Rupiah sukses menguat tipis melawan dolar Amerika Serikat (AS) Senin kemarin
, meski sebelumnya bergerak liar. Rupiah melanjutkan kinerja impresif setelah sebelumnya menguat empat pekan beruntun, dan menyentuh level terkuat sejak awal Februari.
Data tersebut akan dirilis pada Rabu nanti, berdasarkan survei Reuters CPI diprediksi tumbuh 5,2% year-on-year pada Maret, turun dari bulan sebelumnya 6% . Namun, yang menjadi masalah, CPI inti diprediksi tumbuh 5,6% lebih tinggi dari sebelumnya 5,5% .CPI inti tidak memasukkan sektor energi dan makanan dalam perhitungan, artinya inflasi di sektor yang tidak volatil sulit turun.
Secara teknikal, rupiah saat ini berada di bawah rerata pergerakan 50 hari , MA 100 dan MA 200. Sehingga ruang penguatan tentunya terbuka lebih besar.
Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama
Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.
Sempat Liar, Rupiah Sukses Menguat ke Bawah Rp 14.900/US$Rupiah sukses menguat tipis melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (10/4/2023)
Baca lebih lajut »
Cadangan Devisa Maret 2023 Diramal Naik Jadi US$141 MiliarCadangan devisa Indonesia pada Maret 2023 diperkirakan meningkat ke kisaran US$1,41 miliar.
Baca lebih lajut »
Konsumsi BBM Pertalite Diramal Melejit 10% di Mudik LebaranPertamina Patra Niaga memprediksi penggunaan BBM Pertalite meningkat 10% pada puncak arus mudik lebaran tahun ini
Baca lebih lajut »
Ternyata, Pemudik Naik Pesawat Lebaran Ini Diramal 'Meledak'Meski tak sebanyak pemudik mobil, jumlah penumpang pesawat saat mudik Lebaran tahun ini diprediksi naik 11%.
Baca lebih lajut »
Cadangan Devisa RI Diramal Tembus US$148 Miliar hingga Akhir 2023Cadangan devisa Indonesia pada Maret 2023 tercatat mencapai US$145,2 miliar, naik dibandingkan bulan sebelumnya
Baca lebih lajut »
Fed Pasok Dana ke Perbankan AS, Program Penurunan Inflasi Tertunda Sementara”Studi empiris kami tentang sektor perbankan AS memperlihatkan bank-bank besar tidak meminjamkan dana ke usaha kecil,” kata Richard Werner, profesor perbankan dan ekonomi University of Winchester. Internasional AdadiKompas
Baca lebih lajut »