Risiko yang Harus Dipikul Jika BI Mencetak Uang untuk Memulihkan Ekonomi

Indonesia Berita Berita

Risiko yang Harus Dipikul Jika BI Mencetak Uang untuk Memulihkan Ekonomi
Indonesia Berita Terbaru,Indonesia Berita utama
  • 📰 temponewsroom
  • ⏱ Reading Time:
  • 69 sec. here
  • 3 min. at publisher
  • 📊 Quality Score:
  • News: 31%
  • Publisher: 63%

Cermat Berbagi Beban Agar Selamat

DALAM tempo hanya dua bulan, pemerintah terpaksa merevisi lagi anggaran secara kilat lewat peraturan presiden. Itulah dampak wabah Covid-19 yang sangat membebani keuangan negara. Defisit anggaran pun membengkak luar biasa. Aslinya, anggaran 2020 hanya merencanakan defisit Rp 370,2 triliun. Pada revisi pertama 3 April lalu, lewat Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2020, defisitnya Rp 852,9 triliun.

Sejak Januari hingga Mei, pemerintah telah menarik utang baru senilai Rp 569 triliun. Dus, hingga akhir tahun nanti pemerintah harus menggali utang Rp 1.078 triliun lagi. Sebagian kecil bisa berasal dari pinjaman luar negeri, seperti dari lembaga-lembaga multilateral. Namun sebagian besarnya akan berasal dari penjualan surat utang alias obligasi dalam rupiah. Ini bukan perkara mudah.

Ada jalan pintas untuk mengatasi masalah ini, yakni Bank Indonesia yang bertindak menjadi penyelamat. Bank sentral mencetak uang untuk membeli obligasi langsung dari penerbitnya, yakni pemerintah. Dus, bank sentral membeli obligasi yang masih “segar” alias baru terbit di pasar perdana, bukan obligasi yang sudah beredar dan diperdagangkan di pasar finansial. Ini dapat meringankan beban pemerintah yang tak usah repot menjual obligasi ke pasar dan bisa membayar bunga lebih rendah.

Istilahnya, inilah mekanisme pembagian beban antara otoritas fiskal dan moneter demi memulihkan ekonomi yang tergebuk pagebluk Covid-19. Ini jelas bukan perkara ringan. Ibarat obat keras, pembelian obligasi di pasar perdana oleh BI juga punya efek samping sangat serius. Jika tidak berhati-hati menjalankannya, solusi ini justru bisa menimbulkan masalah lebih berat daripada persoalan yang diobatinya. Suntikan rupiah dalam jumlah yang berlebihan sudah pasti akan menggoyahkan nilainya.

Berita ini telah kami rangkum agar Anda dapat membacanya dengan cepat. Jika Anda tertarik dengan beritanya, Anda dapat membaca teks lengkapnya di sini. Baca lebih lajut:

temponewsroom /  🏆 13. in İD

Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama

Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.

Jubir Pemerintah Ingatkan Risiko Tertular Covid-19 jika Pergi ke MalJubir Pemerintah Ingatkan Risiko Tertular Covid-19 jika Pergi ke Mal\nMenurut Yuri, sebaiknya masyarakat selalu ingat risiko terpapar Covid-19 jika bepergian ke pusat keramaian.
Baca lebih lajut »

PSSI Ogah Ambil Risiko Jika TC Timnas Indonesia Digelar di Luar NegeriPSSI Ogah Ambil Risiko Jika TC Timnas Indonesia Digelar di Luar NegeriKetua Umum PSSI Mochamad Iriawan mengatakan pemusatan latihan (TC) Timnas Indonesia kemungkinan besar akan digelar di dalam negeri. TimnasIndonesia
Baca lebih lajut »

Ini yang harus dilakukan UMKM untuk bersaing dengan produk imporIni yang harus dilakukan UMKM untuk bersaing dengan produk imporPelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia perlu menjalankan strategi digital untuk bisa bersaing dengan produk impor karena secara kualitas ...
Baca lebih lajut »

Serapan Insentif untuk Industri Baru 6,8%, Pemerintah Harus Apa?Serapan Insentif untuk Industri Baru 6,8%, Pemerintah Harus Apa?Berbagai insentif yang ditebar oleh pemerintah untuk mengendalikan dampak ekonomi akibat pandemi Corona dinilai belum optimal. Lalu harus apa? EkonomiRI via detikfinance
Baca lebih lajut »



Render Time: 2025-02-27 05:37:20