Beyond the Breaking News

Etika Membaca: Membaca Sejarah di Tengah Wacana Pahlawan Soeharto

Etika News

Etika Membaca: Membaca Sejarah di Tengah Wacana Pahlawan Soeharto
SoehartoPahlawanBuku

Baca sebagai Kesaksian Etika membaca pasca-Soeharto menuntut kita untuk tidak hanya membaca apa yang tertulis dalam biografi resmi, tetapi juga membaca "ruang kosong" atau apa yang sengaja dihilangkan. Menyebut seseorang pahlawan tanpa mempertimbangkan rekam jejak pemberangusan intelektual adalah bentuk pengabaian terhadap penderitaan para penulis dan pemikir yang hak-haknya dirampas.

Selama tiga dekade di bawah rezim Orde Baru, membaca bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan sebuah tindakan yang berisiko politik tinggi. Negara memposisikan dirinya sebagai kurator tunggal kebenaran melalui mekanisme sensor yang ketat dan pemberedelan yang sistematis.

Namun, ketika hari ini muncul upaya-upaya untuk merehabilitasi nama besar Soeharto bahkan hingga wacana penyematan gelar pahlawan, muncul sebuah pertanyaan mendasar mengenai etika: bagaimana kita seharusnya membaca sejarah di tengah upaya pemutihan masa lalu? Di zaman Soeharto, keamanan nasional menjadi dalih untuk memberangus setiap gagasan yang dianggap menyimpang dari narasi tunggal pemerintah. Melalui Kejaksaan Agung, ribuan judul buku dilarang beredar. Karya-karya sastra kelas dunia milik Pramoedya Ananta Toer harus dikubur di bawah tanah atau dibaca secara sembunyi-sembunyi di bawah selimut.

Pemberedelan buku saat itu bukan sekadar penghancuran kertas dan tinta, melainkan sebuah upaya pemutusan sirkuit logika publik. Ketika sebuah buku dilarang, negara sebenarnya sedang mengatakan bahwa masyarakat dianggap tidak cukup dewasa untuk memilah informasi. Dampaknya adalah lahirnya generasi yang dididik dalam kekosongan referensi, di mana kebenaran hanya datang dari buku teks sekolah yang telah disaring sedemikian rupa. Etika membaca di masa kini diuji ketika narasi tentang Suharto mulai bergeser.

Bagaimana mungkin seseorang yang memimpin era di mana pikiran-pikiran dipenjara, kini diwacanakan sebagai pahlawan? Di sinilah"Etika Membaca" menjadi krusial. Membaca sebagai Kesaksian Etika membaca pasca-Soeharto menuntut kita untuk tidak hanya membaca apa yang tertulis dalam biografi resmi, tetapi juga membaca"ruang kosong" atau apa yang sengaja dihilangkan. Menyebut seseorang pahlawan tanpa mempertimbangkan rekam jejak pemberangusan intelektual adalah bentuk pengabaian terhadap penderitaan para penulis dan pemikir yang hak-haknya dirampas.

Membaca dengan etis berarti mengakui bahwa kemajuan pembangunan fisik yang sering diagungkan dari masa Orde Baru dibangun di atas reruntuhan kebebasan berpendapatSetelah keran informasi dibuka lebar sejak Reformasi, tantangan kita bukan lagi kelangkaan buku, melainkan kejernihan dalam menilai. Etika membaca setelah wacana"Soeharto Pahlawan" muncul adalah keberanian untuk bersikap skeptis. Membaca secara etis adalah upaya untuk menolak lupa.

Ia adalah komitmen untuk memastikan bahwa tidak ada lagi otoritas yang berhak menentukan apa yang boleh dan tidak boleh masuk ke dalam kepala kita. Kita memiliki tanggung jawab untuk kembali membuka buku-buku yang dulu diberedel, mendengarkan suara-suara yang dulu dibungkam, dan membandingkannya dengan narasi yang ada hari ini.

Jika kita membaca hanya untuk membenarkan kenyamanan politik masa kini sambil menutup mata terhadap kekejaman sensor masa lalu, maka kita sebenarnya sedang mengulangi kesalahan yang sama: membiarkan sejarah ditulis oleh pemenang dengan tinta yang menghapus kebenaran. Sebagai penutup, pahlawan sejati tidak akan pernah takut pada buku. Karena hanya rezim yang rapuhlah yang merasa terancam oleh kata-kata. Etika membaca kita hari ini adalah benteng terakhir untuk memastikan bahwa kegelapan masa lalu tidak kembali hadir dengan wajah yang baru

We have summarized this news so that you can read it quickly. If you are interested in the news, you can read the full text here. Read more:

rmol_id /  🏆 21. in İD

Soeharto Pahlawan Buku Beredel Pemberedelan Kejernihan Benteng Terakhir

 

United States Latest News, United States Headlines

Similar News:You can also read news stories similar to this one that we have collected from other news sources.

Membaca Revolusi Diam-diam di Balik Kebangkitan Como 1907Membaca Revolusi Diam-diam di Balik Kebangkitan Como 1907Indonesia harus belajar dari Como. Salah satu pelajaran paling penting adalah pentingnya profesionalisme dan kesabaran dalam membangun sepak bola.
Read more »

Orang yang Tumbuh Besar dengan Banyak Membaca Biasanya Menunjukkan 9 Ciri Kepribadian Unik Ini Menurut PsikologiOrang yang Tumbuh Besar dengan Banyak Membaca Biasanya Menunjukkan 9 Ciri Kepribadian Unik Ini Menurut PsikologiDilansir dari Expert Editor, terdapat 9 ciri kepribadian unik yang sering muncul pada orang yang tumbuh besar dengan banyak membaca.
Read more »

Bisik-bisik Trump Saat Salaman Erat dengan Xi Jinping, Pakar Etika Bilang BeginiBisik-bisik Trump Saat Salaman Erat dengan Xi Jinping, Pakar Etika Bilang BeginiPortal berita yang menyajikan informasi terhangat baik peristiwa politik, entertainment dan lain lain
Read more »

Wamenkomdigi tekankan tata kelola AI berbasis etika untuk regulasiWamenkomdigi tekankan tata kelola AI berbasis etika untuk regulasiWakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menekankan tata kelola kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) berbasis pada ...
Read more »



Render Time: 2026-06-18 17:27:10