Kepercayaan publik Eropa terhadap jaminan keamanan AS anjlok. Survei ECFR menunjukkan mayoritas warga Eropa meragukan komitmen AS dalam pertahanan.
- Kepercayaan publik Eropa terhadap jaminan keamanan Amerika Serikat anjlok ke titik terendah dalam sejarah modern. Di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan kontroversi kebijakan Presiden AS Donald Trump , mayoritas warga Eropa kini tidak lagi yakin Washington akan datang membantu jika negara mereka diserang.
Temuan itu terungkap dalam survei terbaru yang dirilis lembaga pemikir European Council on Foreign Relations pada Rabu , menjelang rangkaian pertemuan penting para pemimpin negara-negara Barat dalam forum G7 dan NATO yang akan digelar dalam beberapa pekan mendatang. Laporan tersebut menggambarkan perubahan besar dalam persepsi masyarakat Eropa terhadap sekutu tradisional mereka.
Jika selama puluhan tahun AS dipandang sebagai penjamin utama keamanan benua Eropa, kini tingkat kepercayaan itu merosot tajam.9 Update Baru AS Serang Iran: Teheran Rudal Arab, China-Rusia Teriak Survei yang dilakukan pada Mei lalu di 15 negara Eropa, yakni Austria, Bulgaria, Denmark, Estonia, Prancis, Jerman, Hungaria, Italia, Belanda, Polandia, Portugal, Spanyol, Swedia, Swiss, dan Inggris, menemukan hanya 11% responden yang masih memandang AS sebagai sekutu. Angka tersebut turun dari 16% enam bulan lalu dan merosot jauh dibandingkan November 2024 yang masih mencapai 22%.
Mayoritas responden kini menilai AS bukan lagi sekutu dekat, melainkan sekadar"mitra yang diperlukan". Bahkan, 13% warga Eropa menyebut AS sebagai rival, sementara 12% lainnya menganggap negeri itu sebagai musuh langsung. Temuan yang lebih mencolok adalah hilangnya keyakinan bahwa AS akan memenuhi komitmen pertahanannya jika negara-negara Eropa menghadapi serangan militer. Mayoritas responden di seluruh negara yang disurvei menyatakan tidak lagi percaya Washington akan datang membantu dalam situasi tersebut.
Sebaliknya, banyak warga Eropa justru lebih yakin negara-negara tetangga di kawasan akan memberikan bantuan jika terjadi krisis keamanan. Kecuali di Bulgaria, mayoritas responden di berbagai negara, termasuk Prancis, Italia, Belanda, dan Swedia yang memiliki kekuatan partai sayap kanan cukup besar, percaya bahwa"setidaknya beberapa negara Eropa" akan datang membantu mereka jika diserang. Menurut laporan ECFR, sejumlah kebijakan Trump menjadi faktor utama yang mendorong perubahan persepsi tersebut.
Di antaranya adalah sikap agresif AS di Timur Tengah, ancaman terhadap Greenland, pernyataan mengenai kemungkinan penarikan pasukan AS dari pangkalan-pangkalan militer di Eropa, hingga keraguan Trump terhadap masa depan NATO. Meski demikian, banyak warga Eropa tetap meyakini hubungan transatlantik akan membaik setelah Trump tidak lagi menjabat sebagai presiden. Di hampir seluruh negara yang disurvei, pandangan dominan menyebut hubungan AS-Eropa kemungkinan akan"menjadi lebih baik" setelah Trump meninggalkan Gedung Putih.
Pandangan tersebut dianut oleh lebih dari 60% responden di Prancis, Spanyol, Denmark, Belanda, dan Swedia. Temuan lain yang menonjol adalah meningkatnya dukungan terhadap upaya memperkuat pertahanan Eropa secara mandiri. Jana Kobzová, salah satu penulis laporan sekaligus peneliti senior ECFR, mengatakan warga Eropa kini semakin siap mengurangi ketergantungan terhadap Washington.
"Di seluruh benua, ada dukungan yang jelas untuk mengurangi ketergantungan pada Washington," kata Kobzová. "Warga Eropa semakin terbuka terhadap peningkatan belanja pertahanan dan, yang terpenting, menunjukkan tingkat kepercayaan yang mencolok bahwa negara-negara tetangga akan datang membantu mereka dalam sebuah krisis. " Rekan penulis laporan, Paweł Zerka, menilai perubahan sikap publik tersebut menciptakan momentum bagi para pemimpin Eropa untuk mempercepat pembangunan kapasitas pertahanan kawasan.
Menurutnya, tuntutan masyarakat untuk lebih mandiri dan mengurangi ketergantungan pada jaminan keamanan AS telah"menciptakan jendela peluang bagi para pemimpin Eropa untuk bergerak lebih jauh dan lebih cepat" dalam bidang keamanan. Survei menunjukkan warga Eropa kini rata-rata 4% lebih mendukung peningkatan anggaran pertahanan nasional dibandingkan tahun lalu. Italia menjadi satu-satunya negara yang mayoritas respondennya masih menolak peningkatan belanja militer. Sementara itu, 47% responden mendukung skema utang bersama Uni Eropa untuk membiayai peningkatan pertahanan, sedangkan 35% menolaknya.
Dukungan terbesar muncul di Portugal , Denmark , Belanda , dan Spanyol. Tren lain yang menguat adalah dorongan untuk mengurangi ketergantungan terhadap persenjataan buatan AS. Di hampir seluruh negara yang disurvei, mayoritas responden menyatakan negaranya perlu mengurangi ketergantungan strategis pada perangkat militer Amerika. Pendukung konsep"beli produk Eropa" paling banyak ditemukan di Denmark , Belanda , Swedia , Portugal , Prancis , Swiss , Inggris , dan Spanyol .
Namun, ketika ditanya apakah peningkatan belanja pertahanan harus dibiayai dengan pemangkasan anggaran publik domestik, dukungan langsung menurun tajam. Penolakan terbesar muncul di Italia , Austria , Jerman , Spanyol , dan Denmark . Hanya 29% responden yang mendukung pembentukan organisasi pertahanan baru yang sepenuhnya berbasis Uni Eropa untuk menggantikan NATO. Artinya, mayoritas warga masih melihat aliansi Atlantik Utara tersebut sebagai fondasi utama keamanan Eropa, meski mereka mulai mempertanyakan reliabilitas Washington sebagai pemimpin aliansi.
Survei juga menunjukkan masyarakat Eropa masih berhati-hati terhadap Rusia. Meski harga energi meningkat, sebanyak 44% responden mengatakan melanjutkan impor minyak dan gas Rusia akan menjadi ide yang"cukup buruk" atau bahkan"sangat buruk". Di sejumlah negara seperti Hungaria, Bulgaria, Austria, Jerman, bahkan Estonia yang selama ini dikenal sebagai salah satu pendukung paling kuat Kyiv, jumlah responden yang menolak keanggotaan Ukraina di Uni Eropa dalam kondisi saat ini lebih besar dibandingkan mereka yang mendukungnya.
Kepercayaan Publik Keamanan Eropa Survei Ecfr Hubungan Transatlantik Nato Kebijakan Luar Negeri Pertahanan Eropa Ketidakpastian Geopolitik Opini Publik Eropa.
Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama
Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.
Presiden Dewan Eropa: Uni Eropa Perlu Percepat Keanggotaan Negara Balkan BaratAntonio Costa, Presiden Dewan Eropa, menekankan perlunya Uni Eropa mempercepat proses keanggotaan enam negara di Balkan Barat. Pernyataan ini disampaikan menjelang KTT Uni Eropa-Balkan Barat di Montenegro. Menurut Costa, perluasan Uni Eropa ke kawasan tersebut adalah investasi geopolitik paling penting. KTT tersebut menjadi ajang untuk membahas cara memproses keanggotaan dengan lebih cepat dan meningkatkan kepercayaan antarnegara. Namun, hubungan antarnegara kandidat seperti larangan Montenegro terhadap warga Serbia berpotensi mengganggu jalannya pertemuan.
Baca lebih lajut »
KSEI: Public Expose Live 2026 Jadi Ajang Emiten Rebut Kepercayaan InvestorKSEI sebut Public Expose Live 2026 jadi wadah krusial bagi emiten untuk pamer kinerja sekaligus merebut kepercayaan para investor dan calon investor.
Baca lebih lajut »
Prabowo Sampaikan Permohonan Maaf atas Keterlambatan Penerimaan Surat Kepercayaan 8 DubesPrabowo minta maaf atas keterlambatan terima surat kepercayaan 8 dubes di Jakarta. Jadwal padat jadi alasan.
Baca lebih lajut »
Kepercayaan Pasar Harus Dipulihkan untuk Redam Sentimen 'Sell Indonesia'Dinamika yang terjadi di pasar keuangan dalam beberapa waktu terakhir perlu disikapi dengan cara memulihkan dan memperkuat kepercayaan pelaku pasar,
Baca lebih lajut »




