Agustina Bame, Suara Perempuan Mare

Masyarakat Adat News

Agustina Bame, Suara Perempuan Mare
Jelajah Masyarakat AdatPapua Barat DayaSuku Mare

Di tengah budaya patriarki yang kental di Papua, Agustina Bame ingin menularkan semangat menjaga hutan dan berdaya ke perempuan suku Mare, Papua Barat Daya.

Di tengah budaya patriarki yang kental di Papua, Agustina Bame ingin menularkan semangat menjaga hutan dan berdaya ke perempuan suku Mare, Papua Barat Daya .Tak mudah bagi Agustina Bame hidup di tengah budaya kala semua keputusan diambil laki-laki di kampungnya, Desa Seya, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya .

Namun, ia ingin berdaya dan menularkan semangat yang sama ke perempuan Papua lainnya. Hari itu, Minggu , akan berakhir. Desa Seya begitu gelap karena listrik belum sepenuhnya masuk desa. Di sebuah rumah dekat lapangan milik kampung, Agustina membuka laptopnya. Cahaya laptop menjadi yang paling terang di antara lampu semprong di balik bilik-bilik kayu di kampung itu. Malam itu, ia menyempatkan diri untuk memeriksa laporan-laporan keuangan Badan Usaha Milik Masyarakat Adat Mare. Di lembaga usaha itu, ia menjabat sebagai. ”Namanya keren ya, tapi sebut bendahara saja,” ujar Agustina saat dihubungi kembali pada Rabu . BUMMA Mare merupakan inisiatif dari masyarakat adat suku Mare di Maybrat dengan tujuan mengelola dan memanfaatkan wilayah adat mereka secara arif. Inisiatif itu merupakan implementasi dari Peraturan Daerah Kabupaten Maybrat Nomor 7 Tahun 2024 tentang Perlindungan Masyarakat Adat. Dalam kebijakan itu, tepatnya di Pasal 18, disebutkan bahwa dalam rangka pemanfaatan dan pengelolaan wilayah adat, masyarakat hukum adat dapat mendirikan BUMMA. Agustina punya peran dalam menjalankan inisiatif itu dan kelahiran BUMMA Mare yang mulai dibentuk sejak 2022. Pembentukannya dilakukan seturut Gerakan Menoken, sebuah gerakan masyarakat adat di Papua dengan merajut keterhubungan dan solidaritas, saling berbagi dan belajar, pengorganisasian kolektif, dalam kelenturan, keterbukaan, dan inklusivitas, membangun kepercayaan diri, serta memperkuat budaya. Gerakan ini didukung oleh Mitra BUMMA melalui Yayasan Menoken Indonesia, lembaga nonprofit di Indonesia. ”Saat pertama jadi bendahara itu saya bingung, bikin laporan salah terus. Saya belajar ulang, bukan dari nol, melainkan dari minus karena tidak pernah urus yang begini-begini,Mengelola keuangan BUMMA Mare tidak mudah, kata Agustina. Sebelum menyentuh ke persoalan pengelolaan anggaran, Agustina juga belajar banyak dengan teknologi. ”Sebelumnya saya tidak bisa pakai laptop, tidak biasa,” ujarnya. Mau tidak mau, kata Agustina, dirinya harus belajar mengoperasikan laptop. Selain laptop yang masih menjadi barang baru, Agustina juga harus beradaptasi cepat dengan berbagai aplikasi khusus untuk mengelola keuangan. ”Ayoklah, sudah setahun belajar ini masa belum bisa, ayok, kaka pasti bisa,” kata Agustina meniru ucapan mentornya saat itu. Ia belajar sampai mahir selama setidaknya dua tahun. BUMMA Mare memang fokus pada isu masyarakat adat dan hutannya. Namun, Agustina punya misi lain, ia ingin perempuan Mare juga berdaya. Keinginannya itu terlihat saat pertemuan di Kampung Sire Timur, Distrik Mare Selatan. Saat pengurus BUMMA Mare, yang mayoritas laki-laki, duduk di depan dan berbincang dengan peserta diskusi yang juga didominasi kepala keluarga, Agustina ke dapur. Ia mencari mama-mama yang sedari tadi sibuk memasak air dan menyeduh kopi. ”Mari duduk di depan,” kata Agustina sedikit memaksa. Kalimat itu sederhana, tetapi punya dampak yang luar biasa. Mama-mama malu-malu bergeser ke depan. Mereka tak mendapat tempat duduk, maka Agustina mengajak mereka duduk di lantai. Mereka menurut saja lalu mulai mendengarkan diskusi. Suara Agustina memang lantang, bahkan teman-teman pengurusnya di BUMMA Mare menganggapnya seperti kakak yang meneriaki adik. Apa yang dikatakan Agustina, yang lain manut. Agustina kembali membuka laptop, mencatat semua hasil diskusi. Saat masih mengetik, terdengar suara dari belakangnya seorang mama yang mengangkat tangan meminta bicara. Diskusi jadi kian seru dengan suara perempuan. Agustina bercerita, tantangan menjadi bendahara di lembaga yang mengurusi masyarakat adat bukan hanya pada teknologi. Ia harus mengikuti teman-teman pengurus lainnya saat ke lapangan, menelusuri hutan-hutan Maybrat, menganalisis konflik, dan banyak lagi. Apalagi, dari Desa Seya ke beberapa distrik di Mare itu bukan perkara mudah. Setiap hari, ia menggunakan sepeda motornya menempuh jarak puluhan kilometer untuk mengunjungi kampung-kampung dampingan BUMMA Mare. ”Saya pernah tidur di jalan, buat kemah di hutan juga pernah,” katanya sambil tersenyum mengenang kembali pengalaman yang lalu.Setelah diskusi, keesokan harinya Agustina pergi ke salah satu ladang milik warga. Ia berbincang dengan pemilik ladang, mencerna, dan mencatat keluhan mereka soal komoditas peladang tradisional di kampung-kampung Mare. Bagi Agustina, kehadiran BUMMA Mare itu seperti terang dalam gelap. Selama ini banyak masyarakat mengeluh kala menjual komoditasnya yang harus merogoh saku hingga Rp 2 juta hanya untuk membawa keladi ke Kota Sorong, ibu kota Provinsi Papua Barat Daya, untuk dijual. Setidaknya, para peladang suku Mare harus menyiapkan uang Rp 4 juta hanya untuk transportasi. Padahal, hasil yang dijual pun tak seberapa. Melihat masalah itu, BUMMA Mare selalu mengadakan pertemuan hingga sepakat untuk membangun Mare Mart yang akan mengelola komoditas warga, seperti koperasi untuk hasil bumi atau hasil hutan bukan kayu orang Mare. ”Sepanjang saya jalan dari kampung ke kampung, saya menyadari bahwa istilah Papua bukan tanah kosong itu benar, kami hidup berdampingan dengan alam. Perempuan juga punya hak dan punya tanggung jawab menjaganya,” kata Agustina. Agustina juga jengah dengan banyaknya konflik lahan di Maybrat dan tanah Papua pada umumnya. Ia percaya dengan melakukan identifikasi lahan dan pemetaan seperti yang ia dan teman-temannya lakukan, konflik bisa reda.tahu batas-batas lahan, tak hanya belajar sejarah orang kita sendiri, tetapi juga menghindari konflik,” ungkapnya. Agustina punya kemauan belajar yang tinggi. Sudah lebih kurang empat tahun belakangan, Agustina malang melintang bersama BUMMA Mare, berjalan dari kampung ke kampung. Ia menunjukkan, banyak hal yang bisa dilakukan meski ia lahir dari budaya yang tak jarang menyudutkan perempuan. Ia menunjukkan, dengan kemauan belajar tinggi, perempuan punya peran yang besar dalam banyak hal, termasuk menjaga lingkungannya.Pendidikan terakhir: S-1 Ilmu Pemerintahan, Universitas Pendidikan Muhammadiyah SorongTak mudah bagi Agustina Bame hidup di tengah budaya kala semua keputusan diambil laki-laki di kampungnya, Desa Seya, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya. Namun, ia ingin berdaya dan menularkan semangat yang sama ke perempuan Papua lainnya. Hari itu, Minggu , akan berakhir. Desa Seya begitu gelap karena listrik belum sepenuhnya masuk desa. Di sebuah rumah dekat lapangan milik kampung, Agustina membuka laptopnya. Cahaya laptop menjadi yang paling terang di antara lampu semprong di balik bilik-bilik kayu di kampung itu. Malam itu, ia menyempatkan diri untuk memeriksa laporan-laporan keuangan Badan Usaha Milik Masyarakat Adat Mare. Di lembaga usaha itu, ia menjabat sebagai. ”Namanya keren ya, tapi sebut bendahara saja,” ujar Agustina saat dihubungi kembali pada Rabu . BUMMA Mare merupakan inisiatif dari masyarakat adat suku Mare di Maybrat dengan tujuan mengelola dan memanfaatkan wilayah adat mereka secara arif. Inisiatif itu merupakan implementasi dari Peraturan Daerah Kabupaten Maybrat Nomor 7 Tahun 2024 tentang Perlindungan Masyarakat Adat. Dalam kebijakan itu, tepatnya di Pasal 18, disebutkan bahwa dalam rangka pemanfaatan dan pengelolaan wilayah adat, masyarakat hukum adat dapat mendirikan BUMMA. Agustina punya peran dalam menjalankan inisiatif itu dan kelahiran BUMMA Mare yang mulai dibentuk sejak 2022. Pembentukannya dilakukan seturut Gerakan Menoken, sebuah gerakan masyarakat adat di Papua dengan merajut keterhubungan dan solidaritas, saling berbagi dan belajar, pengorganisasian kolektif, dalam kelenturan, keterbukaan, dan inklusivitas, membangun kepercayaan diri, serta memperkuat budaya. Gerakan ini didukung oleh Mitra BUMMA melalui Yayasan Menoken Indonesia, lembaga nonprofit di Indonesia. ”Saat pertama jadi bendahara itu saya bingung, bikin laporan salah terus. Saya belajar ulang, bukan dari nol, melainkan dari minus karena tidak pernah urus yang begini-begini,Mengelola keuangan BUMMA Mare tidak mudah, kata Agustina. Sebelum menyentuh ke persoalan pengelolaan anggaran, Agustina juga belajar banyak dengan teknologi. ”Sebelumnya saya tidak bisa pakai laptop, tidak biasa,” ujarnya. Mau tidak mau, kata Agustina, dirinya harus belajar mengoperasikan laptop. Selain laptop yang masih menjadi barang baru, Agustina juga harus beradaptasi cepat dengan berbagai aplikasi khusus untuk mengelola keuangan. ”Ayoklah, sudah setahun belajar ini masa belum bisa, ayok, kaka pasti bisa,” kata Agustina meniru ucapan mentornya saat itu. Ia belajar sampai mahir selama setidaknya dua tahun. BUMMA Mare memang fokus pada isu masyarakat adat dan hutannya. Namun, Agustina punya misi lain, ia ingin perempuan Mare juga berdaya. Keinginannya itu terlihat saat pertemuan di Kampung Sire Timur, Distrik Mare Selatan. Saat pengurus BUMMA Mare, yang mayoritas laki-laki, duduk di depan dan berbincang dengan peserta diskusi yang juga didominasi kepala keluarga, Agustina ke dapur. Ia mencari mama-mama yang sedari tadi sibuk memasak air dan menyeduh kopi. ”Mari duduk di depan,” kata Agustina sedikit memaksa. Kalimat itu sederhana, tetapi punya dampak yang luar biasa. Mama-mama malu-malu bergeser ke depan. Mereka tak mendapat tempat duduk, maka Agustina mengajak mereka duduk di lantai. Mereka menurut saja lalu mulai mendengarkan diskusi. Suara Agustina memang lantang, bahkan teman-teman pengurusnya di BUMMA Mare menganggapnya seperti kakak yang meneriaki adik. Apa yang dikatakan Agustina, yang lain manut. Agustina kembali membuka laptop, mencatat semua hasil diskusi. Saat masih mengetik, terdengar suara dari belakangnya seorang mama yang mengangkat tangan meminta bicara. Diskusi jadi kian seru dengan suara perempuan. Agustina bercerita, tantangan menjadi bendahara di lembaga yang mengurusi masyarakat adat bukan hanya pada teknologi. Ia harus mengikuti teman-teman pengurus lainnya saat ke lapangan, menelusuri hutan-hutan Maybrat, menganalisis konflik, dan banyak lagi. Apalagi, dari Desa Seya ke beberapa distrik di Mare itu bukan perkara mudah. Setiap hari, ia menggunakan sepeda motornya menempuh jarak puluhan kilometer untuk mengunjungi kampung-kampung dampingan BUMMA Mare. ”Saya pernah tidur di jalan, buat kemah di hutan juga pernah,” katanya sambil tersenyum mengenang kembali pengalaman yang lalu.Setelah diskusi, keesokan harinya Agustina pergi ke salah satu ladang milik warga. Ia berbincang dengan pemilik ladang, mencerna, dan mencatat keluhan mereka soal komoditas peladang tradisional di kampung-kampung Mare. Bagi Agustina, kehadiran BUMMA Mare itu seperti terang dalam gelap. Selama ini banyak masyarakat mengeluh kala menjual komoditasnya yang harus merogoh saku hingga Rp 2 juta hanya untuk membawa keladi ke Kota Sorong, ibu kota Provinsi Papua Barat Daya, untuk dijual. Setidaknya, para peladang suku Mare harus menyiapkan uang Rp 4 juta hanya untuk transportasi. Padahal, hasil yang dijual pun tak seberapa. Melihat masalah itu, BUMMA Mare selalu mengadakan pertemuan hingga sepakat untuk membangun Mare Mart yang akan mengelola komoditas warga, seperti koperasi untuk hasil bumi atau hasil hutan bukan kayu orang Mare. ”Sepanjang saya jalan dari kampung ke kampung, saya menyadari bahwa istilah Papua bukan tanah kosong itu benar, kami hidup berdampingan dengan alam. Perempuan juga punya hak dan punya tanggung jawab menjaganya,” kata Agustina. Agustina juga jengah dengan banyaknya konflik lahan di Maybrat dan tanah Papua pada umumnya. Ia percaya dengan melakukan identifikasi lahan dan pemetaan seperti yang ia dan teman-temannya lakukan, konflik bisa reda.tahu batas-batas lahan, tak hanya belajar sejarah orang kita sendiri, tetapi juga menghindari konflik,” ungkapnya. Agustina punya kemauan belajar yang tinggi. Sudah lebih kurang empat tahun belakangan, Agustina malang melintang bersama BUMMA Mare, berjalan dari kampung ke kampung. Ia menunjukkan, banyak hal yang bisa dilakukan meski ia lahir dari budaya yang tak jarang menyudutkan perempuan. Ia menunjukkan, dengan kemauan belajar tinggi, perempuan punya peran yang besar dalam banyak hal, termasuk menjaga lingkungannya.Pendidikan terakhir: S-1 Ilmu Pemerintahan, Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong

We have summarized this news so that you can read it quickly. If you are interested in the news, you can read the full text here. Read more:

hariankompas /  🏆 8. in İD

Jelajah Masyarakat Adat Papua Barat Daya Suku Mare Agustina Bame Sosok Utama X-Hide-Inspire-Me

 

United States Latest News, United States Headlines

Similar News:You can also read news stories similar to this one that we have collected from other news sources.

TNI Bentuk Kodam Baru di Papua Tengah, Pangdam: untuk Perpendek Rentang KomandoTNI Bentuk Kodam Baru di Papua Tengah, Pangdam: untuk Perpendek Rentang KomandoMayjen Febriel Buyung Sikumbang jelaskan pembentukan Kodam baru Papua Tengah untuk percepat penanganan keamanan dan tingkatkan kesejahteraan masyarakat.
Read more »

Anggota KKB yang Terlibat Penembakan Kapolda Papua DitangkapAnggota KKB yang Terlibat Penembakan Kapolda Papua DitangkapSatgas Damai Cartenz 2026 berhasil menangkap anggota KKB berinisial Pulan Wonda alias Kamenak di Papua Tengah yang terlibat dalam penembakan rombongan Kapolda Papua tahun 2012. Pelaku berusaha melawan dan mencoba melarikan diri sebelum akhirnya dilumpuhkan. Sejumlah barang bukti turut diamankan.
Read more »

Beri Sentuhan Humanis, Satgas Damai Cartenz Hadirkan Keceriaan Anak-anak Papua di Momen PaskahBerita Beri Sentuhan Humanis, Satgas Damai Cartenz Hadirkan Keceriaan Anak-anak Papua di Momen Paskah terbaru hari ini 2026-04-04 19:15:35 dari sumber yang terpercaya
Read more »

Makhluk Dikira Punah 6.000 Tahun Ditemukan di Papua, Masih HidupMakhluk Dikira Punah 6.000 Tahun Ditemukan di Papua, Masih HidupDua spesies marsupial yang dianggap punah 6.000 tahun lalu ditemukan hidup di Papua. Simak selengkapnya!
Read more »

Mabes Polri Kirim 148 Personel Gabungan ke Papua Tengah: Penguatan Keamanan dan HarkamtibmasBerita Mabes Polri Kirim 148 Personel Gabungan ke Papua Tengah: Penguatan Keamanan dan Harkamtibmas terbaru hari ini 2026-04-05 03:00:14 dari sumber yang terpercaya
Read more »

Polri perkuat keamanan di Maluku Utara dan Papua TengahPolri perkuat keamanan di Maluku Utara dan Papua TengahKepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) merespons situasi keamanan dan ketertiban di wilayah Papua Tengah dan Maluku Utara dengan memperkuat pengamanan ...
Read more »



Render Time: 2026-04-14 08:54:10