Wartawan keturunan Tionghoa yang memilih jadi WNI, kemudian dituduh PKI dan dipenjara - BBC News Indonesia

Indonesia Berita Berita

Wartawan keturunan Tionghoa yang memilih jadi WNI, kemudian dituduh PKI dan dipenjara - BBC News Indonesia
Indonesia Berita Terbaru,Indonesia Berita utama
  • 📰 BBCIndonesia
  • ⏱ Reading Time:
  • 40 sec. here
  • 2 min. at publisher
  • 📊 Quality Score:
  • News: 19%
  • Publisher: 50%

Sebagai keturunan Tionghoa pada 1965, Oei Hiem Wie memilih untuk menjadi WNI. Namun ia kemudian dituduh PKI dan ditahan di Pulau Buru, tempat ia bertemu dengan penulis ternama Pramoedya Ananta Toer

Setelah dia ditangkap, koleksi bukunya pun dijarah dan dibakar.lama dibawa ke Jawa Tengah. Sampai Jawa Tengah nyabrang laut, dibawa ke Nusa Kambangan," kata Hwie.

Di dalam tahanan pula, Hwie diminta mengganti nama Tionghoanya menjadi nama Indonesia, namun dia menolak. Ketika dipaksa, akhirnya dia mengatakan pada interogatornya, "Terserah Bapak, kalau mau ganti, ganti saja". Di Pulau Buru, Hwie ditempatkan di Unit 4, Savanajaya. Tahanan ditugaskan membabat alas dan menanam padi."Harus macul , babat, tandur , saya tidak pernah bekerja begitu sebelumnya," kata Hwie.

Saat itu, Hwie sudah mengenal sosok Pramoedya karena sering datang meliput ceramah-ceramah yang diadakan oleh Pram. "Waktu itu belum dekat, baru di tahanan itu menjadi dekat sekali." Hwie yang saat ini berusia 85 tahun bicara dengan suara pelan dan perlahan. Namun ketika menceritakan tentang Soekarno dan Pram, suaranya menjadi penuh antusiasme.

Berita ini telah kami rangkum agar Anda dapat membacanya dengan cepat. Jika Anda tertarik dengan beritanya, Anda dapat membaca teks lengkapnya di sini. Baca lebih lajut:

BBCIndonesia /  🏆 42. in İD

Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama

Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.

Generasi Muda Jangan Lupakan Peristiwa G30S PKIGenerasi Muda Jangan Lupakan Peristiwa G30S PKIGENERASI muda tidak boleh melupakan pahlawan revolusi dan peristiwa G30S PKI sebagai bangsa yang besar ialah menghargai jasa pahlawannya.
Baca lebih lajut »

Semalam, Golkar DKI Jakarta Gelar Nobar Film G30S/PKISemalam, Golkar DKI Jakarta Gelar Nobar Film G30S/PKISejarah kelam pengkhianatan PKI atas Pancasila dan NKRI tidak boleh dilupakan oleh masyarakat, termasuk juga generasi muda penerus bangsa.
Baca lebih lajut »

Ahmed Zaki: Nobar Film G30-S/PKI untuk Mengenang Jasa Pahlawan RevolusiAhmed Zaki: Nobar Film G30-S/PKI untuk Mengenang Jasa Pahlawan RevolusiBupati Tangerang ini juga mengajak warga serta masyarakat sekitar kantor DPD Golkar DKI dan warga Jakarta meramaikan nobar film G30-S/PKI.
Baca lebih lajut »

Muhammadiyah Minta Masyarakat Hentikan Polemik Soal G30S/PKIMuhammadiyah Minta Masyarakat Hentikan Polemik Soal G30S/PKIMu'ti minta agar peristiwa seputar itu tak perlu ditutupi lagi. Pasalnya ia menilai bahwa hal itu bukanlah sebuah aib.
Baca lebih lajut »

Survei SMRC: Mayoritas Publik Tidak Percaya Adanya Kebangkitan PKISurvei SMRC: Mayoritas Publik Tidak Percaya Adanya Kebangkitan PKISurvei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menemukan bahwa mayoritas publik tidak percaya dengan adanya kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Baca lebih lajut »

Vision+ Angkat Docuseries Restoran Legendaris Kawasan Kota |Republika OnlineVision+ Angkat Docuseries Restoran Legendaris Kawasan Kota |Republika OnlineOnce Upon a Time in Chinatown mengisahkan restoran yang lekat dengan budaya Tionghoa
Baca lebih lajut »



Render Time: 2025-02-26 21:53:06