Panglima militer Thailand hari Jumat (11/10) mendeklarasikan perang dengan pengkritiknya, dan memperingatkan, politisi, cendekiawan, dan intelektual lain kemungkinan akan “memanipulasi” generasi muda
Jenderal Apirat Kongsompong dalam pidatonya di Markas Angkatan Darat mengatakan, “perang kombinasi” yang memanfaatkan propaganda di media sosial dan kekerasan sudah dipraktikkan di Thailand untuk menghancurkan bangsa.
Tidak jelas apa yang dimaksudkannya dengan perang itu, karena Thailand tidak berperang, pihak militer dan sekutunya punya posisi yang kuat dan mengoperasikan negara selama lima tahun terakhir, sementara pembrontakan terbatas di tiga provinsi selatan Thailand. Komentar Apirat itu tampaknya ditujukan pada politisi oposisi yang berkampanye tentang usaha mereformasi militer tetapi sama sekali tidak menganjurkan perang atau kekerasan.
Namun, Apirat tetap mengatakan, politisi terkait dengan mantan komunis yang tidak pernah berhenti untuk merebut kekuasaan dan terus berusaha men-destabilisasikan negara. Meskipun dia tidak menyebut nama, tetapi komentarnya ini ditujukan terhadap Thanathorn Juangroongruangkit, pemimpin dari Partai Kemajuan Masa Depan.
Militer Thailand adalah pemain utama dalam perpolitikan yang acapkali kisruh dan sering melancarkan kudeta, termasuk dua kali sejak 2006. Pemerintah yang sekarang berkuasa dipimpin oleh mantan pemimpin militer yang melancarkan kudeta pada 2014 dan bertahan sebagai PM oleh partai yang didukung militer serta memenangkan pemilihan pasca-kudeta yang oleh banyak kalangan dikritik sebagai tidak adil.
Partai Kemajuan Masa Depan ternyata sukses dalam pemilihan, khususnya di kalangan generasi muda dan lain-lainnya yang setuju dengan kritiknya tentang keterlibatan militer dalam politik. Partai itu kini ketiga terbesar di Parlemen. Hal itu menyebabkan partai ini konflik dengan elit penguasa tradisional yang mapan di Thailand, dan itu terpusat di militer dan kerajaan.
Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama
Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.
PM Ethiopia Abiy Ahmed Raih Nobel Perdamaian 2019Kesepakatan damai Abiy dengan Eritrea mengakhiri kebuntuan militer 20 tahun setelah perang perbatasan dua negara.medio 1998-2000
Baca lebih lajut »
Mahasiswa China Kesulitan di Amerika, Peneliti Indonesia Harus Ambil KesempatanKesulitan visa mahasiswa China akibat perang dagang dengan Amerika justru dimanfaatkan Thailand dan Vietnam dalam kerja sama penelitian.
Baca lebih lajut »
Liga Arab Gelar Sidang Darurat Bahas Operasi Militer TurkiTurki menggelar operasi militer di Suriah timur laut dengan menyasar militan Kurdi.
Baca lebih lajut »
Mendag AS Ungkap Trump Tak Suka Perang Dagang dengan ChinaMenteri Perdagangan AS Wilbur Ross mengatakan Presiden Donald Trump sebenarnya tak ingin perang dagang dengan China.
Baca lebih lajut »
Pembicaraan Dagang antara AS dan China tak Buat KemajuanChina menolak membahas sejumlah isu di pembicaraan perang dagang dengan AS.
Baca lebih lajut »
Trump Tak Ingin Perang Dagang dengan TiongkokPresiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, sebenarnya tak pernah menginginkan perang dagang dengan Tiongkok.
Baca lebih lajut »