Mengapa Taliban begitu cepat menguasai Afghanistan? Yang terjadi pada pekan-pekan terakhir adalah kunci, kata mantan dubes Afghaistan untuk AS. Pemimpin menyerah dan pasukan militer diminta untuk tak melawan,Taliban, katanya.
Cepatnya Taliban menguasai kembali Afghanistan yang ditandai dengan langkah memasuki Kabul masih terus menimbulkan banyak pertanyaan banyak pihak.
Mantan duta besar Afghanistan untuk Amerika Serikat, Roya Rahmani, kepada program Newshour BBC, menceritakan pandangannya tentang pemerintah yang ia wakili dari 2018 sampai dikalahkan oleh Taliban.
Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama
Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.
Pemimpin Taliban tiba di Afghanistan dari pengasingan - BBC News IndonesiaSetelah Taliban berhasil menduduki ibu kota Kabul, ribuan orang berbondong-bondong ke bandara untuk mengungsi karena ketakutan. Namun sebagian warga lain menyambut kehadiran Taliban sebagai harapan. 'Taliban kini lebih modern,' kata seorang warga. Baca:
Baca lebih lajut »
Akankah Taliban membawa Afghanistan ke masa lalu? - BBC News IndonesiaHukum potong tangan, perempuan dilarang keluar rumah tanpa izin tertulis dari laki-laki, dan orang yang mengenakan pakaian Barat diserang, kenang editor BBC News John Simpson tentang Afghanistan era Taliban. Akankah negara itu kembali ke masa lalu?
Baca lebih lajut »
Pemimpin Taliban ‘Pulang Kampung’, Sumpah Tak Balas Dendam dan Hormati WanitaPendiri dan Pemimpin Politik Taliban Mullah Abdul Ghani Baradar pulang kampung ke Afghanistan dari Qatar dengan penuh kemenangan pada Selasa (17/8). Dialah presiden...
Baca lebih lajut »
Juru Bicara Taliban Mendadak Telpon Seorang Penyiar TV saat Siaran Langsung, Ini Katanya...Seorang penyiar berita BBC kelahiran Afghanistan mendapat telpon mengejutkan dari juru bicara Taliban ketika sedang siaran langsung. / Global
Baca lebih lajut »
Pakistan Ingin Perdamaian di Afghanistan Saat Taliban BerkuasaPakistan menginginkan untuk perdamaian setelah milisi Taliban berkuasa di Afghanistan
Baca lebih lajut »