Nutrisi yang dikonsumsi anak memiliki peran penting dalam pencegahan stunting dan proteksi daya tahan tubuhnya.
Prof Dr. dr. Damayanti R. Sjarif, Sp.A pada pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Departemen Ilmu Kesehatan Anak di Aula Imeri, Kampus Salemba, Jakarta, Rabu, 18 Desember 2019.
Upaya pencegahan penyebaran virus Covid-19 di Indonesia dilakukan dengan berbagai imbauan kesehatan seperti tetap di rumah, memakai masker, mencuci tangan, hingga menjaga jarak. Namun, situasi tersebut juga dapat berdampak pada tidak terlaksananya kegiatan pemantauan tumbuh kembang anak di awal kehidupan. Dalam diskusi yang digelar oleh Habibie Institute for Public Policy and Governance pada Rabu , para ahli setuju bahwa nutrisi yang dikonsumsi anak memiliki peran penting dalam pencegahan stunting dan proteksi daya tahan tubuhnya.ditargetkan untuk turun 14 persen. Dengan kondisi seperti saat ini, timbul kekhawatiran apakah target ini bisa tercapai. Terlebih, mengingat Posyandu tidak lagi beroperasi dan tenaga kesehatan di Puskesmas juga tidak luput dari dampak Covid-19,” ujar Media Octarina, MCN, Mantan Asisten Deputi Ketahanan Gizi, Kesehatan Ibu dan Anak, dan Kesehatan Lingkungan Kemenko PMK selaku moderator. dapat tetap tercapai, dibutuhkan modifikasi strategi kebijakan yang dapat diimplementasikan di tingkat daerah. Sehingga, kita tetap bisa mencegah terjadinya malnutrisi dan menyelamatkan masa depan anak-anak Indonesia di tengah pandemi ini.Dalam mencegah terjadinya malnutrisi, deteksi dini seperti pemantauan pertumbuhan rutin di fasilitas kesehatan memiliki peran krusial. Guru Besar FKUI Prof. Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, Sp.A menuturkan, “Kebijakan ‘di rumah saja’ dan ‘jaga jarak fisik’ menyulitkan pemantauan pertumbuhan balita di posyandu. Apabila tidak cepat dideteksi melalui pengukuran berat badan, panjang badan, hingga lingkar kepala, anak-anak bisa menderita malnutrisi kronis hingga menjadi stunting. "Selain memengaruhi otak, nutrisi pada awal kehidupan seperti protein hewani, asam amino, zat besi, maupun zinc, juga berpengaruh kepada daya tahan tubuh seorang anak. Asupan yang tidak cukup dapat berpengaruh pada penurunan berat badan, weight faltering , kesulitan nafsu makan, hingga malnutrisi," jelasnya, Tumbuh kembang yang tidak sesuai usianya juga dapat menjadi salah satu pertanda bahwa telah terjadi penurunan daya tahan tubuh pada anak yang membuatnya lebih rentan terhadap infeksi, termasuk pathogen seperti virus. “Bahayanya, infeksi berulang akan mengganggu saluran cerna, malabsorpsi nutrisi, risiko malnutrisi, hingga mengganggu hormon pertumbuhan pada anak, yang dapat berujung pada stunting akibat malnutrisi kronis yang dibiarkan tidak terdeteksi," lanjut Prof. Damayanti. Berkaitan dengan strategi khusus pencegahan stunting selama masa pandemi, Prof Damayanti menuturkan bahwa kuncinya adalah pada pemberian gizi yang baik, pemantauan tumbuh kembang rutin untuk deteksi dini, serta sistem rujukan berjenjang. “Misalnya, apabila balita yang diukur di Puskesmas menunjukkan tanda gizi buruk, gizi kurang, tumbuh tidak sesuai kurva, ia wajib didiagnosa dan diberlakukan tata laksana malnutrisi oleh dokter di Puskesmas. Namun, apabila sudah, balita harus dirujuk ke RSUD untuk ditangani dan diberlakukan tata laksana stunting oleh Dokter Spesialis Anak.” Dalam kesempatan yang sama, Dr. Rr. Dhian Probhoyekti, SKM, MA, Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa memang ada risiko peningkatan masalah gizi akut dan kronis yang disebabkan oleh menurunnya akses dan daya beli masyarakat terhadap pangan bergizi akibat pandemi Covid-19. “Imbas PSBB, kami meminimalisir kunjungan masyarakat ke fasilitas layanan kesehatan dan mengutamakannya untuk yang bersifat mendesak dan gawat darurat. Kami menyeimbangkannya dengan rencana modifikasi pelayanan seperti kunjungan rumah bagi sasaran berisiko, konseling virtual, edukasi masyarakat, hingga komunikasi melalui grup di media sosial,” ujar Dr. Dhian. Pelayanan yang diatur oleh Kemkes tersebut dilakukan untuk balita gizi kurang, balita gizi buruk, ibu hamil kekurangan energi kronis , ibu hamil dengan anemia, hingga remaja putri dengan anemia. Dr. Dhian berharap para ibu tetap memberikan ASI pada bayi, makanan sesuai pedoman gizi seimbang pada anak, cuci tangan dan PHBS, hingga melakukan aktivitas fisik. Selain itu, masyarakat diimbau untuk segera menghubungi kader atau fasyankes apabila anak mengalami penurunan nafsu makan, penurunan berat badan, maupun gangguan kesehatan lainnya.
Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama
Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.
Peran Warga Arab dalam Penanganan Pandemi Covid-19 di IsraelSetelah tujuh minggu berada dalam keadaan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB), jumlah perebakan virus corona di Israel, seperti di banyak negara lain, terlihat mengecil. Pada hari Senin (11/5), d
Baca lebih lajut »
Sepinya Kepulauan Galapagos Akibat Pandemi Covid-19 |Republika OnlineKepulauan Galapagos berada di wilayah Ekuador, negara yang parah dihantam Covid-19.
Baca lebih lajut »
Olahraga Bersama Anak di Rumah Selama Pandemi COVID-19, Intip Jenis LatihannyaOlahraga bersama anak di rumah selama pandemi COVID-19, ada jenis latihan yang bisa dicoba.
Baca lebih lajut »
Tak Boleh ke Masjid Saat Pandemi Covid-19, Quraish Shihab Jelaskan Iktikaf Bisa Dilakukan di RumahBerikut ini panduan tata cara dan ketentuan melaksanakan itikaf 10 hari terakhir puasa di bulan Ramadhan lengkap dengan penjelasan dalilnya
Baca lebih lajut »
4 Pemain Bundesliga yang Diuntungkan oleh Pandemi Covid-19Bundesliga akan kembali bergulir mulai akhir pekan ini.
Baca lebih lajut »
KPK: Kredit Macet Salah Satu Dampak Pandemi Covid-19 |Republika OnlineKPK mengatakan kredit macet merupakan salah satu dampak pandemi Covid-19.
Baca lebih lajut »
