Beyond the Breaking News

Perluasan Intervensi Negara: Risiko dan Kesalahan

Ekonomi Berita

Perluasan Intervensi Negara: Risiko dan Kesalahan
Perluasan Intervensi NegaraRisiko Kegagalan NegaraKesalahan Percaya Diri Negara

Artikel ini membahas tentang perlunya negara hadir lebih besar dalam berbagai ruang ekonomi, seperti hilirisasi, penguatan peran BUMN, pembentukan Danantara, program Makan Bergizi Gratis (MBG), koperasi desa, hingga wacana pembentukan badan ekspor nasional. Namun, artikel juga mengingatkan bahwa negara bukanlah institusi yang sempurna dan dapat gagal. Ketika kegagalan pasar dibesar-besarkan, sementara kegagalan negara diabaikan, intervensi yang awalnya dimaksudkan sebagai solusi justru berpotensi menciptakan distorsi baru. Artikel juga mengingatkan pentingnya membangun kapasitas institusinya sendiri sebelum memperluas intervensi negara.

Di Indonesia, hampir setiap persoalan ekonomi tampaknya selalu bermuara pada kesimpulan yang sama, yakni negara harus hadir lebih besar. Negara masuk ke berbagai ruang ekonomi melalui hilirisasi, penguatan peran BUMN, pembentukan Danantara, program Makan Bergizi Gratis (MBG), koperasi desa, hingga wacana pembentukan badan ekspor nasional.

Hampir seluruh kebijakan tersebut lahir dari diagnosis yang serupa: pasar dianggap gagal menghasilkan hasil ekonomi yang diinginkan. Logika tersebut tentu bukan tanpa dasar. Berbagai literatur ekonomi membuktikan bahwa kegagalan pasar memang benar terjadi. Joseph Stiglitz (1989) menyampaikan bahwa pasar tidak dapat berfungsi secara efektif dan adil apabila ada informasi yang asimetris, eksternalitas, monopoli, atau masalah koordinasi.

Di Indonesia saat ini, beragam persoalan ekonomi, seperti ketimpangan, lemahnya industrialisasi, dominasi oligopoli, dan rendahnya nilai tambah sumber daya alam, memang sering dipandang sebagai manifestasi kegagalan pasar. Oleh karena itu, negara memang memiliki peran penting untuk melakukan koreksi ketika pasar gagal bekerja secara optimal. Namun, persoalannya muncul ketika keberadaan kegagalan pasar langsung diasumsikan sebagai justifikasi otomatis bagi perluasan intervensi negara. Seolah-olah setiap persoalan ekonomi selalu membutuhkan lebih banyak intervensi negara.

Padahal, ekonomi politik modern telah lama mengingatkan bahwa negara sendiri juga dapat gagal. Ketika kegagalan pasar dibesar-besarkan, sementara kegagalan negara diabaikan, intervensi yang awalnya dimaksudkan sebagai solusi justru berpotensi menciptakan distorsi baru. Di Indonesia, peringatan mengenai risiko kegagalan negara sebenarnya bukan hal baru. Soemitro Djojohadikusumo (1977), salah satu arsitek pemikiran negara pembangunan Indonesia, memang percaya bahwa negara harus memainkan peran sentral dalam pembangunan ekonomi.

Namun, Soemitro tidak pernah mengasumsikan bahwa negara otomatis efektif. Ia menekankan bahwa intervensi negara hanya dapat berhasil apabila ditopang oleh sejumlah prasyarat yang berat: kepemimpinan politik yang memiliki tanggung jawab sosial yang mendalam, kemampuan memahami dilema pembangunan dan pilihan strategis, kapasitas teknokratis yang memadai, serta kerangka kekuasaan yang memungkinkan partisipasi publik berjalan efektif. Dengan kata lain, negara yang aktif bukan berarti negara yang otomatis efektif.

Kegagalan memenuhi prasyarat tersebut justru dapat melahirkan kegagalan negara berupa inefisiensi birokrasi, distorsi kebijakan, rente ekonomi, dan korupsi. Persoalannya, ekspansi intervensi negara hari ini tampak berkembang jauh lebih cepat dibandingkan dengan pembangunan kapasitas institusinya sendiri. Ironisnya, kegagalan negara justru jauh lebih jarang dibahas ketimbang kegagalan pasar. Ketika harga pangan naik, publik segera melihat kegagalan pasar.

Ketika rupiah melemah, yang disalahkan adalah mekanisme pasar dan sentimen global. Ketika investasi melambat, yang disorot adalah dunia usaha. Ketika industri domestik kalah bersaing, pasar kembali menjadi terdakwa utama. Sebaliknya, ketika intervensi negara menciptakan ketidakpastian regulasi, birokrasi yang tidak efisien, peluang rente, atau praktik korupsi, dampaknya sering muncul secara perlahan dan tersebar sehingga tidak selalu terlihat secara langsung.

Masalahnya, negara bukanlah institusi yang sempurna. Friedrich Hayek (1945) pernah mengingatkan bahwa sinyal informasi ekonomi tersebar di berbagai elemen masyarakat. Berbagai sinyal, seperti selera konsumen, risiko usaha, kondisi produksi, dan perubahan teknologi, selalu berubah dan tidak selalu dapat ditangkap oleh pemerintah secara utuh dan tepat.

Jadi, ada asumsi implisit bahwa birokrasi mampu memproses informasi ekonomi lebih baik dibandingkan dengan mekanisme pasar ketika negara mengambil terlalu banyak peran di perekonomian.yang dipelopori James Buchanan dan Gordon Tullock (1962) menunjukkan bahwa aktor politik dan birokrasi bukanlah institusi yang sepenuhnya netral. Mereka juga memiliki insentif politik, kepentingan organisasi, serta dorongan mempertahankan kekuasaan dan sumber daya. Semakin besar ruang intervensi negara, semakin besar pula peluang munculnya rente, patronase, dan korupsi.

Masalah terbesar negara yang terlalu percaya diri adalah ia mulai melihat hampir semua persoalan sebagai alasan untuk memperluas dirinya sendiri. Negara seharusnya bukan menjadi pemain utama dalam pasar, melainkan sebagai institusi yang menciptakan iklim usaha dan investasi yang kondusif, menyediakan kepastian hukum, serta memastikan penegakan aturan berjalan efektif. Negara seharusnya bertindak sebagai wasit, bukan sebagai pemain. Sementara itu, fungsi sebagai pelaku pasar semestinya lebih banyak diserahkan kepada dunia usaha dan masyarakat

Berita ini telah kami rangkum agar Anda dapat membacanya dengan cepat. Jika Anda tertarik dengan beritanya, Anda dapat membaca teks lengkapnya di sini. Baca lebih lajut:

hariankompas /  🏆 8. in İD

Perluasan Intervensi Negara Risiko Kegagalan Negara Kesalahan Percaya Diri Negara Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Peran Negara Dalam Pembangunan Ekonomi Kesalahan Birokrasi Kesalahan Aktor Politik Kesalahan Pasar Kesalahan Negara Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan Pasar Dibesar-Besarkan Kesalahan

 

Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama

Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.

Terpopuler: 5 Sunscreen Lokal Hempas Flek Hitam, 4 Shio Paling Beruntung Finansial 1 JuniTerpopuler: 5 Sunscreen Lokal Hempas Flek Hitam, 4 Shio Paling Beruntung Finansial 1 JuniArtikel tentang skincare dan makeup masih mendominasi artikel terpopuler kanal Lifestyle Suara.com.
Baca lebih lajut »

Diplomasi Global dari Teuku UmarDiplomasi Global dari Teuku UmarPresiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri menerima tamu dari negara-negara sahabat.
Baca lebih lajut »

Cek Fakta: Hoaks Artikel Presiden Prabowo Izinkan Israel Uji Coba Rudal di IndonesiaCek Fakta: Hoaks Artikel Presiden Prabowo Izinkan Israel Uji Coba Rudal di IndonesiaCek fakta artikel Presiden Prabowo izinkan Israel uji coba rudal di Indonesia, simak dalam artikel ini!
Baca lebih lajut »

Spanyol tolak intervensi militer terhadap negara-negara Amerika LatinSpanyol tolak intervensi militer terhadap negara-negara Amerika LatinSpanyol tidak akan menerima aktivitas intervensi militer di negara-negara Amerika Latin, kata Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares, dalam ...
Baca lebih lajut »



Render Time: 2026-07-07 06:31:49