Beyond the Breaking News

Epilog: Seabad Kesunyian

Bunga Penutup Abad Berita

Epilog: Seabad Kesunyian
Pramoedya Ananta ToerGabriel Garcia MarquesSeratus Tahun Kesunyian

Mungkin tak banyak yang memikirkan bahwa pementasan itu memberi inspirasi bahwa bangsa ini masih punya kesempatan untuk memperbaiki segala sesuatunya.

Mungkin tak banyak yang memikirkan bahwa pementasan itu memberi inspirasi bahwa bangsa ini masih punya kesempatan untuk memperbaiki segala sesuatunya. Paragraf itu berbunyi, ”Dunia terlihat begitu muda sehingga banyak benda belum bernama dan untuk menyatakan benda-benda itu kita harus menunjuknya.

Mungkin tak banyak yang memikirkan bahwa pementasan itu memberi inspirasi bahwa bangsa ini masih punya kesempatan untuk memperbaiki segala sesuatunya.. Paragraf itu berbunyi, ”Dunia terlihat begitu muda sehingga banyak benda belum bernama dan untuk menyatakan benda-benda itu kita harus menunjuknya.” Aneh, setelah menyaksikan pertunjukan teatersaya membayangkan bagaimana kenyataannya ketika Pramoedya Ananta Toer pertama kali dibuang ke Pulau Buru tahun 1969. Judul tulisan ini juga mungkin sekali mengingatkan kita kepada novel yang mengantarkan pengarang Kolombia itu meraih Hadiah Nobel Sastra tahun 1982. Secara bertepatan, waktunya sutradara Wawan Sofwan dan Titimangsa mementaskan ulangPementasan ini sudah mereka mulai sejak tujuh tahun silam dengan para aktor yang lebih-kurang sama, di mana masih ada Happy Salma , Reza Rahadian , dan Chelsea Islan . Jika tahun terdahulu melibatkan aktor Lukman Sardi sebagai Jean Marais, tahun 2025 peran itu diberikan kepada Andrew Trigg, seorang sutradara teater dan film. Kalau saja Pram masih hidup, tahun 2025 ia akan berusia 100 tahun. Oleh karena itu, di foyer-foyer Ciputra Artpreneur, tempat pementasan berlangsung, dipamerkan perjalanan kepengarangan Pram, kisah singkat hidupnya, displai ruang kerja, danbuku yang pernah ditulisnya. Oh, ya, ada pula kutipan-kutipan kalimat dari Pram yang dipetik dari berbagai tulisannya. Entahlah, meskipun dalam, kalimat-kalimat itu tampak biasa saja. Mungkin juga tak banyak yang membacanya. Ingatan saya justru melayang pada desa fiksi bernama Macondo, sebuah desa yang dibangun oleh penjelajah bernama Jose Arcadio Buendia bersama istrinya, Ursula Iguaran. Mereka sesungguhnya sepasang anak muda yang saling mencintai, tetapi hubungannya ditentang keluarga sampai akhirnya melarikan diri dan menjelajah tempat baru. Begitulah, Gabriel membayangkan tempat baru, yang bisa jadi representasi dari Amerika Latin saat ditemukan pertama oleh para penjelajah. Dan, tahun 1960-an, banyak negara di kawasan itu bergolak karena campur tangan negara-negara di luar mereka.adalah perjalanan seabad keluarga Buendia yang berakhir tragis karena ”intervensi” negara terhadap kemandirian dan kebebasan yang telah mereka bangun untuk menciptakan negeri yang damai dan makmur. Macondo berakhir sebagai wilayah gersang dan dipenuhi penderitaan rakyatnya.Pram seolah mencurahkan perjalanan perih sejarah bangsa sejak masa kolonial. Tokoh besar bernama Tirto Adhi Soerjo, pendiri surat kabar pertama berbahasa Melayu bernamaBelenggu kehidupan kaum pribumi tidak hanya berupa tindasan fisik, tetapi juga jerat-jerat hukum yang diskriminatif. Meski termasuk keturunan Indo-Belanda, Annelies, anak Nyai Ontosoroh dengan seorang Belanda bernama Herman Mellema, harus ”dipulangkan” ke Belanda. Sepeninggal Herman Mellema, hak perwalian Anneleis jatuh ke tangan Maurits Mellema, kakak tirinya. Annelies yang sudah menjadi istri sah dari Minke menderita sakit keras sepanjang perjalanan dari Surabaya menuju Belanda. Pengisahan kondisinya dikabarkan lewat surat-surat dari Pandji Darman alias Jan Dapperste. Wawan sebagai penulis naskah sekaligus sutradara pertunjukan ini secara tajam ingin memperlihatkan betapa diskriminasi itu telah terjadi sejak masa kolonial dan berjalan hingga hari ini.rakyat kebanyakan seperti kejadian beberapa waktu lalu, bukan? ”Surat-surat Pandji Darman kepada Minke dan Nyai Ontosoroh telah menyadarkan saya diskriminasi itu harus terus dilawan. Nyai Ontosoroh dan Minke mengorbankan harga diri dan segalanya untuk menuntut keadilan di tengah hukum yang diciptakan untuk mendiskreditkan kaum pribumi. Secara eksplisit itu masih terjadi sampai kini dalam bentuk berbeda,” ujar Wawan. Rasanya itulah nilai-nilai yang ingin dilawan Pramoedya dari ”unit” pembuangan di Pulau Buru. Novel ini jadi semakin menebarkan rasa perih ketika kita semua tahu bahwa Pram pernah melisankannya kepada para sesama tahanan politik di Pulau Buru untuk menjaga kewarasan hidup. Berkisah adalah cara yang ditemukan Pram untuk melawan kekejaman, penindasan, penghancuran mental, dan kekerasan hidup di pulau terpencil itu., Pram bercerita bahwa tahun 1969 ia termasuk gelombang tapol pertama yang dibuang ke Pulau Buru. Mereka tidak dibekali peralatan apa pun untuk membuka hutan yang dipenuhi pohon rotan dan rumput berdaun setajam silet. ”Kami para tapol ditugasi membuat jalan dan membuka pertanian. Sampai akhirnya kami berhasil membuat jalan sejauh 175 kilometer dan lahan lebih dari 3000 hektar,” kata Pram dalam satu wawancara dengan MetroTV.Pertama, Jose telah menjadi penyemai benih-benih kota Macondo, yang di kemudian hari menjadi representasi keberadaan negara-negara di Amerika Latin. Ketika campur tangan asing mulai masuk, meluncurlah pendiskreditan terhadap para perintis kota dan keluarganya. Kedua, Pram bersama sekitar 800 tapol gelombang pertama telah membabat hutan perawan Pulau Buru menjadi lahan pertanian yang subur dan jalan-jalan yang menghubungkan antara unit dan desa-desa setempat. Tetapi, jalan ke arah itu tidaklah mudah. Semua tapol bekerja di bawah tekanan militer, yang tak jarang ”main bunuh” dengan tuduhan yang sering kali tak masuk akal. Mereka bekerja dengan kaki telanjang, merobohkan pohon-pohon besar dengan tangan-tangan terluka, serta kondisi mental yang tidak stabil. Tak jarang di antaranya ada yang bunuh diri tak kuat menghadapi tekanan. Apa yang dikisahkan Pram dalamBuat saya, kesejajaran peristiwa itu membuktikan satu hal: kekuatan imajinasi yang membangun semesta seni. Pada pertengahan tahun 1960-an, saya kira Pram sudah mulai merencanakan menulis, 29-31 Agustus 2025, juga menemukan konteksnya sendiri ketika di dalam negeri bergolak unjuk rasa yang memprotes berbagai kebijakan pemerintah dan wakil rakyat. Bahkan, saat pementasan ini memasuki fase awal berupa gladi bersih, Kamis , aksi unjuk rasa yang dipadamkan dengan tembakan gas air mata telah menewaskan Affan Kurniawan . Affan ditabrak dan dilindas kendaraan taktis Brimob hingga tewas seketika. Peristiwa itu telah memicu eskalasi unjuk rasa dan kekerasan yang mencekam di Jakarta dan beberapa kota lain, seperti Makassar, Surabaya, Yogyakarta, Semarang, dan Bandung. Dalam kondisi yang serba tak menentu, di tengah ancaman penjarahan dan pembakaran, produserHappy Salma, berkata kepada saya, ”Bli, sungguh tidak mudah untuk membuat keputusan. Banyak pihak ingin menunda pertunjukan, tetapi banyak pihak juga yang mencari tiket pertunjukan. Saya hanya memusatkan pikiran bahwa pertunjukan ini justru harus terjadi di tengah cekaman suasana, seperti juga kemunculan novel-novel Pramoedya….” Mungkin banyak pihak berpendapat bukan waktunya keras kepala untuk terus menggelar pertunjukan di tengah situasi yang mengerikan di Jakarta. Saya yakin Happy, Wawan Sofwan, Reza Rahadian telah membaca dan belajar banyak tentang situasi yang melahirkan novel Tetralogi Buru dari Pramoedya.di unit-unit pembuangannya di Pulau Buru? Pelisanan atau pendongengan kisah sudah pasti bukan sebatas penghiburan, melainkan lebih-lebih adalah cara menjaga kewarasan dan harapan dalam situasi paling buruk. Bukankah pula pementasanMungkin tak banyak yang memikirkan bahwa pementasan itu memberi inspirasi bahwa bangsa ini masih punya kesempatan untuk memperbaiki segala sesuatunya. Bahwa menebar harapan lewat cerita adalah ”pendinginan” kepala dan hati yang terlanjur panas akibat intrik politik dan kekerasan yang menjalar ke seluruh penjuru kota. Diskriminasi hukum yang dilakukan pemerintah kolonial terhadap Nyai Ontosoroh dan Minke adalah bukti bahwa kekuasaan yang absolut selalu punya dalih untuk ”meniadakan” hak-hak rakyat kebanyakan. Nyai Ontosoroh adalah representasi perempuan pribumi yang menerima nasibnya dengan lapang dada meski sakit itu menusuk-nusuk sampai ke harga dirinya.Dan tahu, harapan untuk itu telah ditebar sedini pembukaan novel Gabriel, ”Dunia terlihat begitu muda sehingga banyak benda belum bernama dan untuk menyatakan benda-benda itu kita harus menunjuknya.” Minke melakukannya dengan pergi untuk melanjutkan pendidikan ke Stovia di Batavia dengan meninggalkan Nyai Ontosoroh tetap di Surabaya. Kepergian itu adalah keberanian menjelajah wilayah baru untuk kemudian memberi arti pada hidup sebagai manusia yang bermartabat.. Paragraf itu berbunyi, ”Dunia terlihat begitu muda sehingga banyak benda belum bernama dan untuk menyatakan benda-benda itu kita harus menunjuknya.” Aneh, setelah menyaksikan pertunjukan teatersaya membayangkan bagaimana kenyataannya ketika Pramoedya Ananta Toer pertama kali dibuang ke Pulau Buru tahun 1969. Judul tulisan ini juga mungkin sekali mengingatkan kita kepada novel yang mengantarkan pengarang Kolombia itu meraih Hadiah Nobel Sastra tahun 1982. Secara bertepatan, waktunya sutradara Wawan Sofwan dan Titimangsa mementaskan ulangPementasan ini sudah mereka mulai sejak tujuh tahun silam dengan para aktor yang lebih-kurang sama, di mana masih ada Happy Salma , Reza Rahadian , dan Chelsea Islan . Jika tahun terdahulu melibatkan aktor Lukman Sardi sebagai Jean Marais, tahun 2025 peran itu diberikan kepada Andrew Trigg, seorang sutradara teater dan film. Kalau saja Pram masih hidup, tahun 2025 ia akan berusia 100 tahun. Oleh karena itu, di foyer-foyer Ciputra Artpreneur, tempat pementasan berlangsung, dipamerkan perjalanan kepengarangan Pram, kisah singkat hidupnya, displai ruang kerja, danbuku yang pernah ditulisnya. Oh, ya, ada pula kutipan-kutipan kalimat dari Pram yang dipetik dari berbagai tulisannya. Entahlah, meskipun dalam, kalimat-kalimat itu tampak biasa saja. Mungkin juga tak banyak yang membacanya. Ingatan saya justru melayang pada desa fiksi bernama Macondo, sebuah desa yang dibangun oleh penjelajah bernama Jose Arcadio Buendia bersama istrinya, Ursula Iguaran. Mereka sesungguhnya sepasang anak muda yang saling mencintai, tetapi hubungannya ditentang keluarga sampai akhirnya melarikan diri dan menjelajah tempat baru. Begitulah, Gabriel membayangkan tempat baru, yang bisa jadi representasi dari Amerika Latin saat ditemukan pertama oleh para penjelajah. Dan, tahun 1960-an, banyak negara di kawasan itu bergolak karena campur tangan negara-negara di luar mereka.adalah perjalanan seabad keluarga Buendia yang berakhir tragis karena ”intervensi” negara terhadap kemandirian dan kebebasan yang telah mereka bangun untuk menciptakan negeri yang damai dan makmur. Macondo berakhir sebagai wilayah gersang dan dipenuhi penderitaan rakyatnya.Pram seolah mencurahkan perjalanan perih sejarah bangsa sejak masa kolonial. Tokoh besar bernama Tirto Adhi Soerjo, pendiri surat kabar pertama berbahasa Melayu bernamaBelenggu kehidupan kaum pribumi tidak hanya berupa tindasan fisik, tetapi juga jerat-jerat hukum yang diskriminatif. Meski termasuk keturunan Indo-Belanda, Annelies, anak Nyai Ontosoroh dengan seorang Belanda bernama Herman Mellema, harus ”dipulangkan” ke Belanda. Sepeninggal Herman Mellema, hak perwalian Anneleis jatuh ke tangan Maurits Mellema, kakak tirinya. Annelies yang sudah menjadi istri sah dari Minke menderita sakit keras sepanjang perjalanan dari Surabaya menuju Belanda. Pengisahan kondisinya dikabarkan lewat surat-surat dari Pandji Darman alias Jan Dapperste. Wawan sebagai penulis naskah sekaligus sutradara pertunjukan ini secara tajam ingin memperlihatkan betapa diskriminasi itu telah terjadi sejak masa kolonial dan berjalan hingga hari ini.rakyat kebanyakan seperti kejadian beberapa waktu lalu, bukan? ”Surat-surat Pandji Darman kepada Minke dan Nyai Ontosoroh telah menyadarkan saya diskriminasi itu harus terus dilawan. Nyai Ontosoroh dan Minke mengorbankan harga diri dan segalanya untuk menuntut keadilan di tengah hukum yang diciptakan untuk mendiskreditkan kaum pribumi. Secara eksplisit itu masih terjadi sampai kini dalam bentuk berbeda,” ujar Wawan. Rasanya itulah nilai-nilai yang ingin dilawan Pramoedya dari ”unit” pembuangan di Pulau Buru. Novel ini jadi semakin menebarkan rasa perih ketika kita semua tahu bahwa Pram pernah melisankannya kepada para sesama tahanan politik di Pulau Buru untuk menjaga kewarasan hidup. Berkisah adalah cara yang ditemukan Pram untuk melawan kekejaman, penindasan, penghancuran mental, dan kekerasan hidup di pulau terpencil itu., Pram bercerita bahwa tahun 1969 ia termasuk gelombang tapol pertama yang dibuang ke Pulau Buru. Mereka tidak dibekali peralatan apa pun untuk membuka hutan yang dipenuhi pohon rotan dan rumput berdaun setajam silet. ”Kami para tapol ditugasi membuat jalan dan membuka pertanian. Sampai akhirnya kami berhasil membuat jalan sejauh 175 kilometer dan lahan lebih dari 3000 hektar,” kata Pram dalam satu wawancara dengan MetroTV.Pertama, Jose telah menjadi penyemai benih-benih kota Macondo, yang di kemudian hari menjadi representasi keberadaan negara-negara di Amerika Latin. Ketika campur tangan asing mulai masuk, meluncurlah pendiskreditan terhadap para perintis kota dan keluarganya. Kedua, Pram bersama sekitar 800 tapol gelombang pertama telah membabat hutan perawan Pulau Buru menjadi lahan pertanian yang subur dan jalan-jalan yang menghubungkan antara unit dan desa-desa setempat. Tetapi, jalan ke arah itu tidaklah mudah. Semua tapol bekerja di bawah tekanan militer, yang tak jarang ”main bunuh” dengan tuduhan yang sering kali tak masuk akal. Mereka bekerja dengan kaki telanjang, merobohkan pohon-pohon besar dengan tangan-tangan terluka, serta kondisi mental yang tidak stabil. Tak jarang di antaranya ada yang bunuh diri tak kuat menghadapi tekanan. Apa yang dikisahkan Pram dalamBuat saya, kesejajaran peristiwa itu membuktikan satu hal: kekuatan imajinasi yang membangun semesta seni. Pada pertengahan tahun 1960-an, saya kira Pram sudah mulai merencanakan menulis, 29-31 Agustus 2025, juga menemukan konteksnya sendiri ketika di dalam negeri bergolak unjuk rasa yang memprotes berbagai kebijakan pemerintah dan wakil rakyat. Bahkan, saat pementasan ini memasuki fase awal berupa gladi bersih, Kamis , aksi unjuk rasa yang dipadamkan dengan tembakan gas air mata telah menewaskan Affan Kurniawan . Affan ditabrak dan dilindas kendaraan taktis Brimob hingga tewas seketika. Peristiwa itu telah memicu eskalasi unjuk rasa dan kekerasan yang mencekam di Jakarta dan beberapa kota lain, seperti Makassar, Surabaya, Yogyakarta, Semarang, dan Bandung. Dalam kondisi yang serba tak menentu, di tengah ancaman penjarahan dan pembakaran, produserHappy Salma, berkata kepada saya, ”Bli, sungguh tidak mudah untuk membuat keputusan. Banyak pihak ingin menunda pertunjukan, tetapi banyak pihak juga yang mencari tiket pertunjukan. Saya hanya memusatkan pikiran bahwa pertunjukan ini justru harus terjadi di tengah cekaman suasana, seperti juga kemunculan novel-novel Pramoedya….” Mungkin banyak pihak berpendapat bukan waktunya keras kepala untuk terus menggelar pertunjukan di tengah situasi yang mengerikan di Jakarta. Saya yakin Happy, Wawan Sofwan, Reza Rahadian telah membaca dan belajar banyak tentang situasi yang melahirkan novel Tetralogi Buru dari Pramoedya.di unit-unit pembuangannya di Pulau Buru? Pelisanan atau pendongengan kisah sudah pasti bukan sebatas penghiburan, melainkan lebih-lebih adalah cara menjaga kewarasan dan harapan dalam situasi paling buruk. Bukankah pula pementasanMungkin tak banyak yang memikirkan bahwa pementasan itu memberi inspirasi bahwa bangsa ini masih punya kesempatan untuk memperbaiki segala sesuatunya. Bahwa menebar harapan lewat cerita adalah ”pendinginan” kepala dan hati yang terlanjur panas akibat intrik politik dan kekerasan yang menjalar ke seluruh penjuru kota. Diskriminasi hukum yang dilakukan pemerintah kolonial terhadap Nyai Ontosoroh dan Minke adalah bukti bahwa kekuasaan yang absolut selalu punya dalih untuk ”meniadakan” hak-hak rakyat kebanyakan. Nyai Ontosoroh adalah representasi perempuan pribumi yang menerima nasibnya dengan lapang dada meski sakit itu menusuk-nusuk sampai ke harga dirinya.Dan tahu, harapan untuk itu telah ditebar sedini pembukaan novel Gabriel, ”Dunia terlihat begitu muda sehingga banyak benda belum bernama dan untuk menyatakan benda-benda itu kita harus menunjuknya.” Minke melakukannya dengan pergi untuk melanjutkan pendidikan ke Stovia di Batavia dengan meninggalkan Nyai Ontosoroh tetap di Surabaya. Kepergian itu adalah keberanian menjelajah wilayah baru untuk kemudian memberi arti pada hidup sebagai manusia yang bermartabat.

GooglePlease follow us on Google to support us
Berita ini telah kami rangkum agar Anda dapat membacanya dengan cepat. Jika Anda tertarik dengan beritanya, Anda dapat membaca teks lengkapnya di sini. Baca lebih lajut:

hariankompas /  🏆 8. in İD

Pramoedya Ananta Toer Gabriel Garcia Marques Seratus Tahun Kesunyian Utama X-Hide-Inspire-Me

 

Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama

Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.

Panggung Retak Pestapora dan Etika yang MenggemaPanggung Retak Pestapora dan Etika yang MenggemaPestapora 2025 mungkin tidak sempurna. Tetapi jika niat untuk memperbaikinya konsisten, panggung selanjutnya bisa menjadi lebih dari sekadar konser...
Baca lebih lajut »

Ini Arahan Prabowo ke Ferry Juliantono Usai Dilantik Jadi Menteri KoperasiIni Arahan Prabowo ke Ferry Juliantono Usai Dilantik Jadi Menteri Koperasi'Tadi kami sempat di-briefing sebentar oleh presiden untuk secepat mungkin, sesegera mungkin untuk bekerja,' kata Ferry.
Baca lebih lajut »

Purbaya soal Prabowo Tunjuk Dirinya Gantikan Sri Mulyani: Mungkin Saya Cukup JagoPurbaya soal Prabowo Tunjuk Dirinya Gantikan Sri Mulyani: Mungkin Saya Cukup JagoMenteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan alasan pelantikannya oleh Presiden Prabowo. Ia dianggap paham kondisi ekonomi dan menggantikan Sri Mulyani.
Baca lebih lajut »

Sebut Tuntutan 17+8 Suara Sebagian Kecil Rakyat, Menkeu Purbaya: Mungkin Merasa TergangguSebut Tuntutan 17+8 Suara Sebagian Kecil Rakyat, Menkeu Purbaya: Mungkin Merasa TergangguMenkeu Purbaya mengaku akan menyusun strategi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 6–7 persen.
Baca lebih lajut »

Belum Ada Keputusan soal Pengurangan Tunjangan Perumahan, DPRD DKI: Nggak Mungkin Buru-buruBelum Ada Keputusan soal Pengurangan Tunjangan Perumahan, DPRD DKI: Nggak Mungkin Buru-buruPortal berita yang menyajikan informasi terhangat baik peristiwa politik, entertainment dan lain lain
Baca lebih lajut »

Resmikan Sekolah di Jaksel, Gubernur Pramono Berpesan Agar Generasi Muda Membangun KarakterResmikan Sekolah di Jaksel, Gubernur Pramono Berpesan Agar Generasi Muda Membangun Karakter. Karakter yang ditanamkan adalah untuk menjadi seseorang yang mandiri, pejuang, dan mau bermimpi setinggi mungkin.
Baca lebih lajut »



Render Time: 2026-07-13 18:26:33