PGRI menyebut 65 persen anak siap ke sekolah dan 53 guru siap mengajar
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia Prof Unifah Rosyidi mengatakan sebanyak 85,5 persen orang tua cemas anaknya kembali ke sekolah pada tahun ajaran baru. "PGRI juga melakukan sejumlah survei terkait dengan harapan orang tua, anak, dan guru terhadap rencana pembukaan sekolah. Sebanyak 85,5 persen orang tua cemas jika sekolah dimulai pada pertengahan Juli ini," ujar Unifah dalam halal bihalal virtual di Jakarta, Sabtu .
PGRI juga melakukan serangkaian survei periodik terkait dengan kesiapan guru dengan pembelajaran online atau pembelajaran jarak jauh. Meski demikian, PGRI meminta agar tahun ajaran baru tetap dengan menggunakan metode pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh.
Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama
Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.
85,5 persen orang tua cemas anaknya kembali sekolahKetua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Prof Unifah Rosyidi mengatakan sebanyak 85,5 persen orang tua cemas anaknya kembali ke ...
Baca lebih lajut »
Bertambah, Pasien Covid-19 di Magetan Menjadi 85 Orang |Republika OnlineTambahan satu pasien positif Covid-19 berasal dari PDP Magetan
Baca lebih lajut »
Italia Laporkan 85 Kematian Covid-19, Lombardy Masih BermasalahWilayah utara Lombardy tetap menjadi pusat penyebaran, mencatat jumlah infeksi baru yang mengkhawatirkan.
Baca lebih lajut »
85 Tahun Syafii Maarif, Azyumardi Azra: Dia Seorang Demokrat\n'Kita tahu bahwa di dalam Buya Syafii Maarif ini di tulang rusuknya, di tulang sum-sumnya itu adalah seorang demokrat,' kata Azyumardi.
Baca lebih lajut »
85 Kabupaten/Kota Zona Merah Penyebaran CoronaAngka reproduksi atau penularan virus corona di 85 kabupaten/kota itu masih di atas 1. Kondisi ini menunjukkan kasus positif Covid-19 masih akan bertambah.
Baca lebih lajut »
PGRI : Pemerintah Perlu Susun Kurikulum Era Pandemi untuk SekolahDia menambahkan kurikulum sekarang yang padat konten, sulit mendorong anak untuk belajar secara mandiri di rumah.
Baca lebih lajut »