Ketika Kesalehan Sosial Tanpa Ketelitian

Kolom Berita

Ketika Kesalehan Sosial Tanpa Ketelitian
Kolom HikmahSidoarjoMusala Ambruk

Niat baik, jika tidak diiringi ketelitian, bisa berakhir tragis. Tragedi Sidoarjo menegaskan satu hal: amal jariyah tidak cukup hanya dengan niat.

Eko Ernanda, Dosen FISIP Universitas Jember dan Pengurus BPJI-PBNU. Foto: Dok Eko Ernada Musala seharusnya menjadi ruang paling aman. Tempat seorang santri menundukkan kepala, merendahkan diri di hadapan Sang Pencipta.

Namun ketika beton dan besi yang seharusnya menopang iman justru menjebak santri di bawah reruntuhan, pertanyaannya tidak hanya soal bangunan: apa lagi yang ikut runtuh? Tiga santri meninggal, 38 lainnya masih tertimbun, dan ribuan hati terguncang. Yang ambruk bukan sekadar fisik, tetapi juga rasa aman, kepercayaan, dan keyakinan kolektif masyarakat. Tragedi ini bukan sekadar laporan statistik. Ia menegaskan satu prinsip dasar: semangat membangun, sebesar apa pun niatnya, tidak bisa menggantikan disiplin, ilmu, dan pengawasan. Pengalaman di Aceh dan Lombok menunjukkan polanya sama: meunasah dan musala yang roboh akibat penambahan bangunan tanpa perhitungan teknis. Niat baik, jika tidak diiringi ketelitian, bisa berakhir tragis. Bukankah setiap amal yang tulus juga menuntut tanggung jawab terhadap sesama manusia? Sejarah peradaban menegaskan bahwa pembangunan berkelanjutan selalu membutuhkan keseimbangan antara niat dan ilmu. Candi Borobudur dan Prambanan bertahan berabad-abad karena presisi, distribusi beban, dan filosofi spiritual yang mendalam. Piramida Mesir dan Sphinx berdiri kokoh, bukti bahwa kesempurnaan fisik dan simbolik saling melengkapi.Di Tiongkok, Forbidden City dan Great Wall menunjukkan bahwa setiap batu dan tiang bukan sekadar elemen struktural, tetapi simbol nilai, identitas, dan tanggung jawab antargenerasi. Jika sejarah membuktikan bahwa ketelitian dan disiplin menjaga keberlanjutan, mengapa musala modern bisa runtuh karena abai pada prinsip-prinsip dasar ini? Tragedi Sidoarjo mengingatkan kita bahwa amal jariyah tidak cukup berhenti pada niat semata. Niat membangun yang tulus pun dapat menjadi malapetaka bila amanah, pengawasan, dan disiplin teknis diabaikan. Rasulullah SAW bersabda:"Kullukum ra'in wa kullukum mas'ulun 'an ra'iyyatihi" - setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya . Al-Ghazali menekankan bahwa amal yang sahih harus disertai ilmu dan kehati-hatian; niat baik tanpa ilmu dapat sia-sia, bahkan membawa mudarat. Pelajaran moral ini menjembatani tragedi fisik dengan refleksi etis: membangun dengan niat baik harus selalu diiringi tanggung jawab, pengawasan, dan keahlian teknis.Pemerintah memiliki peran penting untuk mencegah tragedi semacam ini terulang. Kegagalan sistemik terlihat dari lemahnya pengawasan, perizinan yang tidak tegas, dan minimnya pendampingan teknis bagi lembaga pendidikan berbasis masyarakat. Pesantren di pedesaan sering membangun fasilitas dari infak jamaah, sumbangan warga, atau bantuan dermawan. Keterbatasan sumber daya mendorong mereka mengutamakan kecepatan daripada ketelitian. Hadirnya pemerintah bukan hanya sebagai pemberi dana, tetapi juga sebagai penyedia tenaga profesional-insinyur, arsitek, pengawas-merupakan langkah konkret untuk memastikan setiap bangunan berdiri di atas fondasi aman. Jika tragedi ini hanya dipandang sebagai"kecelakaan konstruksi", sejarah akan berulang. Ribuan musala, masjid, dan ruang belajar tetap rawan. Audit menyeluruh, penyederhanaan izin yang diiringi pendampingan teknis, dan edukasi konstruksi aman menjadi mutlak diperlukan. Negara lain, seperti Turki pasca-gempa Izmit 1999 dan Jepang, memperlakukan kuil maupun sekolah dasar setara dengan gedung perkantoran: disiplin, pengawasan, dan kesiapan menghadapi risiko menjadi bagian dari tanggung jawab kolektif. Pesantren memegang peran strategis: pusat pendidikan, pembentukan karakter, dan benteng moral masyarakat. Ketika fasilitasnya runtuh, yang ambruk bukan hanya bangunan, tetapi rasa aman santri dan kepercayaan orang tua. Musibah ini harus menjadi momentum bagi pemerintah untuk membangun sistem pendampingan yang nyata, sehingga niat baik tidak berubah menjadi duka. Tragedi Sidoarjo menegaskan satu hal: amal jariyah tidak cukup hanya dengan niat. Kesalehan sosial menuntut ketelitian, pengawasan, dan ilmu. Musala yang ambruk menjadi simbol paradoks: dibangun dengan semangat keagamaan, tetapi runtuh karena abai pada prinsip kehati-hatian. Pahala yang diniatkan tidak akan lengkap tanpa amanah yang dijaga. Sejarah, filosofi, dan etika mengajarkan bahwa setiap amal, sekecil apapun, harus dijalankan dengan disiplin dan tanggung jawab, agar kebaikan yang dikehendaki benar-benar menyelamatkan, bukan merenggut. Sebagai masyarakat, kita harus bertanya pada diri sendiri: Apakah kita cukup hadir, tidak hanya dengan niat baik, tetapi juga dengan pengawasan, ilmu, dan tanggung jawab, agar tidak ada lagi yang jatuh di bawah reruntuhan niat kita sendiri?Artikel ini adalah kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Berita ini telah kami rangkum agar Anda dapat membacanya dengan cepat. Jika Anda tertarik dengan beritanya, Anda dapat membaca teks lengkapnya di sini. Baca lebih lajut:

detikcom /  🏆 29. in İD

Kolom Hikmah Sidoarjo Musala Ambruk Aceh Pemerintah Rasulullah Saw Eko Ernada Mesir Great Wall Tragedi Sidoarjo Detikcom Fisip Universitas Jember Turki Sphinx Al - Ghazali Prambanan Gempa Izmit 1999 Lombok Bpji - Pbnu Tragedi Pasca-Gempa Malapetaka Kesalehan Musibah Duka Kegagalan Tragedi Fisik Pesantren Simbolik Benteng Moral Refleksi Etis Kegagalan Sistemik Al-Ghazali Piramida Mesir Kesalehan Sosial Tiongkok Forbidden City

 

Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama

Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.

Ketika Greysia Polii Ditunjuk untuk Berbagi Inspirasi dan Ajak Anak-anak Bermimpi Lewat BulutangkisKetika Greysia Polii Ditunjuk untuk Berbagi Inspirasi dan Ajak Anak-anak Bermimpi Lewat BulutangkisPopularitas bulutangkis di Indonesia kembali mendapat sorotan. Berdasarkan hasil studi global yang dilakukan HSBC dan Federasi Bulutangkis Dunia (BWF),
Baca lebih lajut »

Stafsus Gubernur DKI Ingatkan Risiko Raperda Kawasan Tanpa Rokok, Minta DPRD Tak Abaikan Realitas Sosial EkonomiStafsus Gubernur DKI Ingatkan Risiko Raperda Kawasan Tanpa Rokok, Minta DPRD Tak Abaikan Realitas Sosial EkonomiChico juga menanggapi sejumlah pasal dalam Raperda KTR yang menuai polemik.
Baca lebih lajut »

Paranoia Kekuasaan dalam Sastra: Ketika Narasi Kiri Menjadi Teror dan Tabu di Era Orde BaruParanoia Kekuasaan dalam Sastra: Ketika Narasi Kiri Menjadi Teror dan Tabu di Era Orde BaruPortal berita yang menyajikan informasi terhangat baik peristiwa politik, entertainment dan lain lain
Baca lebih lajut »

Musala Ponpes Al Khoziny Runtuh Ketika Salat Berjemaah, 102 Orang Sudah DievakuasiMusala Ponpes Al Khoziny Runtuh Ketika Salat Berjemaah, 102 Orang Sudah DievakuasiJPNN.com : Aparat gabungan masih terus berupaya mengevakuasi korban dari runtuhnya musala di Ponpes Al Khoziny di Sidoarjo.
Baca lebih lajut »

Di Mana Soekarno ketika Tragedi G30S Terjadi?Di Mana Soekarno ketika Tragedi G30S Terjadi? Jejak Bung Karno saat G30S: dari Wisma Yaso ke Slipi, lalu Halim hingga Istana Bogor. Malam penuh ketegangan yang mengubah arah sejarah Indonesia.
Baca lebih lajut »

Ketika Ello Jadi Drummer dan Yuke Sampurna Nyanyi di Penampilan Loh Kok Tum Band…Ketika Ello Jadi Drummer dan Yuke Sampurna Nyanyi di Penampilan Loh Kok Tum Band…Penampilan Loh Kok Tum Band kali ini menjadi sorotan karena mereka melakukan hal yang jarang terjadi, yakni bertukar posisi di atas panggung.
Baca lebih lajut »



Render Time: 2026-05-08 10:04:40