Gubernur Jawa Tengah kagum dengan potret toleransi di salah satu keluarga di Pecinan semarang. Ia menemukan penganut 3 agama yang hidup dalam 1 rumah. pecinansemarang
jateng.jpnn.com, SEMARANG - Sebuah bangunan berukuran 3 x 4 meter berdiri di antara rumah-rumah gedong di Kawasan Pecinan Semarang. Rumah itu adalah miliki Nyonya Jongkis sekeluarga. Meski sesak untuk ditinggali, tetapi kelapangan toleransi begitu terasa di dalamnya. Bagimana tidak, rumah itu ditinggali 14 orang dengan kepercayaan yang beda-beda. Nyonya Jongkis dan suaminya beragama Islam, sedangkan dua anak dan 10 cucunya beragama Kristen dan Buddha.
Di sela-sela gowes berkeliling pecinan untuk meninjau ibadah di Kelenteng Tay Kak Sie dan vaksinasi booster yang digelar Walubi, Ganjar menyempatkan mampir di rumah tersebut. Baca Juga: Saat Ganjar datang di rumah yang berada di Jalan Sekolan, Kampung Purwodinatan, hanya ada Jongkis dan anak serta cucu-cucunya. Gunadi, suami Jongkis sedang bekerja "Bapak tukang kunci di Jalan Kartini," tutur perempuan 59 tahun itu. Jongkis bercerita bahwa dirinya tinggal di Pecinan sejak 1981.
Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama
Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.
Kampung Pecinan, Potret Kota TuaANGIN sepoi ketika Jawa Pos Radar Bojonegoro melintas di kawasan Kampung Pecinan, akhir pekan lalu. Mulai Jalan Hayam Wuruk, Jalan Jaksa Agung Suprapto, Jalan..
Baca lebih lajut »
Polisi Temukan Benda Ini di dalam Kendaraan Provokator Kericuhan GMBIBeritaTerpopuler Polisi Temukan Benda Ini di dalam Kendaraan Provokator Kericuhan GMBI ormasgmbi kericuhan
Baca lebih lajut »
Cerita Poligami Pria Thailand, Hidup Rukun dengan 8 Istri di Satu RumahPria Thailand Ong Dam Sorot menuai kontroversi karena berpoligami dengan delapan istri.
Baca lebih lajut »
Bola Ganjil: Para Medioker di Sepak Bola, Bertahan Hidup dalam Mengarungi EksistensiSejumlah klub di Liga Inggris memiliki rasio menang berbanding kalah nyaris 1:1. Mereka adalah para medioker dalam arti sesungguhnya.
Baca lebih lajut »