Nelayan Indonesia hadapi kemiskinan ekstrem di tengah laut kaya. Inovasi kapal hybrid dan koperasi jadi kunci kesejahteraan mereka.
Ilustrasi. Nelayan membongkar ikan hasil tangkapan dari perahunya di Tempat Pelelangan Ikan Pelabuhan Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur. Indonesia , negeri bahari yang dianugerahi kekayaan laut melimpah.
Lebih dari 17 ribu pulau dan garis pantai sepanjang sekitar 108 ribu kilometer, Indonesia menjadi salah satu negara dengan garis pantai terpanjang di dunia. Kondisi ini menyimpan potensi sumber daya kelautan yang sangat besar, mulai dari perikanan, ekosistem pesisir, hingga kekayaan hayati laut. Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2024, luas perairan Indonesia mencapai 6,4 juta kilometer persegi. Lebih dari 70 persen wilayah Indonesia merupakan lautan yang membentang luas dari barat hingga timur Nusantara.
Namun di antara hamparan laut biru dan tangkapan laut melimpah, hidup ironi ketimpangan masyarakat pesisir. Di balik kemegahan angka-angka tersebut, hidup realita pahit: mereka yang bergantung pada jaring justru terperangkap dalam jerat kemiskinan ekstrem. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan kantong-kantong kemiskinan justru banyak ditemukan di desa-desa nelayan. Tahun 2022, BPS mencatat 3,9 juta nelayan masuk kategori miskin ekstrem.
Inilah wajah bahari kita hari ini: nelayan miskin di laut kaya, sebuah negeri dengan potensi ekonomi biru yang digadang-gadang mencapai triliun dolar per tahun, namun di saat yang sama, para pahlawan protein bangsa masih harus bertarung demi kesejahteraan. Dalam menjawab permasalahan kesejahteraan nelayan, perlu mengurai berbagai faktor dari hulu ke hilir.
Harga BBM Nonsubsidi Hampir Rp30 Ribu per Liter: Nelayan Tak Melaut, Harga Ikan Ikut MelambungDi negeri ini, lebih dari 85 persen nelayan merupakan nelayan kecil yang menggunakan kapal sederhana berukuran di bawah 10 gross tonase , dengan modal usaha yang terbatas. Keterbatasan fasilitas penyimpanan membuat hasil tangkapan ikan sulit bertahan lama. Saat hasil laut melimpah, nelayan terpaksa menjual ikan dengan harga murah karena tidak memiliki fasilitas pendingin yang memadai.
Sebaliknya, ketika musim barat atau paceklik datang dan penghasilan menurun, para nelayan kerap terpaksa meminjam uang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tidak jarang, pinjaman tersebut berasal dari tengkulak yang memaksa nelayan menjual hasil lautnya dengan harga murah demi membayar utang. Praktik ini acap membuat nelayan terjebak dalam lingkaran ketergantungan dan kemiskinan. Carta, nelayan di Blanakan, Subang, Jawa Barat, menyebut menjamurnya tengkulak yang memonopoli harga membuat para nelayan sulit sejahtera.
"Menjamurnya tengkulak-tengkulak jadi otomatis harga dimonopoli dan sebagainya. Walaupun sudah menempuh jalur hukum, tetap aja," terangnya. Ia menambahkan, hidup sebagai nelayan kian menantang. Hasil laut yang berkurang membuat nelayan harus melaut lebih jauh dengan hasil tangkapan kian terbatas.
Ini membuat modal melaut kian membengkak. Menurutnya, untuk turun melaut pulang hari minimal harus menyiapkan modal 50 liter solar.
"Memang kita tidak bisa memungkiri faktor alam, faktor alat tangkap, manusia terutama itu jadi pengaruh. Dulu itu di daerah pinggir cuma kita posisi 2-3 mil ada ikan, udang, sekarang sudah jauh. Paling dekat itu 10 mil, kita mencari cumi, mencari ikan, yang lain-lain," ujar Carta. Tata Kelola Dagang dan Peran Koperasi Dasam, Ketua KUD Mina Fajar Sidik, Blanakan, mengatakan nelayan kerap dicap sebagai kelompok masyarakat miskin struktural sebab mayoritas berpendidikan rendah dan belum melek edukasi keuangan.
Ini membuat nelayan sulit melepas jerat kemiskinan. Meski begitu, ia meyakini dengan peran koperasi yang dikelola dengan baik, para nelayan bisa hidup sejahtera. KUD Mina Fajar Sidik misalnya, sejak 1963 didesain untuk memenuhi kebutuhan nelayan, mulai dari fasilitas pendingin, tempat pelelangan ikan , pabrik es, hingga menyediakan BBM bersubsidi. Semua dilakukan untuk memastikan nelayan tak pulang dengan tangan kosong.
Kemiskinan Indonesia Kekayaan Laut Bahari Hasil Laut
United States Latest News, United States Headlines
Similar News:You can also read news stories similar to this one that we have collected from other news sources.
Ekonom Soroti Deregulasi Prabowo, Sebut RI Sulit Lepas dari Pertumbuhan 5 PersenEkonom Didik J. Rachbini menilai deregulasi dan reformasi birokrasi penting agar Indonesia keluar dari stagnasi pertumbuhan ekonomi 5 persen.
Read more »
BPBD imbau nelayan Babel tak melaut selama El Nino hingga JuniKepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Budi Utama mengingatkan nelayan untuk sementara tidak melaut guna ...
Read more »
Harga BBM Nonsubsidi Hampir Rp30 Ribu per Liter: Nelayan Tak Melaut, Harga Ikan Ikut MelambungIkan banyar misalnya, naik menjadi Rp50 ribu per kilogram dari sebelumnya dijual antara Rp30 ribu hingga Rp35 ribu per kilogram.
Read more »
Presiden Prabowo Santai soal Melemahnya Rupiah, Pengamat Soroti Risiko PHK dan KemiskinanPrabowo santai soal rupiah melemah, tapi pengamat soroti risiko PHK dan kemiskinan. Simak dampak ekonomi yang harus diwaspadai di Indonesia saat ini.
Read more »




