JP Morgan Chase mulai memantau jam kerja karyawan muda di investment banking dengan teknologi. Tujuannya untuk meningkatkan transparansi dan kesejahteraan.
Bank raksasa Amerika Serikat, JP Morgan Chase, mulai menggunakan teknologi untuk memantau jam kerja karyawan mudanya, khususnya di divisi investment banking. Langkah ini dilakukan dengan membandingkan jam kerja yang dilaporkan pegawai dengan data aktivitas digital mereka.
Dalam skema uji coba, bank tersebut akan memberikan laporan kepada para junior banker yang berisi perbandingan antara catatan kerja versi karyawan dengan estimasi berbasis sistem komputer. Data ini diambil dari berbagai aktivitas digital, seperti panggilan video, ketikan di komputer, hingga jadwal rapat. JP Morgan menyebut sistem ini mirip dengan fitur laporan waktu layar di smartphone. Tujuannya bukan untuk menghukum, melainkan meningkatkan transparansi dan kesadaran terkait beban kerja."Alat ini dirancang untuk mendukung transparansi, kesejahteraan, dan mendorong percakapan terbuka soal beban kerja," tulis JP Morgan dalam pernyataannya dikutip dari Guardian, Senin . Langkah ini muncul di tengah sorotan terhadap jam kerja ekstrem di industri perbankan investasi. JP Morgan sebelumnya juga telah menunjuk pejabat khusus untuk mengawasi kesejahteraan pegawai junior, membatasi kerja akhir pekan, serta menetapkan batas maksimal 80 jam kerja per minggu. Penggunaan teknologi pemantauan karyawan, atau yang dikenal sebagai"bossware", memang semakin marak sejak tren kerja jarak jauh selama pandemi Covid-19. Meski demikian, kebijakan ini juga menuai kritik karena dinilai berpotensi melanggar privasi pekerja.Industri investment banking sendiri dikenal dengan budaya kerja yang sangat intens. Jam kerja panjang kerap menjadi harga yang harus dibayar, meski diimbangi dengan gaji besar bahkan untuk posisi entry-level. Beberapa kasus tragis juga pernah terjadi akibat tekanan kerja. Dua tahun lalu, seorang bankir muda di Bank of America, Leo Lukenas III, meninggal akibat pembekuan darah setelah dilaporkan bekerja lebih dari 100 jam per minggu. Sebelumnya, pada 2013, seorang magang di Bank of America Merrill Lynch, Moritz Erhardt, ditemukan meninggal dunia setelah bekerja selama 72 jam tanpa henti. Kasus serupa juga sempat mendorong Goldman Sachs mengatur jam kerja bagi pegawai magang, termasuk larangan bekerja hingga larut malam. Bahkan, selama pandemi, analis junior di bank tersebut pernah melaporkan beban kerja hingga 100 jam per minggu yang berdampak pada kesehatan mental dan fisik mereka. "Manajemen memantau jumlah staf dan tingkat aktivitas bankir junior dan secara teratur menyesuaikan beban kerja tim kami," kata Goldman.
Jp Morgan Chase Teknologi Pemantauan Jam Kerja Investment Banking Kesejahteraan Karyawan Bossware Privasi Pekerja Budaya Kerja Tekanan Kerja
United States Latest News, United States Headlines
Similar News:You can also read news stories similar to this one that we have collected from other news sources.
Pemain Persib Sempat Terlunta-lunta, Irak Berangkat Pakai Jalur Darat Hingga Terbang ke Meksiko Pakai Jet PribadiBerita Pemain Persib Sempat Terlunta-lunta, Irak Berangkat Pakai Jalur Darat Hingga Terbang ke Meksiko Pakai Jet Pribadi terbaru hari ini 2026-03-21 17:34:16 dari sumber yang terpercaya
Read more »
Tradisi Menerbangkan Balon Raksasa Panawuan: Daya Tarik Wisata Kearifan Lokal GarutTradisi Ngapungkeun Balon atau menerbangkan balon raksasa saat Lebaran di Panawuan, Garut, menjadi daya tarik wisata. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut menjadikan tradisi ini agenda rutin tahunan karena antusiasme warga dan potensi pariwisata berbasis kearifan lokal.
Read more »
Biaya Transaksi BRI ke Sesama BRI, Bank Himbara, dan Bank LainPortal berita yang menyajikan informasi terhangat baik peristiwa politik, entertainment dan lain lain
Read more »
Robot Raksasa Bertarung di Detroit, Begini Sensasi Nonton Robowar dari Balik Kaca AntipeluruPertunjukan robot raksasa bernama Robowar menarik perhatian publik di Detroit, Amerika Serikat (AS).
Read more »
Rahasia Satu Abad Jalur Ular Raksasa Membelah Pegunungan TerungkapPenelitian terbaru mengungkap bahwa 5.200 lubang di Monte Sierpe, Peru, dulunya berfungsi sebagai pasar bagi peradaban pra-Inca, bukan sekadar misteri.
Read more »
10 Raksasa Energi Israel Ini Cuan Besar, Tertawa di Tengah PerangEskalasi konflik di Timur Tengah mempengaruhi stabilitas makroekonomi Israel. Namun, sektor energi menunjukkan daya tahan dan optimisme investor tetap tinggi.
Read more »
