diprediksi akan terus naik. Kedua, perkuat dana darurat. Saat ekonomi tidak stabil, dana darurat menjadi sangat penting. Idealnya, nilai dana darurat adalah 3-6 bulan pengeluaran rutin untuk karyawan atau 6-12 bulan untukKetiga, hindari utang konsumtif.

Seperti paylater berlebihan, cicilan konsumsi, atau utang berbunga tinggi. Dalam kondisi ekonomi melemah, kemampuan bayar bisa ikut tertekan. Tips selanjutnya, pada peningkatan skill dan pendapatan. Dengan update kemampuan, kita bisa mendapatkan penghasilan tambahan di luar gaji.

Tips lainnya lagi adalah melakukan diversifikasi tabungan dan investasi. Jangan menaruh seluruh aset di satu tempat. Contoh diversifikasi misalnya tabungan rupiah, tabungan emas, reksa dana pasar uang, saham sektor defensif, atau aset berbasis dolar. ”Ini tujuannya untuk mengurangi risiko ketika satu aset tertekan,” katanya.cash flowBaca Juga

We have summarized this news so that you can read it quickly. If you are interested in the news, you can read the full text here. Read more:

hariankompas /  🏆 8. in İD

Prabowo Subianto Dampak Depresi Rupiah Analisis Ekonomi Polemik Politik Perbincangan Mata Uang

 

United States Latest News, United States Headlines

Similar News:You can also read news stories similar to this one that we have collected from other news sources.

Gubernur BI hingga Menkeu Purbaya Dipanggil Presiden Prabowo ke IstanaGubernur BI hingga Menkeu Purbaya Dipanggil Presiden Prabowo ke IstanaPrabowo memanggil Gubernur BI dan sejumlah menteri di sektor ekonomi ke Istana untuk membahas under invoicing hingga tata kelola ekspor SDA.
Read more »

Indeks Gini Indonesia mencatatkan rekor terbaik di era pemerintahan Presiden PrabowoIndeks Gini Indonesia mencatatkan rekor terbaik di era pemerintahan Presiden PrabowoIndeks Gini Indonesia mencatatkan rekor terbaik di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam kurun waktu 15 tahun terakhir. Hal ini disampaikan saat sesi Jurnalis HAM di Bandung, Rabu (20/5/2026).
Read more »

Presiden Prabowo panggil Purbaya hingga Menteri PerindustrianPresiden Prabowo panggil Purbaya hingga Menteri PerindustrianPresiden Prabowo Subianto kembali memanggil sejumlah Menteri Kabinet Merah Putih di bidang ekonomi dan pejabat negara lainnya, salah satunya membahas ...
Read more »

Presiden Prabowo, Wakil Presiden Gibran Akan Serahkan Sapi Kurban ke Masjid IstiqlalPresiden Prabowo, Wakil Presiden Gibran Akan Serahkan Sapi Kurban ke Masjid IstiqlalPresiden RI Prabowo Subianto dan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka dijadwalkan menyerahkan hewan kurban untuk perayaan Iduladha 1447 Hijriah di Masjid Istiqlal pada pekan depan. Sampai saat ini pihak Masjid terbesar di Asia Tenggara itu belum menerima informasi mengenai jenis maupun bobot sapi kurban yang akan diserahkan oleh Presiden dan Wakil Presiden. Selain hewan kurban dari Presiden dan Wakil Presiden, Masjid Istiqlal juga masih menunggu konfirmasi dari sejumlah tokoh dan pihak lain yang akan menyalurkan kurban pada Iduladha tahun ini.
Read more »



Render Time: 2026-05-23 08:12:49