Radio Tak Bersegel, Rengasdengklok dan Proklamasi Kemerdekaan RI

Indonesia Berita Berita

Radio Tak Bersegel, Rengasdengklok dan Proklamasi Kemerdekaan RI
Indonesia Berita Terbaru,Indonesia Berita utama
  • 📰 SINDOnews
  • ⏱ Reading Time:
  • 81 sec. here
  • 3 min. at publisher
  • 📊 Quality Score:
  • News: 36%
  • Publisher: 51%

Radio Tak Bersegel, Rengasdengklok dan Proklamasi Kemerdekaan RI BangkitdariPandemi 75tahunmerdeka

secara bebas. Hanya radio-radio yang sudah tersegel atas izin Jepang yang boleh dimiliki dan digunakan penduduk di Indonesia. Sutan Sjahrir punya kegemaran mendengarkan siaran radio. Sjahrir memilik sebuah radio kesayangan berwarna gelap yang selalu disembunyikan di kamar tidurnya.

Menurut Rosihan, Sjahrir dapat menangkap siaran-siaran berita luar negeri yang tidak disiarkan penguasa Jepang saat itu dengan menggunakan radio tak bersegel tersebut. Termasuk siaran dari radio Brisbane yang dipancarkan Pemerintah Hindia Belanda dalam pembuangan di Australia. “Dari siaran itu, Sjahrir bahkan mendengarkan informasi tentang teman-temannya di daerah pembuangan,” cerita Rosihan Anwar dalam bukunya berjudul Sutan Sjahrir: Negarawan Humanis, Demokrat Sejati yang Mendahului Zamannya.

Setelah mendengar desas-desus Jepang bakal bertekuk lutut kepada sekutu, golongan muda pejuang Indonesia mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun golongan tua tidak ingin terburu-buru. Mereka tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah pada saat proklamasi.

Kemudian Soekarno dan Hatta bersama Soebardjo ke kantor Bukanfu, Laksamana Muda Maeda, di Jalan Medan Merdeka Utara . Maeda menyambut kedatangan mereka dengan ucapan selamat datang sambil menjawab dia belum menerima konfirmasi serta masih menunggu instruksi dari Tokyo. Di sisi lain, para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana terbakar gelora heroismenya setelah berdiskusi dengan Tan Malaka yang tergabung dalam gerakan bawah tanah untuk memperjuangkan kemerdekaan RI tanpa melibatkan Jepang.

Di Jakarta, pejuang muda Wikana, dan golongan tua yaitu Ahmad Soebardjo melakukan perundingan. Ahmad Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. Lalu diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok.

Berita ini telah kami rangkum agar Anda dapat membacanya dengan cepat. Jika Anda tertarik dengan beritanya, Anda dapat membaca teks lengkapnya di sini. Baca lebih lajut:

SINDOnews /  🏆 40. in İD

Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama

Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.

Restoran Ramen Pertama di Jepang Buka Kembali Setelah 44 Tahun TutupRestoran Ramen Pertama di Jepang Buka Kembali Setelah 44 Tahun TutupSebelumnya restoran ramen pertama di Jepang, Rairaken, sempat tutup selama 44 tahun karena tak ada generasi yang meneruskan.
Baca lebih lajut »

Rangkaian foto perayaan kekalahan Jepang dan berakhirnya Perang Dunia II - BBC News IndonesiaRangkaian foto perayaan kekalahan Jepang dan berakhirnya Perang Dunia II - BBC News IndonesiaHari ini menjadi peringatan 75 tahun Jepang menyerah kepada tentara Sekutu pada 1945, yang sekaligus menandai berakhirnya Perang Dunia II. Berikut perayaan kemenangan Sekutu, dalam gambar.
Baca lebih lajut »

Lembaga Pelatihan Kerja Unusa Buka Kelas Khusus Calon Pekerja ke JepangLembaga Pelatihan Kerja Unusa Buka Kelas Khusus Calon Pekerja ke JepangNahdlatul Ulama Surabaya membuka kelas khusus bagi calon pekerja yang akan bekerja di Jepang. Pelatihan ini di kelola oleh...
Baca lebih lajut »

Cerita di Balik Monumen Kali Bekasi, tentang Pembantaian Tentara Jepang dan Sungai yang MemerahCerita di Balik Monumen Kali Bekasi, tentang Pembantaian Tentara Jepang dan Sungai yang MemerahMonumen itu dibangun untuk menyampaikan pesan perdamaian dan cinta kasih.
Baca lebih lajut »



Render Time: 2025-04-03 09:30:27