Beyond the Breaking News

Jagat Virtual Kertas - Seni - koran.tempo.co

Indonesia Berita Berita

Jagat Virtual Kertas - Seni - koran.tempo.co
Indonesia Berita Terbaru,Indonesia Berita utama

Jagat Virtual Kertas

Nama selusin perawat dan 25 dokter tertera dengan tinta merah, lengkap dengan tanggal meninggalnya, pada setiap perahu kertas berwarna putih. Mereka lalu terbawa mengalir saat dilarung ke air hingga tenggelam.

Karya video pendek berdurasi 3 menit 17 detik itu semakin membuat haru dengan iringan musik Bagimu Negeri ciptaan Kusbini. Dosen Seni Rupa Institut Teknologi Bandung , Ira Adriati, menyematkan judul karyanya, Tribute to Health Workers: COVID-19. “Karya ini menggambarkan perjalanan dan perjuangan yang telah mereka lakukan untuk kehidupan ini,” kata Ira. Karya tersebut merupakan bagian dari pameran virtual bertajuk “Festival Kertas Sejagat: Semesta Kertas dalam Renungan” yang dimulai pada Ahad, 10 Mei lalu. Penggagasnya seniman dan dosen Seni Rupa ITB, Setiawan Sabana, yang masih berupaya merayakan kertas sebagai media seni di era digital. Dari galeri kecil di rumahnya, ia menghelat pameran bersama di laman Garasiseni10.com. Pesertanya sebanyak 47 orang dan kelompok yang antara lain berasal dari Bandung, Depok, Jakarta, Semarang, Solo, Surabaya, hingga Sydney, Australia. Latar belakang profesinya pun beragam, seperti seniman, desainer, penari, pemusik, dan pengajar. Mereka merespons kontribusi media kertas dalam kehidupan manusia selama ini, khususnya di era teknologi digital dan masa pandemi virus corona. Koleksi karya lama dan baru Setiawan Sabana menjadi pameran khusus yang merupakan inti dari pameran bersama ini. Berjudul “Semesta Kertas dalam Diri”, koleksi yang dipajang misalnya karya dua dan tiga dimensi seri Monumen Kertas, juga Artefak Kertas, Nebula Kertas, dan Bumi Kertas. Karya terbarunya, seperti Covid 19: Manusia Isolasi, dan Manusia Terkunci , berupa topeng-topeng kertas yang disimpan dalam stoples kaca. ”Merefleksikan perjalanan mengharukan dari media kertas ini ketika berhadapan dengan teknologi baru,” ujar Setiawan. Sebagai pengingat soal kertas, Setiawan menjadikan 10 Mei sebagai Hari Kertas Sejagat . Kurator pameran, Zusfa Roihan, mengatakan karya peserta memakai ragam bahan selain kertas. Bentuknya ada yang dua dan tiga dimensi, performansi, media baru, juga konseptual. Tekniknya dengan gambar, lukisan, kolase, potongan, dan cetakan. Ragam temanya seperti potret diri, ekspresi personal, dan situasi mutakhir. Ada pula yang bertema tradisi, mitologi, hingga arsitektural. Menurut dia, pameran karya kertas secara virtual ini jadi makin menarik. “Karena memberikan posisi yang unik untuk kertas di masa depan dengan menghadirkannya dalam ruang digital.” Dari beberapa karya seniman, misalnya, tersirat kertas masih menantang untuk diolah menjadi karya seni, selain untuk digambari atau dilukisi. Supriatna, misalnya, membuat patung berjudul Kuda Renggong dari limbah kardus mi instan berukuran 100 x 23 x 70 sentimeter. Kuda renggong merupakan kesenian tradisional asal Sumedang yang menyebar di Jawa Barat. Adapun Tetty Mirwa menghadirkan patung seekor anjing warna cokelat dengan judul Menunggumu dari bahan bubur kertas. Ika Yuni Purnama membuat gaun yang semuanya berwarna putih pada sebuah boneka. Karya berjudul Perempuan Sepanjang Masa itu berbahan, antara lain, serbet kertas meja makan dengan ukuran karya 60 x 30 x 40 sentimeter. Ika mengibaratkan perempuan seperti sehelai kertas yang memiliki arti dan berharga dalam kehidupan. Adapun Kezia Clarissa Langi menyuguhkan rompi berbahan kulit kayu. Karya berjudul Urban Warriors itu, menurut dia, terinspirasi dari rompi perang suku Nias yang menjadi simbol ketahanan prajurit dan melindungi diri dari bahaya. Kecenderungan lain beberapa seniman dalam pameran ini yaitu mengolah seni tradisi dan terkait dengan wayang. Lintang Widyokusuma, misalnya. Lewat karya terbarunya berjudul Punakawan di Hutan Wanamarta, ia membuat karya tiga dimensi berukuran 50 x 38 sentimeter dari potongan kertas karton. Ceritanya mengambil sebuah adegan dalam kisah Babad Wanamarta ketika para punakawan setia mengiringi Permadi mencari Bratasena di hutan angker Wanamarta. Teknik paper sculpture yang dipakainya ikut menimbang efek terang bayangan yang muncul. Seperti pada wayang, faktor cahaya menjadi elemen penting untuk karyanya. Teknik tanpa warna dan garis tepi ini murni mengandalkan dimensi, terang, dan bayangan. ANWAR SISWADI

Berita ini telah kami rangkum agar Anda dapat membacanya dengan cepat. Jika Anda tertarik dengan beritanya, Anda dapat membaca teks lengkapnya di sini. Baca lebih lajut:

korantempo /  🏆 38. in İD

 

Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama

Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.

Menambat Kenangan di Taman Teluk - Perjalanan - koran.tempo.coMenambat Kenangan di Taman Teluk - Perjalanan - koran.tempo.coSetelah sukses dengan wisata belanja, sejarah, dan seni, Singapura membangun proyek wisata tanaman. Negerinya pun menjadi semakin hijau. Ketika malam tiba, ribuan lampu indah berkelip secara aransemental di tubuh Baobab baja, dengan iringan musik rhapsody yang memuja semesta.
Baca lebih lajut »

Tunaikan Rindumu di Ruang Virtual – Bebas AksesTunaikan Rindumu di Ruang Virtual – Bebas AksesPandemi Covid-19 memorak-porandakan tatanan kehidupan, menyeret kita ke ruang virtual lebih dalam. Jagat virtual menjadi kanal tumpuan untuk menggapai keterhubungan dalam berinteraksi.
Baca lebih lajut »

Corona, Puasa, dan Sikap Kita - Buku - koran.tempo.coCorona, Puasa, dan Sikap Kita - Buku - koran.tempo.coMenjaga kesehatan dan memelihara kelangsungan hidup lebih diutamakan ketimbang beribadah yang berpotensi menularkan penyakit.
Baca lebih lajut »

Nada Kontemplatif Nicholas Angelich - Seni - koran.tempo.coNada Kontemplatif Nicholas Angelich - Seni - koran.tempo.coResital piano tunggal Nicholas Angelich ditayangkan dalam Philharmonie de Paris di saluran YouTube. Tiap malam, saluran itu menayangkan konser-konser musik klasik.
Baca lebih lajut »

Giliran Kopi Susu Literan - Kuliner - koran.tempo.coGiliran Kopi Susu Literan - Kuliner - koran.tempo.coPara pengusaha kedai kopi dan kafe punya cara kreatif untuk menyiasati berkurangnya penghasilan gara-gara pandemi corona: memasarkan kopi susu literan.
Baca lebih lajut »

10 Kisah Liar Mike Tyson Yang Gemparkan Jagat Tinju Kelas Berat10 Kisah Liar Mike Tyson Yang Gemparkan Jagat Tinju Kelas BeratMike Tyson dikenal sebagai petinju yang liar di masa mudanya. Menjelang comeback di usia 53 tahun, ada 10 kisah Tyson yang...
Baca lebih lajut »



Render Time: 2026-06-16 06:17:50