Penelitian Obat Covid-19 Tetap Harus Diapresiasi |Republika Online

Indonesia Berita Berita

Penelitian Obat Covid-19 Tetap Harus Diapresiasi |Republika Online
Indonesia Berita Terbaru,Indonesia Berita utama
  • 📰 republikaonline
  • ⏱ Reading Time:
  • 70 sec. here
  • 3 min. at publisher
  • 📊 Quality Score:
  • News: 31%
  • Publisher: 63%

Unair, TNI AD, dan BIN klaim 85 persen sampel yang diujicobakan dengan obat sembuh.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pengawas Obat dan Makanan menyatakan, racikan obat Universitas Airlangga bersama Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat dan Badan Intelijen Negara untuk penanganan Covid-19 tidak lolos uji klinis. Kepala BPOM, Penny Kusumastuti Lukito, menjelaskan, hasil pengujian yang didapatkan, obat kombinasi Unair, TNI AD, dan BIN, termasuk dalam kategori obat keras.

Menanggapi hal itu, pakar hukum Prof Indriyanto Senoadji mengatakan, seharusnya penilitian inovatif dan progresif atas uji temu obat Covid-19 milik Unair bersama BIN dan TNI AD harus diapresiasi. Hal ini karena temuan obat tersebut sebagai buah prestasi kebanggaan anak bangsa dan negara. Menurut Indriyanto, klaim obat corona tersebut juga merupakan hasil dari kombinasi sejumlah obat yang telah diuji dalam tiga tahap."Tim Unair, TNI AD, dan BIN mengeklaim 85 persen sampel yang diujicobakan dengan obat tersebut sembuh berdasarkan hasil tes PCR. Proses penyembuhan disebut berlangsung mulai dari satu sampai hari," katanya di Jakarta, Jumat .

Indriyanto menjelaskan, persoalan administratif perizinan dari BPOM itu seharusnya dikomunikasikan dengan persuasi terintegrasi dan koordinasi berimbang secara baik dengan Unair, TNI AD, dan BIN. Apapun apresiasi khusus patut diberikan kepada Unair yang siap melakukan evaluasi uji klinis seperti yang diminta BPOM.

"Kekurangan persyaratan teknis administratif tentang alasan demografi, pola kesakitan/simptom, sampel uji klinis yg belum acak, sebaiknya dikomunikasikan dengan soft integrated and balances coordinated. Sehingga ke depan tetap menjaga kredibiltas ke lembaga pemohon izin dan pemberi izin," kata Indriyanto. BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.

Berita ini telah kami rangkum agar Anda dapat membacanya dengan cepat. Jika Anda tertarik dengan beritanya, Anda dapat membaca teks lengkapnya di sini. Baca lebih lajut:

republikaonline /  🏆 16. in İD

Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama

Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.

Epidemiolog UI Sebut Wajar Calon Obat Covid-19 Unair DiragukanEpidemiolog UI Sebut Wajar Calon Obat Covid-19 Unair DiragukanHal itu karena pembuatan obat covid-19 yang dikerjakan Unair dan Badan Intelijen Negara (BIN) itu tidak menjalankan prosedur yang sudah ditetapkan.
Baca lebih lajut »

Dekan Sekolah Farmasi ITB Nilai Riset Obat Covid-19 Unair BerantakanDekan Sekolah Farmasi ITB Nilai Riset Obat Covid-19 Unair BerantakanDekan Sekolah Farmasi ITB meminta Unair mengulang kembali riset obat Covid-19 di bawah pengawasan BPOM.
Baca lebih lajut »

Komisi IX DPR Akan Dengarkan BPOM soal Obat COVID-19 UnairKomisi IX DPR Akan Dengarkan BPOM soal Obat COVID-19 UnairKomisi IX DPR akan mengundang Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terkait dengan perkembangan obat dan vaksin dalam penanganan...
Baca lebih lajut »



Render Time: 2025-04-04 13:48:57