Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati masih optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2020 tetap positif walaupun kuartal II diproyeksikan negatif. via detikfinance
masih optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2020 tetap positif walaupun kuartal II diproyeksikan negatif.
"Juni daerah seperti DKI dan yang lain-lain sudah mulai melakukan pada minggu keduanya, ada beberapa relaksasi atau perubahan ," kata dia dalam konferensi pers virtual APBN KiTa, Selasa .Dia menjelaskan tekanan paling berat bagi perekonomian Indonesia akibat pandemi COVID-19 terjadi di Mei. Diharapkan bulan ini mulai ada pemulihan.
Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama
Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.
Sri Mulyani: Kita Bisa Hindari Resesi EkonomiResesi bisa dihindari apabila pertumbuhan ekonomi RI pada kuartal ketiga mendekati nol. Sebab, pada kuartal II pertumbuhannya diproyeksi minus 3,1 persen.
Baca lebih lajut »
DPR Restui Kerangka Ekonomi Makro 2021 Sri Mulyani, Ini IsinyaDPR RI memberikan restu atas kerangka kebijakan ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal tahun 2021 yang telah disusun oleh pemerintah. Ini isinya: via detikfinance
Baca lebih lajut »
Sri Mulyani Sebut Ekonomi Global Penyebab Penurunan EksporBPS mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Mei mengalami surplus sekitar USD2,1 miliar, karena penurunan nilai impor...
Baca lebih lajut »
Sri Mulyani Perkirakan Ekonomi RI Pulih Mulai JuliMenteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan pemulihan ekonomi terjadi mulai Juli. Padahal, proyeksi PDB kuartal II negatif 3,1 persen.
Baca lebih lajut »
Sri Mulyani Proyeksi Laju Ekonomi Kuartal II Minus 3,1 PersenMenteri Keuangan Sri Mulyani memproyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal kedua minus 3,1 persen karena kebijakan PSBB di tengah pandemi corona.
Baca lebih lajut »
Sri Mulyani Sebut Realisasi Stimulus Fiskal Masih Tersendatimplementasi stimulus fiskal di bidang kesehatan masih sangat kecil meskipun anggarannya sudah dinaikkan menjadi Rp 87,5 triliun.
Baca lebih lajut »