Pemerintah sepakat menaikkan HET MinyaKita karena fluktuasi harga CPO. Penentuan harga baru akan diumumkan dalam 1-2 minggu ke depan setelah harga CPO stabil.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyepakati kenaikan harga eceran tertinggi MinyaKita karena fluktuasi harga komoditas minyak kelapa sawit mentah. Pemerintah menunda penetapan harga resmi baru selama satu hingga dua minggu hingga kondisi harga pasar stabil kembali.
Namun, sayangnya pemerintah belum bisa menetapkan berapa harga yang pas untuk HET MinyaKita.
"Jadi hari ini kita menyepakati akan menaikkan harga eceran tertinggi untuk MinyaKita. Memang harganya belum disepakati dan kapan akan ditentukan untuk penetapannya," ujarnya Menteri Perdagangan .
Karena, saat ini harga CPO terus berfluktuasi.
"Memang harga CPO naik kemarin rata-rata Rp 15.445, tapi kemarin sempat turun lagi menjadi Rp14.000 sekian. Dan kemarin harga TBS juga sempat turun tapi sekarang sudah mulai naik lagi," ucapnya. Menurut Mendag, para emak-emak harus bersabar hingga dua minggu untuk pengumuman HET MinyaKita yang baru, dan menunggu haga CPO stabil.
"Jadi kita akan melihat harganya stabil, setelah itu baru ditetapkan berapa angka untuk kenaikan harga acara tertinggi untuk minyak kita," bebernya. "Jadi tadi sudah disepakati seperti itu, mungkin dalam waktu satu minggu, dua minggu, segera kita lakukan penyesuaian apabila harga relatif normal, harga CPO," pungkasnya. rakyat MinyaKita kembali melonjak jauh di atas Harga Eceran Tertinggi di sejumlah pasar tradisional Jakarta.
Di Pasar Cijantung, Jakarta Timur, MinyaKita kemasan 1 liter dijual hingga Rp 22 ribu, sementara kemasan 2 liter tembus Rp 42 ribu. Padahal, MinyaKita merupakan merek minyak goreng murah yang digagas pemerintah untuk menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat. HET resmi Minyakita saat ini berada di level Rp 15.700 per liter atau sekitar Rp 31.400 untuk kemasan 2 liter. Namun di lapangan, harga jual sudah melambung jauh di atas batas tersebut.
Salah satu pedagang sembako bernama Dede mengatakan, kenaikan harga ini disebut pedagang bukan karena keuntungan besar di tingkat pengecer, melainkan karena harga dari distributor sudah tinggi dan pasokan barang makin terbatas.
"Sekarang saya jual Rp 22 ribu yang satu liter. Kalau yang dua liter Rp 42 ribu. Saya cuma ambil untung sekitar Rp 1.000 saja," ujar Dede kepada Suara.com, Kamis . Dede mengaku pedagang kecil justru berada di posisi sulit karena harga kulakan dari agen sudah mahal, sementara konsumen sering menganggap pedagang pasar sebagai pihak yang paling menaikkan harga. Ikuti Kuisnya ➔
Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama
Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.
Bukan Lagi Rp15.700-Pemerintah Sepakat Naikkan HET Minyakita, Kapan?Pemerintah sepakat menaikkan HET Minyakita, namun besaran dan waktu penetapan masih menunggu stabilitas harga CPO.
Baca lebih lajut »
Pemerintah Segera Naikkan Harga Eceran MinyakitaBudi mengatakan, pemerintah tidak bisa langsung menetapkan besaran kenaikan harga Minyakita karena fluktuasi harga CPO.
Baca lebih lajut »
Mendag Ungkap Alasan MinyaKita Harus Naik: Harga CPO Sudah Lebih Mahal dari HET, Produsen Bisa NombokBudi menjelaskan, kondisi tersebut membuat struktur biaya produksi dan distribusi MinyaKita tidak lagi sesuai dengan perhitungan awal saat HET ditetapkan.
Baca lebih lajut »
Harga CPO dan Biaya Produksi Meningkat, Pemerintah Segera Naikkan Harga MinyakitaPemerintah mengkaji kenaikan HET Minyakita menyusul naiknya harga CPO, biaya distribusi, dan kemasan. Besaran penyesuaian diputuskan setelah harga stabil.
Baca lebih lajut »




