Google menghadapi perubahan iklim dengan mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) dalam berbagai solusi, termasuk prediksi banjir, pengelolaan energi, dan pemantauan kebakaran hutan.
Liputan6.com, Jakarta - Dalam upayanya untuk mengatasi perubahan iklim global, Google telah memilih untuk memanfaatkan kecerdasan buatan sebagai salah satu alat utamanya.
Penggunaan AI mencakup prediksi banjir dan kebakaran hutan, perhitungan emisi terkait transportasi, dan pendeteksian perubahan dalam keanekaragaman hayati. Selama beberapa tahun terakhir, Google berhasil mengurangi penggunaan energi di jaringan pusat datanya dan beralih ke sumber daya listrik terbarukan berkat AI. Mereka bahkan mengurangi energi yang dibutuhkan untuk melatih model AI hingga 100 kali lipat dan emisi hingga 1.000 kali lipat.
2 dari 5 halamanOtomatisasi Pengurangan Dampak Lingkungan1. Mengotomatiskan Pengurangan Konsumsi Energi dengan Termostat Nest Active Assist adalah bagian dari Carbon Sense Suite, yang membantu perusahaan menghitung emisi bulanan terkait teknologi mereka.Google telah menciptakan berbagai sumber daya yang menyediakan informasi terkait iklim dan ekosistem. Salah satu alat yang mencolok adalah Freshwater Ecosystems Explorer, yang dikembangkan melalui kemitraan dengan United Nations Environment Programme dan European Commission Joint Research Center.
Ini juga memungkinkan pembuatan skenario reforestasi yang dapat membantu mengurangi efek pulau panas perkotaan. Hingga Maret, lebih dari 350 kota di empat benua telah menjadi bagian dari modul ini.Google Maps menyediakan pilihan rute yang ramah lingkungan bagi pengemudi. Selain memberikan estimasi waktu perjalanan, fitur ini juga memberi tahu pengemudi opsi dengan konsumsi bahan bakar atau daya baterai yang paling efisien.
4 dari 5 halamanKesimpulan Upaya Google Menghadapi Perubahan IklimDalam rangka menghadapi tantangan perubahan iklim, Google telah memanfaatkan teknologi AI dengan berbagai solusi yang telah dijelaskan di atas.
Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama
Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.
Adaptasi Perubahan Iklim, Para Petani Nagekeo NTT Gunakan Teknologi CSAMentan Syahrul Yasin Limpo mengatakan CSA memiliki dampak positif bagi pertanian, untuk meningkatkan produktivitas pertanian, meningkatkan indeks pertanaman (IP) dan pendapatan petani.
Baca lebih lajut »
Petani CSA Banjarnegara Gunakan Bakteri untuk Atasi Penyakit PadiPeningkatan hasil panen padi dicapai setelah memanfaatkan pupuk organik dipadu bakteri pengendali hayati penyakit padi yakni nitrobacter dan paenibacillus polymyxa.
Baca lebih lajut »
Bocoran Google Pixel 8: Usung Kamera Telefoto 48MP dan Fitur Edit Foto Ala DSLR, Harga Rp14,3 JutaGoogle mengumumkan rencana peluncuran gawai flagship terbarunya yakni Google Pixel 8 pada 4 Oktober 2023.
Baca lebih lajut »
DKI tindaklanjuti Perda APBD Perubahan 2023 untuk tingkatkan ekonomiPemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menindaklanjuti Perda Perubahan APBD Tahun Anggaran 2023 dengan besaran Rp79,5 triliun untuk meningkatkan ekonomi ...
Baca lebih lajut »
Anies: Koalisi Perubahan Dibangun untuk Benahi KetimpanganBakal calon presiden Anies Baswedan menegaskan bahwa koalisi perubahan dibentuk untuk memperbaiki kondisi ketimpangan yang saat ini begitu dirasakan sebagian besar masyarakat
Baca lebih lajut »
Pakar Teliti Pengaruh Perubahan Iklim pada Gempa dan Longsor di Selandia BaruPara peneliti dari Selandia Baru akan melakukan investigasi terkait bagaimana iklim dapat meningkatkan resiko kerusakan yang dipicu oleh gempa bumi dan tanah longsor, dua jenis bencana alam yang paling mematikan dan menimbulkan kerugian bagi negara itu. Tim peneliti dari Universitas Canterbury...
Baca lebih lajut »