Pagi baru saja merekah di kawasan perkebunan sawit PTPN III Cisalak, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak. Embun masih menempel di ujung daun ketika puluhan warga ...
Minggu, 10 Mei 2026 08:56 WIBSeorang perajin di Rangkasbitung Kabupaten Lebak, Banten, tengah menjemur produksi krey agar cepat mengering sehingga bisa menghasilkan pendapatan ekonomi dengan harga Rp30 ribu per lembar.
ANTARA/Mansur Dari limbah yang terabaikan, mereka merajut harapan, menyekolahkan anak-anak, dan perlahan memutus rantai kemiskinan yang telah lama membelit kampung mereka. Lebak - Pagi baru saja merekah di kawasan perkebunan sawit PTPN III Cisalak, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak. Embun masih menempel di ujung daun ketika puluhan warga mulai berdatangan membawa golok dan tali pengikat. Mereka bukan hendak memanen buah sawit, melainkan memburu sesuatu yang selama bertahun-tahun dianggap limbah: pelapah kelapa sawit.
Di antara tumpukan pelepah yang dibuang petugas perkebunan, tangan-tangan cekatan segera bekerja. Sebagian memotong bagian tulang daun, sebagian lain mengikat dan mengangkutnya ke rumah. Dari benda yang tampak tak bernilai itulah, masyarakat Kampung Cihiyang, Desa Rangkasbitung Timur, menemukan jalan untuk keluar dari kemiskinan. Pelapah sawit itu kemudian diolah menjadi krey, tirai tradisional yang biasa digunakan untuk menahan terik matahari dan tampias hujan di halaman rumah maupun warung.
Suara bilah-bilah sawit yang diraut dan dianyam kini menjadi denyut kehidupan kampung. Dulu, Kampung Cihiyang dikenal sebagai salah satu kantong kemiskinan di sekitar pusat pemerintahan Kabupaten Lebak. Ironisnya, jarak yang dekat dengan kota tidak otomatis membawa kesejahteraan. Sebagian besar warga bekerja serabutan di perkebunan, menjadi buruh tani, atau kuli bangunan dengan penghasilan tak sampai satu juta rupiah per bulan.
Pendapatan yang pas-pasan membuat banyak keluarga hanya mampu bertahan hidup dari hari ke hari. Pendidikan anak sering kali menjadi hal yang harus dikorbankan. Tidak sedikit anak yang putus sekolah bahkan sebelum menyelesaikan pendidikan menengah pertama. Kini, wajah kampung itu perlahan berubah.
Rumah-rumah semi permanen berdiri di sepanjang permukiman. Sepeda motor terparkir di depan rumah. Peralatan elektronik mulai menghiasi ruang tamu warga. Yang paling penting, anak-anak mereka kini dapat melanjutkan pendidikan hingga SMA bahkan bercita-cita kuliah.
“Kami sangat terbantu dengan usaha krey ini. Sekarang hidup lebih tenang dan anak-anak bisa sekolah,” ujar Nursaad saat ditemui ANTARA di rumahnya. Pria itu mengaku telah menekuni usaha krey selama 13 tahun. Bersama istrinya, ia merajut lembar demi lembar krey dari pelapah sawit yang sebelumnya hanya dianggap sampah perkebunan.
Sepulang sekolah, anak-anak mereka juga ikut membantu. Dari lima anaknya, tiga telah berkeluarga. Anak keempat sudah lulus SMK dan bekerja, sementara anak bungsunya, Sri Handayani, masih duduk di bangku SMK dan bersiap menjalani praktik kerja lapangan di Tangerang. Nursaad masih mengingat masa-masa sulit sebelum mengenal kerajinan krey.
Saat itu ia bekerja sebagai buruh bangunan dengan penghasilan yang tidak menentu. Ketika proyek sepi, ia menganggur. Penghasilan yang kecil membuat tiga anaknya sempat putus sekolah. Dalam sehari, keluarga Nursaad mampu membuat sekitar lima lembar krey.
Setiap lembar dihargai Rp30 ribu oleh pengepul. Artinya, mereka bisa membawa pulang sekitar Rp150 ribu per hari atau sekitar Rp4,5 juta per bulan. Cerita serupa datang dari pasangan suami istri Mulyadi dan Sa’adah . Selama 10 tahun terakhir, keduanya menggantungkan hidup dari anyaman pelapah sawit.
Sebelum menjadi perajin, Mulyadi bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan yang tidak menentu. Kini, usaha krey memungkinkan mereka memenuhi kebutuhan pangan keluarga sekaligus menyekolahkan dua anak hingga SMP dan SMA. Bagi masyarakat Cihiyang, pelapah sawit bukan lagi limbah. Ia telah berubah menjadi sumber harapan.
United States Latest News, United States Headlines
Similar News:You can also read news stories similar to this one that we have collected from other news sources.
IHSG Bergerak Dua Arah Pada Jumat PagiPortal berita yang menyajikan informasi terhangat baik peristiwa politik, entertainment dan lain lain
Read more »
Cegah Kekerasan Seksual pada Santri, Kemenag Lebak Wajibkan Ponpes Ramah AnakBerita Cegah Kekerasan Seksual pada Santri, Kemenag Lebak Wajibkan Ponpes Ramah Anak terbaru hari ini 2026-05-09 08:22:18 dari sumber yang terpercaya
Read more »
Lewat Program Ganas Lebak Cindo, Pertamina Sumbagsel Ajak Warga Kelola SampahDi tengah upaya meningkatkan kesehatan anak dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan, Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) me
Read more »
Balita di Lebak Hilang, Diduga Terseret Arus Sungai CisimeutSeorang bocah berusia di bawah lima tahun (balita) bernama Muhammad Akhmal, diduga terseret arus Sungai Cisimeut, Kabupaten Lebak, Banten.
Read more »




