Pembukuan UMKM yang lebih baik harus meningkatkan akses terhadap pembiayaan bank.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kantor Riset Makroekonomi Asean+3 memproyeksikan risiko inflasi masih tinggi. Kepala Ekonom AMRO Sumio Ishikawa menilai, Indonesia masih perlu melanjutkan langkah-langkah kebijakan untuk menahan tekanan inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar tetap penting.
Baca Juga Dia menambahkan, dukungan kebijakan yang ditargetkan juga masih bias disempurnakan. Selain program penjaminan kredit dan subsidi bunga untuk usaha mikro, kecil, dan menengah yang sudah ada, pembukuan yang lebih baik harus meningkatkan akses UMKM terhadap pembiayaan bank.
Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama
Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.
Apindo dan Coca-Cola Ajak 150 UMKM Lampung-Sumsel Realisasikan UMKM Merdeka 2023Program ini melibatkan 150 pelaku UMKM, 90 mentor dari praktisi bisnis, 18 perguruan tinggi dan 750 mahasiswa dari berbagai bidang keilmuan.
Baca lebih lajut »
Masifnya Kasus Asuransi di Indonesia, Pengamat Beberkan PenyebabnyaPengamat asuransi Dedy Kristianto membeberkan penyebab masifnya kasus asuransi di Indonesia. Apa saja?
Baca lebih lajut »
1.850 UMKM Jualan di Rest Area Seluruh IndonesiaSaat ini presentase UMKM di rest area mencapai 72 persen dan 28 persen untuk non-UMKM. Total UMKM yang sudah mendirikan gerainya di seluruh rest area sebanyak 1.850 UMKM.
Baca lebih lajut »
Bantu UMKM Peternak, FTUI Ciptakan Alat Sortir Telur OtomatisUsaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) peternakan telur di Indonesia memiliki tantangan dalam optimalisasi dan efisiensi kerja.
Baca lebih lajut »
Anggota Komisi VI DPR Gelar Sosialisasi Bersama WaskitaMasyarakat perlu mengetahui dan memahami peran BUMN Waskita Karya dalam mendorong kemajuan perekonomian UMKM bagi Indonesia.
Baca lebih lajut »
Sejumlah Asuransi Alami Gagal Bayar, Begini Kata PengamatKasus asuransi gagal bayar di Indonesia masih marak terjadi. Pengamat Pengamat Asuransi Kapler Marpaung pun menyebutkan penyebabnya berbeda serupa perusahaan.
Baca lebih lajut »