Beyond the Breaking News

Ekonomi Jalanan

Analisis Budaya News

Ekonomi Jalanan
Lynda IbrahimEkonomi GlobalX-Hide-Give-Me-Perspective

Pelemahan ekonomi global dan domestik merembes ke kehidupan sehari-hari, dari harga pangan, wisata, hingga lapangan kerja.

Akhir pekan panjang lalu, saya berkendara bersama beberapa teman ke perairan dekat Jakarta. Dulu, kami santai menjelajahi pelosok Indonesia, termasukdi pulau tak bernama sekian jam masuk laut di Kaimana.

Namun, karena ongkos transportasi melejit, pilihan liburan kami menyempit.segera setelah terkuncinya Selat Hormuz menghambat pasokan bahan baku. Dampak nyatanya ada di camilan kami pagi itu; roti sisir hanya dikemas plastik selapis, sementara kemasan telur gabus mengecil. Seorang kawan lain juga mengeluhkan kosongnya roti gandum yang ia butuhkan karena kondisi autoimun. Sepanjang jalan kemarin, teman seperjalanan mengeluhkan situasi industri ekspor-impor tempatnya bekerja.

Kecilnya pasokan avtur karena perang mendongkrak harga sampai perkapalan membebankan. Tambahan biaya ini harus dibayar dalam dolar, sementara rupiah terus melemah. Pukulan ganda ini membuat beberapa klien memundurkan pembayaran, sedangkan perusahaan sang kawan harus membayar di depan. Ekonomi acap diperdebatkan dengan teori sulit, kurva pelik dan angka rumit.

Semua itu memang diperlukan untuk menjabarkan kompleksnya perekonomian. Namun, penggalan potret bisa bercerita tiap saat di jalanan selama kita sudi mengakui pigura besarnya. Hotel kami ramai sepanjang akhir pekan lalu? Ya.

Namun, berapa persen dari tamu yang tadinya mampu saatke Bali, Bajo atau Tokyo? Berapa yang tadinya mampu berwisata, sekarang duduk di rumah karena harga terus melonjak? Dari tamu yang muncul, berapa pengeluaran perkepala dibanding 2-3 tahun lalu? Restoran yang kekurangan pramusaji, apa karena tak lagi sanggup menggaji banyak pegawai sebab ramainya tamu makin jarang terjadi?

Di sekian kilometer pantai berpasir putih itu, banyak penginapan sepi dan bahkan terbengkalai. Tetangga saya tadi bercerita, untuk ukurankemarin, Bromo pun lengang. Mengingatkan saya akan Lombok tahun lalu, di mana kelesuan ekonomi tak pernah sembuh bahkan setelah pandemi Covid-19 melandai. Artinya, tanpa harus ribut teori, turunnya daya beli sudah bicara sendiri.

Dan realitas ini tidak bisa seenaknya dianggap pasal kecil, persoalan ”orang kota yang berduit”. Sensus BPS 2020 menyatakan 57 persen populasi Indonesia ada di perkotaan; sekarang diproyeksikan 61 persen. Urbanisasi terjadi karena sedikitnya peluang di daerah rural, ini fakta yang bisa diceritakan ART, pramusiwi, pramusaji, pramuniaga, kasir toko, terapis salon, pekerja konstruksi, dan bahkan pegawai korporat. Sekarang, kalau si warga urban makin tertekan inflasi atau malah kena PHK , tanggungannya di desa hidup dari mana?

Saya tak pernah lupa cerita pemilik penginapan kecil langganan di Ubud. Selama setahun lebih pandemi tanpa tamu, pegawainya tak memaksa digaji. Namun, menolak dipulangkan ke kampung. ”Makan apa kami di sana?

” ujarnya, menirukan. Nilai tukar tersungkur itu bukan cuma problem orang kaya untuk pelesir ke negara jiran, tapi derita bersama karena mayoritas obat dan alat kesehatan datang dari mancanegara. Bahkan, untuk warga perdesaan yang hidup layak, tetap tidak bebas dari pukulan ganda yang dihadapi bisnis di perkotaan. Hari kedua liburan, penjaja keliling di mercusuar tua mengulurkan opak singkong saat saya menanyakan rempeyek dan keripik tempe.

”Tempe dan kacang mahal sekarang, Neng,” jawabnya. Roti gandum teman saya bisa diledek sebagai persoalan orang kota, tapi kedelai dan kacang tanah, bahan baku tempe dan pecel yang sering dicap makanan kampung, pun tergantung impor. Benar, pupuk untuk petani saat ini alhamdulillah surplus, tapi kita harus mengimpor fosfor dan kalium yang menjadi bahan baku. Suku cadang perahu dan peralatan perikanan pun jarang buatan domestik, dan mungkin lebih mendesak dibantu pemerintah sebelum ribuan desa nelayan dihadiahiyang menyedot listrik.

Harga suku cadang juga memengaruhi biaya operasional mobil omprengan atau bus, pilihan terbatas warga desa yang nyaris tak tersentuh transportasi umum yang memadai. Nilai tukar tersungkur itu bukan cuma problem orang kaya untuk pelesir ke negara jiran, tapi derita bersama karena mayoritas obat dan alat kesehatan datang dari mancanegara. Mau bengkak berapa tanggungan BPJS? Bagaimana dengan obat dan layanan kesehatan yang tidak ditanggung BPJS?

Orang kota pekerja formal masih bisa berlindung pada asuransi kerja, apa nasib warga desa yang hampir seluruhnya hidup di sektor informal? Orang desa mungkin tidak main saham, tapi bila pasar keuangan terus mengerut sehingga perusahaan sulit berekspansi, dampaknya luas. Bila pabrik tutup bukan hanya hilangnya pekerjaan buruh, melainkan juga lenyapnya konsumen indekos dan warung makan sekitar pabrik selain terputusnya rejeki untuk keluarga buruh di perdesaan. Bangsa yang besar bukan diwakili podium yang menggelegar, tapi kecerdasan berstrategi karena mau mendengarkan pakar.

Republik ini tidak butuh orasi tanpa aksi. Yang dibutuhkan republik berwarga 280 juta jiwa ini, yang diberkati 60 persen populasi berusia di bawah 30 tahun, tapi digayuti mayoritas pendidikan dan keterampilan terbatas, adalah iklim bisnis yang sehat sehingga lapangan pekerjaan mudah dibuka di mana pun oleh siapa saja. Pasar akan selalu ada dengan mekanisme alami permintaan dan pasokan, sehingga kecuali kita memonopoli tunggal vibranium seperti Wakanda, atau mengisolasi diri ala Korea Utara, kita tidak bisa asal bersikeras.

Tugas kita adalah membangun diri menjadi sangat mumpuni dan lincah sehingga kian berdaya tawar, bukannya malah bertengkar dengan pasar. Apalagi menyumbat rantai bisnis melalui monopoli dan monopsoni, dua praktik yang bukan saja dijabarkan resikonya di semua diktat ekonomi, tapi juga sudah dibuktikan kegagalannya oleh negara ini baru pada dekade 1990-an kemarin. Bangsa yang besar bukan diwakili podium yang menggelegar, tapi kecerdasan berstrategi karena mau mendengarkan pakar.

Kesadaran untuk mengoreksi adonan fundamental saat, dibanding semua yang ditekan perang, nilai tukar kita yang paling dikemplang. Tidak mengelirukan kejumawaan sebagai kepemimpinan, tidak menukar ahli pertanian dengan pertahanan, tidak terjebak nostalgia atau histeria dan, ya Tuhan, tidak gegabah melibas logika ekonomi karena, sebagai sebuah keniscayaan, realitas ekonomi akan menggilas balik dalam keseharian jalanan. Akhir pekan panjang lalu, saya berkendara bersama beberapa teman ke perairan dekat Jakarta.

Dulu, kami santai menjelajahi pelosok Indonesia, termasukdi pulau tak bernama sekian jam masuk laut di Kaimana. Namun, karena ongkos transportasi melejit, pilihan liburan kami menyempit.segera setelah terkuncinya Selat Hormuz menghambat pasokan bahan baku. Dampak nyatanya ada di camilan kami pagi itu; roti sisir hanya dikemas plastik selapis, sementara kemasan telur gabus mengecil. Seorang kawan lain juga mengeluhkan kosongnya roti gandum yang ia butuhkan karena kondisi autoimun.

Sepanjang jalan kemarin, teman seperjalanan mengeluhkan situasi industri ekspor-impor tempatnya bekerja. Kecilnya pasokan avtur karena perang mendongkrak harga sampai perkapalan membebankan. Tambahan biaya ini harus dibayar dalam dolar, sementara rupiah terus melemah. Pukulan ganda ini membuat beberapa klien memundurkan pembayaran, sedangkan perusahaan sang kawan harus membayar di depan.

Ekonomi acap diperdebatkan dengan teori sulit, kurva pelik dan angka rumit. Semua itu memang diperlukan untuk menjabarkan kompleksnya perekonomian. Namun, penggalan potret bisa bercerita tiap saat di jalanan selama kita sudi mengakui pigura besarnya. Hotel kami ramai sepanjang akhir pekan lalu?

Ya. Namun, berapa persen dari tamu yang tadinya mampu saatke Bali, Bajo atau Tokyo? Berapa yang tadinya mampu berwisata, sekarang duduk di rumah karena harga terus melonjak? Dari tamu yang muncul, berapa pengeluaran perkepala dibanding 2-3 tahun lalu?

Restoran yang kekurangan pramusaji, apa karena tak lagi sanggup menggaji banyak pegawai sebab ramainya tamu makin jarang terjadi? Di sekian kilometer pantai berpasir putih itu, banyak penginapan sepi dan bahkan terbengkalai. Tetangga saya tadi bercerita, untuk ukurankemarin, Bromo pun lengang. Mengingatkan saya akan Lombok tahun lalu, di mana kelesuan ekonomi tak pernah sembuh bahkan setelah pandemi Covid-19 melandai.

Artinya, tanpa harus ribut teori, turunnya daya beli sudah bicara sendiri. Dan realitas ini tidak bisa seenaknya dianggap pasal kecil, persoalan ”orang kota yang berduit”. Sensus BPS 2020 menyatakan 57 persen populasi Indonesia ada di perkotaan; sekarang diproyeksikan 61 persen. Urbanisasi terjadi karena sedikitnya peluang di daerah rural, ini fakta yang bisa diceritakan ART, pramusiwi, pramusaji, pramuniaga, kasir toko, terapis salon, pekerja konstruksi, dan bahkan pegawai korporat.

Sekarang, kalau si warga urban makin tertekan inflasi atau malah kena PHK , tanggungannya di desa hidup dari mana? Saya tak pernah lupa cerita pemilik penginapan kecil langganan di Ubud. Selama setahun lebih pandemi tanpa tamu, pegawainya tak memaksa digaji. Namun, menolak dipulangkan ke kampung.

”Makan apa kami di sana? ” ujarnya, menirukan. Nilai tukar tersungkur itu bukan cuma problem orang kaya untuk pelesir ke negara jiran, tapi derita bersama karena mayoritas obat dan alat kesehatan datang dari mancanegara. Bahkan, untuk warga perdesaan yang hidup layak, tetap tidak bebas dari pukulan ganda yang dihadapi bisnis di perkotaan.

Hari kedua liburan, penjaja keliling di mercusuar tua mengulurkan opak singkong saat saya menanyakan rempeyek dan keripik tempe. ”Tempe dan kacang mahal sekarang, Neng,” jawabnya. Roti gandum teman saya bisa diledek sebagai persoalan orang kota, tapi kedelai dan kacang tanah, bahan baku tempe dan pecel yang sering dicap makanan kampung, pun tergantung impor. Benar, pupuk untuk petani saat ini alhamdulillah surplus, tapi kita harus mengimpor fosfor dan kalium yang menjadi bahan baku.

Suku cadang perahu dan peralatan perikanan pun jarang buatan domestik, dan mungkin lebih mendesak dibantu pemerintah sebelum ribuan desa nelayan dihadiahiyang menyedot listrik. Harga suku cadang juga memengaruhi biaya operasional mobil omprengan atau bus, pilihan terbatas warga desa yang nyaris tak tersentuh transportasi umum yang memadai. Nilai tukar tersungkur itu bukan cuma problem orang kaya untuk pelesir ke negara jiran, tapi derita bersama karena mayoritas obat dan alat kesehatan datang dari mancanegara. Mau bengkak berapa tanggungan BPJS?

Bagaimana dengan obat dan layanan kesehatan yang tidak ditanggung BPJS? Orang kota pekerja formal masih bisa berlindung pada asuransi kerja, apa nasib warga desa yang hampir seluruhnya hidup di sektor informal? Orang desa mungkin tidak main saham, tapi bila pasar keuangan terus mengerut sehingga perusahaan sulit berekspansi, dampaknya luas. Bila pabrik tutup bukan hanya hilangnya pekerjaan buruh, melainkan juga lenyapnya konsumen indekos dan warung makan sekitar pabrik selain terputusnya rejeki untuk keluarga buruh di perdesaan.

Bangsa yang besar bukan diwakili podium yang menggelegar, tapi kecerdasan berstrategi karena mau mendengarkan pakar. Republik ini tidak butuh orasi tanpa aksi. Yang dibutuhkan republik berwarga 280 juta jiwa ini, yang diberkati 60 persen populasi berusia di bawah 30 tahun, tapi digayuti mayoritas pendidikan dan keterampilan terbatas, adalah iklim bisnis yang sehat sehingga lapangan pekerjaan mudah dibuka di mana pun oleh siapa saja.

Pasar akan selalu ada dengan mekanisme alami permintaan dan pasokan, sehingga kecuali kita memonopoli tunggal vibranium seperti Wakanda, atau mengisolasi diri ala Korea Utara, kita tidak bisa asal bersikeras. Tugas kita adalah membangun diri menjadi sangat mumpuni dan lincah sehingga kian berdaya tawar, bukannya malah bertengkar dengan pasar. Apalagi menyumbat rantai bisnis melalui monopoli dan monopsoni, dua praktik yang bukan saja dijabarkan resikonya di semua diktat ekonomi, tapi juga sudah dibuktikan kegagalannya oleh negara ini baru pada dekade 1990-an kemarin.

Bangsa yang besar bukan diwakili podium yang menggelegar, tapi kecerdasan berstrategi karena mau mendengarkan pakar. Kesadaran untuk mengoreksi adonan fundamental saat, dibanding semua yang ditekan perang, nilai tukar kita yang paling dikemplang. Tidak mengelirukan kejumawaan sebagai kepemimpinan, tidak menukar ahli pertanian dengan pertahanan, tidak terjebak nostalgia atau histeria dan, ya Tuhan, tidak gegabah melibas logika ekonomi karena, sebagai sebuah keniscayaan, realitas ekonomi akan menggilas balik dalam keseharian jalanan.

We have summarized this news so that you can read it quickly. If you are interested in the news, you can read the full text here. Read more:

hariankompas /  🏆 8. in İD

Lynda Ibrahim Ekonomi Global X-Hide-Give-Me-Perspective

 

United States Latest News, United States Headlines

Similar News:You can also read news stories similar to this one that we have collected from other news sources.

Pakar: Pelemahan Rupiah Bukan Cuma Masalah Teknis EkonomiPakar: Pelemahan Rupiah Bukan Cuma Masalah Teknis EkonomiNilai tukar Rupiah yang semakin lemah dengan kurs terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) mencapai di atas Rp17.000, dianggap bukan sekadar
Read more »

Prabowo Sebut Indonesia Terapkan Ekonomi Jalan TengahPrabowo Sebut Indonesia Terapkan Ekonomi Jalan TengahPresiden Prabowo Subianto menjelaskan maksud ekonomi Indonesia saat ini adalah ekonomi jalan tengah.
Read more »

Pelemahan Rupiah Bukan Krisis, Tapi Restrukturisasi Ekonomi NasionalPelemahan Rupiah Bukan Krisis, Tapi Restrukturisasi Ekonomi NasionalPresiden Direktur Center For Banking Crisis (CBC), Achmad Deni Daruri menilai depresiasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS harus dimaknai
Read more »

Indonesia Perlu Transformasi Ekonomi Berbasis Transformasi Struktur & KuantitasIndonesia Perlu Transformasi Ekonomi Berbasis Transformasi Struktur & KuantitasPresiden Prabowo Subianto menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir patut diapresiasi, namun belum sepenuhnya menghadirkan kesejahteraan yang merata bagi masyarakat. Anggota Komisi XI DPR RI, Marwan Cik Asan menekankan perlunya transformasi ekonomi dengan lebih inklusif dan berbasis transformasi struktural. Transformasi ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi berorientasi pada penciptaan lapangan kerja formal, memperluas hilirisasi ekonomi ke sektor rakyat, mempercepat pembangunan kualitas sumber daya manusia, dan memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah berbasis potensi lokal.
Read more »



Render Time: 2026-05-24 17:33:07