Penurunan ini sejalan dengan kembali normalnya pola konsumsi masyarakat.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Survei Bank Indonesia mencatat tingkat penjualan eceran pada Juni 2019 mengalami penurunan. Hal itu tercermin dari Indeks Penjualan Riil Juni sebesar 233,6 persen atau turun 1,8 persen secara tahunan.
Menurut dia, penurunan terjadi terutama pada kelompok bahan bakar kendaraan bermotor dan kelompok barang budaya dan rekreasi. Tercatat, IPR kelompok bahan bakar kendaraan bermotor turun 10,9 persen menjadi 76,1. Lalu, IPR kelompok barang budaya dan rekreasi kontraksi 8,8 persen menjadi 112,9. “Penjualan eceran diperkirakan kembali tumbuh positif pada Juli 2019 antara lain didorong oleh tahun ajaran baru sekolah,” jelas Ony.
Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama
Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.
Survei Cyrus: Masyarakat Berharap Terbentuk Pemerintahan EfektifMasyarakat berharap Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 lalu bisa menghasilkan pemerintahan...
Baca lebih lajut »
Survei Cyrus: 33 Persen Setuju Pemerintah Bantu Rizieq PulangDari 1.230 responden, 15,1 persen tidak setuju dan 24,2 persen biasa saja. Hanya 2,6 responden yang sangat tidak setuju pemerintah bantu Rizieq pulang.
Baca lebih lajut »
Survei Cyrus: 42,8 Persen Masyarakat Ingin Jokowi Ajak Prabowo Gabung PemerintahKeinginan masyarakat tersebut sebagian besar merupakan dampak pertemuan antara Jokowi dan Prabowo pada 13 Juli 2019
Baca lebih lajut »
Survei Cyrus: 33,3% Responden Setuju Habib Rizieq DipulangkanMayoritas masyarakat menginginkan pemerintah membantu dan berperan aktif dalam pemulangan Imam Besar Front Pembela Islam...
Baca lebih lajut »
Survei Cyrus Network: 13 Persen Responden Pengin Indonesia Berlandaskan Syariat IslamBerdasarkan hasil survei Cyrus Network, penerimaan masyarakat terhadap Pancasila tidak sampai 100 persen. CyrusNetwork
Baca lebih lajut »
Survei Cyrus: 90% Publik Menerima Hasil Pemilu 2019Dukungan publik merupakan sinyal bahwa masyarakat lelah terhadap pemecahbelahan politik.
Baca lebih lajut »