Andris Kobun, penyintas letusan Gunung Lewotobi masih bisa tertawa meski beras di huntara tinggal segenggam saja. Ia sempat berpikir untuk kembali ke zona maut.
Bagaimana Andris Kobun dan penyintas lainnya berjuang untuk bertahan hidup? Laki-Laki, terdengar tawa renyah Andris Kobun. Namun, siapa sangka di balik wajah cerianya itu, ia tengah gelisah menahan lapar.
Stok beras di gubuknya kini tinggal segenggam tangan, cukup mungkin untuk sekali makan, lalu apa lagi? Jumat malam, 1 Mei 2026, menjadi saksi ketangguhan pemuda 23 tahun ini. Andris, yang kini hidup sebatangkara setelah kehilangan kedua orang tuanya, harus memutar otak setiap hari demi sesuap nasi. Masih segar dalam ingatannya, bantuan beras terakhir diterimanya pada bulan Februari 2026 lalu.
Saat itu, ia mendapat jatah 3 kilogram untuk bertahan 15 hari pertama. Sejak itu, hingga memasuki bulan Mei, sudah lebih dari 80 hari bantuan logistik pokok itu tak kunjung datang.
"Terakhir dapat beras Februari, sekarang sudah Mei, tidak ada lagi. Stok di sini tinggal dua genggam tangan," ujar Andris pelan namun tetap disertai senyum khasnya. Demi bertahan hidup, Andris tak berdiam diri. Ia memberanikan diri berjualan kue, sebuah keahlian yang diwariskan langsung oleh mendiang ibunda tercinta, Helena Diaz.
Modal ia dapatkan dari sanak famili yang tinggal di luar daerah. Setiap pagi dan sore, Andris berkeliling di lorong-lorong huntara. Ia memanfaatkan waktu luang warga yang sedang bersantai menyeruput kopi. Namun, realita ekonomi di lokasi pengungsian tak mudah.
Penghasilannya tak menentu, rata-rata hanya sekitar Rp30.000 per hari, dan seringkali dagangannya tak ludes terjual karena daya beli warga yang sangat lemah. Kondisi serupa dirasakan hampir seluruh penghuni huntara. Meskipun kini mulai tumbuh benih-benih ekonomi mandiri seperti kios sembali, penjual ikan, hingga usaha mebel, namun uang tetap sulit didapat. Sekitar 90 persen pengungsi adalah petani.
Dua tahun dilanda erupsi membuat lahan mereka tak menentu hasilnya. Meski status gunung masih waspada dan erupsi terakhir terpantau pada 26 April lalu, banyak penyintas nekat kembali masuk ke zona merah. Mereka rela menempuh perjalanan jauh dengan ongkos Rp30.000, bahkan menginap berhari-hari di sana demi menggarap kebun.
"Kalau soal lauk, kami bisa cari, bisa panen sedikit atau tanam di sekitar huntara. Tapi beras itu yang paling susah dan paling butuh," tambahnya. Andris mengaku sedih jika ada yang menilai warga pengungsi hanya berdiam diri dan meminta-minta. Padahal, setiap detik mereka berjuang mengais rezeki di tengah beban psikis kehilangan rumah dan masa depan yang tak pasti.
Di sisi lain, permohonan warga untuk tinggal di huntara kian menguat, terutama setelah Dana Tunggu Hunian tak lagi cair dan mereka mulai tidak betah menumpang di rumah kerabat. Menanggapi kelangkaan beras ini, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Flores Timur, Maria Goreti A.C Nebo Tukan, membenarkan bahwa stok di gudang saat ini sudah kosong.
"Stok beras di gudang sudah habis. Sisa yang ada sudah kita salurkan ke Adonara untuk korban gempa," ungkap Goreti. Meski demikian, pihaknya memastikan pemerintah terus berupaya mencari solusi. Anggaran melalui pos Belanja Tak Terduga sedang dalam proses pengajuan untuk pembelian beras baru.
"Di BTT memang lagi diajukan untuk bisa beli beras. Yang di Dinsos juga sudah dibelanjakan, mungkin proses pengirimannya belum turun," jelasnya. Sementara menunggu bantuan itu turun, Andris dan ribuan penyintas lainnya akan terus bertahan. Menjual kue, bekerja keras, dan tetap tersenyum, meski tahu bahwa besok, beras di wadah mereka mungkin sudah tak bersisa.
*Modus Licik Penyebar Uang Palsu di Sumut Terbongkar, Menyasar Pedagang-Pedagang Kecil di PasarSopir Mengantuk, Avanza Seruduk Pasutri di Lampung hingga KritisPengemudi Harley Penabrak Bocah Hingga Tewas di Toraja Utara Ditetapkan TersangkaCerita di Balik Suara Merdu Pelantun Selawat yang Sambut Jemaah Haji Indonesia dengan HangatSuhu Arab Saudi Capai 42 Derajat Celcius, Sejumlah Jemaah Haji Lansia BertumbanganCerita Jemaah Haji Tertua Se-Indonesia Tiba di Tanah Suci, Usianya Lebih dari 1 Abad
Pengungsi Gunung Lewotobi Laki-Laki Gunung Lewotobi Laki-Laki Hunian Sementara Hunian Sementara Pengungsi Penyintas Letusan Gunung Lewotobi Pro Gunung Lewotobi
United States Latest News, United States Headlines
Similar News:You can also read news stories similar to this one that we have collected from other news sources.
Kisah Perempuan Adat Enggros Jaga Hutan Perempuan di Teluk Yotefa dari Ancaman SampahBagi perempuan adat Enggros, hutan menjadi sumber kehidupan. Dari hutan, mereka mendapatkan bahan konsumsi dan penghasilan. Hutan Perempuan di Kampung Enggros,
Read more »
Kisah Robohnya Kerajaan Bisnis Salim Usai Berjaya 3 DekadeSudono Salim, konglomerat Indonesia, menjalin hubungan erat dengan Soeharto. Namun, kedekatan ini berujung malapetaka saat krisis 1998 menghancurkan bisnisnya.
Read more »
Gunung Semeru Erupsi Lagi, Warga Diminta Jauhi Radius 13 Km dari KawahGunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur kembali erupsi. BPBD Lumajang mengimbau warga untuk menjauhi lereng Gunung Semeru meskipun statusnya masih level tigas atau siaga.
Read more »
Satgas PKH Tangkap 16 WN Tiongkok di Gunung Botak, Bongkar Praktik Prostitusi dan Jual Beli MirasLangkah tegas diambil oleh Satuan Tugas (Satgas) Penertiban Kawasan Hutan (PKH) di Gunung Botak, Pulau Buru, Maluku. Bersama Kodam XV/Pattimura, satgas tersebut menindak tegas aktivitas penambangan
Read more »
Dua anak harimau sumatra lahir dari induk penyintas jerat di LampungLembaga Konservasi (LK) Lembah Hijau, Lampung mencatatkan keberhasilan dalam upaya pelestarian satwa dilindungi dengan lahirnya dua ekor anak harimau sumatra ...
Read more »
Satgas PRR Tuntaskan Huntara di Sumut dan Sumbar, Pembangunan Huntap Kian DipercepatSatgas PRR Pascabencana Sumatera terus mempercepat penyediaan hunian layak bagi penyintas bencana hidrometeorologi.
Read more »



