Presiden Jokowi minum jamu bentuk pemanfaatan keanekaragaman hayati.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ekonom Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia Emil Salim mengingatkan, pentingnya pilihan diversitas pangan sebagai cara menghadapi krisis di masa depan akibat pandemi penyakit maupun sebab lainnya.
Meski demikian, menurut dia, perlu untuk mengubah kebiasaan nutrisi masyarakat sehingga bukan hanya beras yang dikonsumsi, tapi ada diversitas pangan. “Dan kekayaan hayati itu jadi penting karena memberi makna pembangunan yang berkelanjutan,” ujar Emil. Itu bisa menjadi sumbangan untuk dunia agar bisa mengajak semua mengubah visi Bappenas yang memang membutuhkan petunjuk perihal pemanfaatan keanekaragaman hayati untuk penguatan pangan.
Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama
Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.
Emil Tetap Imbau Warga Sholat Idul Fitri di Rumah |Republika OnlinePemprov Jabar akan mengklasterkan daerah hingga ke tingkat kelurahan dan desa
Baca lebih lajut »
Diversitas Pangan, Cara Hadapi Krisis Masa DepanCara lain untuk memastikan kecukupan nutrisi pangan nasional dalam menghadapi krisis di masa depan, menurut Emil Salim dapat dilakukan dengan cara mengembangkan urban farming yang memang juga sudah berkembang di banyak negara dunia.
Baca lebih lajut »
Rasulullah SAW Ingatkan Umatnya Jangan Jadikan Dunia Ambisi |Republika OnlineSejumlah hadits Rasulullah menegaskan bahaya jadikan dunia puncak ambisi.
Baca lebih lajut »
Harga Tiga Komoditas Pangan di Jabar Naik |Republika OnlineHarga bawang merah,ayam broiler dan trigu di Jabar relatif naik.
Baca lebih lajut »
Covid-19 Jadi Momen Keluar dari Ketergantungan Impor Alkes |Republika OnlineAktivitas ekspor dan impor tidak berjalan dengan baik selama masa pandemi Covid-19.
Baca lebih lajut »
Menepis Ancaman Krisis Pangan |Republika OnlineDi masa pandemi desa memegang peran vital sebagai pemasok kebutuhan pangan nasional.
Baca lebih lajut »