Sejarah film sering kali menyukai tokoh utama. Kita lebih mudah mengingat sutradara dibandingkan para kolaborator mereka. Padahal, film lahir dari kerja bersama.
Sejarah film sering kali menyukai tokoh utama. Kita lebih mudah mengingat sutradara dibandingkan para kolaborator mereka. Padahal, film lahir dari kerja bersama.Adalah lazim hari ini tokoh publik selalu berupaya menjadi sentral dalam sebuah komposisi dokumentasi visual,yyang kini disebut konten.
Maka, muncul persepsi dalam pikiran kebanyakan pemirsa media bahwa dunia yang digambarkan hanya dicipta oleh dirinya. Saya sendiri tidak teryakinkan—karena mungkin saja sang tokoh hanya inginUntuk tidak terlalu jauh berprasangka, saya akan berbagi cerita. Beberapa waktu lalu, sebuah arsip foto penting tiba melalui jalur yang sederhana: sebuah grup pesan. Seperti banyak foto lama yang kembali muncul di zaman digital, ia datang tanpa pengantar yang pasti. Beberapa orang yang pernah hidup dekat dengan masa itu bahkan masih memperdebatkan sumbernya. Mungkin ia berasal dari sebuah arsip yang lama tersimpan, mungkin pula dari seseorang yang suatu hari memutuskan memindai kembali masa lalu. Foto itu sendiri tidak rumit. Sebelas orang dalam satu komposisi yang tenang. Mereka adalah sebagian dari pembuat film yang juga menjadi pengajar dari Akademi Sinematografi pertama di Indonesia, dipotret di Cikini sekitar tahun 1976 atau setengah abad lalu. Terbungkus batik yang bagus, tubuh-tubuh mereka tampak sadar bahwa kamera sedang mencatat sesuatu yang lebih dari sekadar dokumentasi. Pose itu seperti ingin menyatakan kesungguhan—sebuah niat yang sedang dimulai. Saya mengenal beberapa di antaranya karena beruntung sempat berinteraksi langsung saat berstatus mahasiswa di akademi ini. Di sana ada Ki Demang Soemardjono, seorang editor film yang bekerja bersama Usmar Ismail dalam beberapa film penting Usmar Ismail hingga Sjuman Djaya. Kami memanggilnya Pak Mardjono. Ia datang ke kampus setiap hari dengan mobil Fiat 600 berwarna putih dengan pakaian putih putih—yang entah mengapa selalu melekat dalam ingatan saya. Belakangan saya mengetahui bahwa ia adalah mantan militer dari era pendudukan Jepang hingga masa Revolusi, salah satu tokoh yang menjadi bagian dari sejarah perfilman kita di era Orde Baru. Ada pula Soetomo Gandasoebrata, yang kelak menjadi dekan fakultas film dan televisi hingga awal tahun 1990-an. Kami memanggilnya Pak Tom. Tubuhnya tinggi, lebih dari 185 sentimeter, seorang penata kamera kawakan di masanya dan ketika bekerja ia sering menggantungkan pengukur cahaya di pinggangnya. Suaranya tipis, tetapi kehadirannya tidak pernah terasa ringan. Kala itu, setiap kali kami melihat para sinematografer senior di kampus, aura maskulin terasa. Dalam banyak hal, Pak Tom adalah sumber dari tradisi itu. Di foto yang sama terdapat DA Peransi, pembuat film eksperimental, penulis, sekaligus perupa yang terlibat dalam Gerakan Seni Rupa Baru tahun 1973. Dalam bukunya,Peransi menulis tentang pertemuannya dengan sutradara Fons Rademakers di Belanda ketika produksi film Max Havelaar sedang direncanakan. Peransi memilih tidak terlibat dalam proyek itu karena perbedaan pandangan mengenai perspektif kolonialisme, ia menulis bahwa film tidak seharusnya menjadi medium yang sekadar mengikuti peringatan estetika Barat. Ada juga MD Aliff, seorang unsur pimpinan produksi film dan pendiri organisasi karyawan film yang selalu bercerita dengan penuh semangat tentang pengalaman bekerja bersama Usmar Ismail di perusahaan film Perfini. Pak Aliff dapat menceritakan ulang hampir seluruh pengalaman produksinya seperti seseorang yang menyimpan sejarah dalam ingatan personalnya. Lagi-lagi ia pun mantan tentara. Sejarah film sering kali menyukai tokoh utama. Kita lebih mudah mengingat sutradara dibandingkan para kolaborator mereka. Dan tentu saja ada penulis/sutradara Misbach Yusa Biran, yang kemudian menjadi penggagas sekaligus kepala lembaga arsip film Sinematek Indonesia. Ia pernah menjadi anggota Sidang Pengarang Perfini dan menjadi anggota lembaga kebudayaan NU. Pak Misbach, kami menyebutnya, adalah pengajar skenario hingga pensiun pada pertengahan 1990-an. Sejarah film sering kali menyukai tokoh utama. Kita lebih mudah mengingat sutradara dibandingkan para kolaborator mereka. Ingmar Bergman, Martin Scorsese atau Satyajit Ray dibanding sinematografer Sven Nykvist, editor Thelma Schoonmaker atau sinematografer Subrata Mitra. Dalam sinema Indonesia sama saja, kita lebih sering menyebut nama seperti Teguh Karya dibandingkan sinematografer seperti Lukman Hakim Nain atau George Kamarullah.Pemikir Perancis, Pierre Bourdieu, menjelaskan bahwa dunia kebudayaan dibentuk oleh hubungan antara modal dan ranah. Para pendiri dalam foto itu tampaknya berada tepat di persimpangan keduanya. Mereka telah cukup modal budaya dalam praktik produksi film—sebagian juga adalah sebagai ”pemenang” dalam lintasan krisis 1965. Dalam industri film tidaklah mudah: seseorang yang telah lama berada dalam praktik memilih berhenti sejenak untuk mengajarkan praktik itu kepada generasi berikutnya. Dari ruang-ruang kelas yang mereka bangun kemudian lahir banyak pembuat film dan pekerja budaya. Beberapa di antaranya Seno Gumira Ajidarma, Nan Achnas, atau Ravi Bharwani. Namun, ada satu hal yang membuat saya berhenti cukup lama ketika melihat foto itu. Tidak ada perempuan yang duduk di antara para pendiri. Lebih menarik lagi, hampir tidak ada komentar tentang hal itu dalam percakapan tempat foto tersebut beredar. Ketiadaan itu terasa seperti ruang kosong dalam sebuah komposisi gambar. Mungkin justru dari ruang kosong itulah pertanyaan masa depan muncul. Mungkin suatu hari nanti akan ada foto lain—para pendiri generasi berikutnya—yang memperlihatkan komposisi yang berbeda. Lima puluh tahun setelahnya, seseorang akan membuka kembali foto itu dalam sebuah layar kecil, bertanya-tanya tentang siapa saja orang-orang yang ada di dalamnya, dan bagaimana mereka pernah memutuskan untuk duduk bersama, dengan bangga, untuk membangun sesuatu yang belum sepenuhnya ada.Adalah lazim hari ini tokoh publik selalu berupaya menjadi sentral dalam sebuah komposisi dokumentasi visual,yyang kini disebut konten. Maka, muncul persepsi dalam pikiran kebanyakan pemirsa media bahwa dunia yang digambarkan hanya dicipta oleh dirinya. Saya sendiri tidak teryakinkan—karena mungkin saja sang tokoh hanya inginUntuk tidak terlalu jauh berprasangka, saya akan berbagi cerita. Beberapa waktu lalu, sebuah arsip foto penting tiba melalui jalur yang sederhana: sebuah grup pesan. Seperti banyak foto lama yang kembali muncul di zaman digital, ia datang tanpa pengantar yang pasti. Beberapa orang yang pernah hidup dekat dengan masa itu bahkan masih memperdebatkan sumbernya. Mungkin ia berasal dari sebuah arsip yang lama tersimpan, mungkin pula dari seseorang yang suatu hari memutuskan memindai kembali masa lalu. Foto itu sendiri tidak rumit. Sebelas orang dalam satu komposisi yang tenang. Mereka adalah sebagian dari pembuat film yang juga menjadi pengajar dari Akademi Sinematografi pertama di Indonesia, dipotret di Cikini sekitar tahun 1976 atau setengah abad lalu. Terbungkus batik yang bagus, tubuh-tubuh mereka tampak sadar bahwa kamera sedang mencatat sesuatu yang lebih dari sekadar dokumentasi. Pose itu seperti ingin menyatakan kesungguhan—sebuah niat yang sedang dimulai. Saya mengenal beberapa di antaranya karena beruntung sempat berinteraksi langsung saat berstatus mahasiswa di akademi ini.Di sana ada Ki Demang Soemardjono, seorang editor film yang bekerja bersama Usmar Ismail dalam beberapa film penting Usmar Ismail hingga Sjuman Djaya. Kami memanggilnya Pak Mardjono. Ia datang ke kampus setiap hari dengan mobil Fiat 600 berwarna putih dengan pakaian putih putih—yang entah mengapa selalu melekat dalam ingatan saya. Belakangan saya mengetahui bahwa ia adalah mantan militer dari era pendudukan Jepang hingga masa Revolusi, salah satu tokoh yang menjadi bagian dari sejarah perfilman kita di era Orde Baru. Ada pula Soetomo Gandasoebrata, yang kelak menjadi dekan fakultas film dan televisi hingga awal tahun 1990-an. Kami memanggilnya Pak Tom. Tubuhnya tinggi, lebih dari 185 sentimeter, seorang penata kamera kawakan di masanya dan ketika bekerja ia sering menggantungkan pengukur cahaya di pinggangnya. Suaranya tipis, tetapi kehadirannya tidak pernah terasa ringan. Kala itu, setiap kali kami melihat para sinematografer senior di kampus, aura maskulin terasa. Dalam banyak hal, Pak Tom adalah sumber dari tradisi itu. Di foto yang sama terdapat DA Peransi, pembuat film eksperimental, penulis, sekaligus perupa yang terlibat dalam Gerakan Seni Rupa Baru tahun 1973. Dalam bukunya,Peransi menulis tentang pertemuannya dengan sutradara Fons Rademakers di Belanda ketika produksi film Max Havelaar sedang direncanakan. Peransi memilih tidak terlibat dalam proyek itu karena perbedaan pandangan mengenai perspektif kolonialisme, ia menulis bahwa film tidak seharusnya menjadi medium yang sekadar mengikuti peringatan estetika Barat.Ada juga MD Aliff, seorang unsur pimpinan produksi film dan pendiri organisasi karyawan film yang selalu bercerita dengan penuh semangat tentang pengalaman bekerja bersama Usmar Ismail di perusahaan film Perfini. Pak Aliff dapat menceritakan ulang hampir seluruh pengalaman produksinya seperti seseorang yang menyimpan sejarah dalam ingatan personalnya. Lagi-lagi ia pun mantan tentara. Sejarah film sering kali menyukai tokoh utama. Kita lebih mudah mengingat sutradara dibandingkan para kolaborator mereka. Dan tentu saja ada penulis/sutradara Misbach Yusa Biran, yang kemudian menjadi penggagas sekaligus kepala lembaga arsip film Sinematek Indonesia. Ia pernah menjadi anggota Sidang Pengarang Perfini dan menjadi anggota lembaga kebudayaan NU. Pak Misbach, kami menyebutnya, adalah pengajar skenario hingga pensiun pada pertengahan 1990-an. Sejarah film sering kali menyukai tokoh utama. Kita lebih mudah mengingat sutradara dibandingkan para kolaborator mereka. Ingmar Bergman, Martin Scorsese atau Satyajit Ray dibanding sinematografer Sven Nykvist, editor Thelma Schoonmaker atau sinematografer Subrata Mitra. Dalam sinema Indonesia sama saja, kita lebih sering menyebut nama seperti Teguh Karya dibandingkan sinematografer seperti Lukman Hakim Nain atau George Kamarullah.Pemikir Perancis, Pierre Bourdieu, menjelaskan bahwa dunia kebudayaan dibentuk oleh hubungan antara modal dan ranah. Para pendiri dalam foto itu tampaknya berada tepat di persimpangan keduanya. Mereka telah cukup modal budaya dalam praktik produksi film—sebagian juga adalah sebagai ”pemenang” dalam lintasan krisis 1965. Dalam industri film tidaklah mudah: seseorang yang telah lama berada dalam praktik memilih berhenti sejenak untuk mengajarkan praktik itu kepada generasi berikutnya. Dari ruang-ruang kelas yang mereka bangun kemudian lahir banyak pembuat film dan pekerja budaya. Beberapa di antaranya Seno Gumira Ajidarma, Nan Achnas, atau Ravi Bharwani. Namun, ada satu hal yang membuat saya berhenti cukup lama ketika melihat foto itu. Tidak ada perempuan yang duduk di antara para pendiri. Lebih menarik lagi, hampir tidak ada komentar tentang hal itu dalam percakapan tempat foto tersebut beredar. Ketiadaan itu terasa seperti ruang kosong dalam sebuah komposisi gambar. Mungkin justru dari ruang kosong itulah pertanyaan masa depan muncul. Mungkin suatu hari nanti akan ada foto lain—para pendiri generasi berikutnya—yang memperlihatkan komposisi yang berbeda. Lima puluh tahun setelahnya, seseorang akan membuka kembali foto itu dalam sebuah layar kecil, bertanya-tanya tentang siapa saja orang-orang yang ada di dalamnya, dan bagaimana mereka pernah memutuskan untuk duduk bersama, dengan bangga, untuk membangun sesuatu yang belum sepenuhnya ada.
Riri Riza Film Utama X-Hide-Give-Me-Perspective
United States Latest News, United States Headlines
Similar News:You can also read news stories similar to this one that we have collected from other news sources.
Kekayaan Pendiri Binance Lampaui Bill Gates di Daftar Miliarder Forbes, Salah Hitung?Forbes mencatat kekayaan Pendiri Binance mencapai USD 111,1 miliar dan disebut melampaui Bill Gates. Namun Changpeng Zhao mempertanyakan akurasi perhitungan.
Read more »
Koki Pendiri Restoran Michelin Star Noma Mundur Usai Dilaporkan Merundung 30 KaryawanRene Redzepi, pendiri restoran Michelin Star Noma asal Denmark, mengakui budaya merundung karyawan terjadi di lingkungan kerjanya.
Read more »
Empat Khalifah, Empat Krisis: Ujian Berat di Awal Sejarah IslamMasa kepemimpinan para Khulafaur Rasyidin sering dianggap sebagai periode paling menentukan dalam sejarah awal Islam.
Read more »
Ziarah ke Makam Sunan Gunung Jati: Jejak Sejarah Penyebaran Islam di CirebonMakam Sunan Gunung Jati, atau Syarif Hidayatullah, menjadi tujuan ziarah utama di Cirebon, Jawa Barat. Suasana tenang dan khusyuk menyelimuti area makam, terutama pada bulan Ramadhan, menarik peziarah untuk mengenang jejak dakwah ulama dan mencari ketenangan.
Read more »
Thiago Silva Ukir Sejarah di Liga Europa: Bek Veteran Tampil di Usia 41 TahunThiago Silva mengukir sejarah sebagai pemain outfield tertua yang tampil di Liga Europa pada usia 41 tahun bersama FC Porto. Penampilan tersebut menegaskan reputasinya sebagai bek paling konsisten dalam generasinya dan menandai kembalinya ke sepak bola Eropa.
Read more »
Sejarah Ketupat, Makanan Khas Lebaran yang Sarat Makna FilosofisKetupat akan sering dijumpai di Indonesia saat Lebaran. Ini sejarah ketupat.
Read more »




