Meminta AI untuk meringkas buku, alih-alih membacanya, berarti kita menyia-nyiakan kesempatan mendialogkan kekayaan referensi dan pengalaman kita dengan buku itu.
Meminta AI untuk meringkas buku, alih-alih membacanya, berarti kita menyia-nyiakan kesempatan mendialogkan kekayaan referensi dan pengalaman kita dengan buku itu. Akal imitasi terus masuk ke kehidupan kita sehari-hari.
Salah satu fitur yang makin digandrungi orang adalah kemampuannya meringkas banyak hal. Kini, kita bisa mengerti isi buku tanpa perlu membacanya sampai tuntas. Menangkap pesan sebuah film tidak mesti melihatnya dari awal hingga akhir. Demikian pula memetakan sebuah masalah, AI bisa segera memberikan hasilnya secara komprehensif.
Lalu, kita bisa menulis artikel dengan menggunakan dalil-dalil yang diringkaskannya dari macam-macam buku tentang isu yang sedang kita bahas. Kita dibuatnya fasih bercerita tentang film-film terkini saat berkumpul bersama kawan-kawan serta lancar mengumbar komentar mengenai berbagai masalah mutakhir setelah mengintip hasil analisis AI. Kita pun senang saat terlihat pintar dan menguasai berbagai macam persoalan. Bersama AI, orang pun berhasrat menggapai pengetahuan-pengetahuan baru tanpa perlu bersusah payah menjalani setiap tahap dan prosesnya.
Barangkali, di antara kita ada yang membatin, kalau jalurnya bisa dipangkas sedemikian rupa, kenapa tidak? Buku tebal yang disusun bertahun-tahun oleh penulisnya dapat diringkas hanya dalam hitungan menit, bahkan detik. Kemudian, ringkasan itu bisa selesai dibaca kurang dari lima menit. Melihat kondisi semacam itu, artikel berjudul ”Melumbungkan Berpikir” menegaskan kembali soal kecakapan berpikir sebagai kemampuan manusia yang urgen untuk terus-menerus diasah, terlebih ketika kita sekarang sedang berada di dunia yang ”dihujani tiruan canggih dan kecohan yang nyaris sempurna”.
Atas laju pesat AI itu, di satu sisi banyak orang menyambutnya gembira, tetapi di lain sisi banyak pula yang prihatin. Namun, keprihatinan ini acap kali mandek dan berangsur menjelma menjadi kepasrahan yang hanya bisa dibarengi dengan senyum getir. Pertanyaannya kemudian, adakah sesuatu yang hilang saat kita larut dalam dunia ringkasan AI? Dunia memang bergerak cepat, tetapi bukan berarti kita harus selalu turut dalam arus lajunya.
Sejak berabad-abad lalu, membaca buku telah memberikan pengalaman tak tergantikan hingga sekarang. Bahkan, ketika buku digital telah begitu mudahnya kita peroleh. Mengapa? Ya, karena buku memiliki karakteristik unik dibandingkan dengan medium-medium lain yang hadir setelahnya.
Ia bisa diraba, dibolak-balik halamannya, dihirup baunya, dipeluk, sesekali dipakai untuk menutup muka ketika kita sedang membayangkan isinya, dan tentunya bisa membuat kita terus-menerus menciptakan bayangan-bayangan visual imajiner di benak kita. Ia membuat imajinasi kita bergelora mulai dari kata pertama hingga titik terakhir kisah-kisah yang dimuatnya. Ringkasan AI tentang buku apa pun tidak bisa memberi kita pengalaman menakjubkan itu. Demikian pula ketika kita menonton film.
Daya getar audio ruang bioskop seolah-olah masuk melalui pori-pori dan membuat tubuh kita berada di antara atmosfer stereo yang diciptakannya. Mata kita tak dibiarkannya berpaling sekejap pun dari visual yang disajikan melalui beragam teknik sinematografi yang terus berkembang. Kita terpaku sekaligus terpukau menikmati dunia rekaan yang dihadirkannya. Pengalaman semacam itu terkadang begitu memikat, terutama saat pesona sebuah film tidak pernah muncul di film-film lain, sehingga kita tak kuasa untuk tidak kembali menontonnya.
Ulasan secanggih apa pun tak akan cukup menggeser ikatan kita pada stimulus pengalaman audiovisual yang mampu menggetarkan pancaindra kita. Sebagian kita tak akan mudah melupakan ekspresi Joker saat tertawa pahit melihat seorang perempuan digoda dengan tak senonoh oleh beberapa pria di sebuah kereta. Film mengikat kita dengan pengalaman menonton yang kadang menjadi momen-momen sangat personal.
Gambaran menarik mengenai pengalaman tak tergantikan pancaindra, terutama mata, bisa kita peroleh dari Aldous Huxley dalam tulisan berjudul ”The Art of Seeing” yang terbit kembali di buku. Aktivitas ”mengindra” dilakukan secara fisik oleh mata, sementara aktivitas ”memilih” dilakukan oleh mata yang sudah mulai berkoordinasi dengan pikiran, mengingat tidak semua hal yang tertangkap mata akan mendapatkan fokus perhatian yang sama.
Sedangkan aktivitas ”mempersepsikan” lebih besar porsinya masuk ke dalam proses mental yang sangat dipengaruhi oleh memori dan pengalaman masa lalu sang pemilik mata. Sampai di sini, kita bisa membayangkan, betapa pengalaman melihat saja akan menjadi sangat personal bagi orang per orang. Apa jadinya jika pengalaman melihat, membaca, mendengar, dan menikmati tontonan audiovisual ditiadakan dan AI menggantikannya dengan ringkasan? Pengalaman hidup, pengetahuan, dan memori yang kita miliki telah menyatu di dalam tubuh kita.
Itulah akumulasi bekal yang sehari-hari kita gunakan saat berhadapan dengan obyek, subyek, dan peristiwa dari waktu ke waktu. Maka, wajar apabila kita merasa aneh dan tidak nyaman tatkala berkunjung ke pameran lukisan, tetapi tidak memiliki cukup waktu untuk berdiri di depan lukisan-lukisan itu satu demi satu. Kondisi berdesakan dan penuh adegan foto sana-sini tidak memungkinkan bagi seorang pengunjung memandangi sebuah lukisan dengan saksama dan dalam tempo yang dapat diaturnya sendiri.
Ia pun kehilangan kesempatan untuk perlahan-lahan mengundang kembali memori dan pengetahuannya tentang berbagai hal yang berpotensi menghidupkan interaksi antara dirinya dan lukisan yang sedang dipandanginya. Karya itu pun akan kehilangan momentum untuk menguarkan aura ”sakral”-nya . Padahal, pengalaman semacam itu dapat memperkaya batin dan menumbuhkan benih-benih baru sebagai bekal perjalanan hidup selanjutnya. Bahkan, YB Mangunwijaya di salah satu bukunya,, menempatkan aktivitas-aktivitas sederhana, seperti melihat, mendengar, berkata, menyanyi, tertawa, menangis, hingga bernapas, dan melamun, menjadi pengalaman yang sarat makna.
Aktivitas itu menjaga keseimbangan antara tindakan raga dan keadaan batin. Melamun, misalnya, bisa menjadi wujud aktivitas mencipta yang tidak sama dengan bermimpi ataupun berkhayal. Arah dan bentuk khayalannya masih dikemudikan oleh sang pelamun. Besarnya daya cipta lamunan bergantung pada resapan nilai dan rasa seseorang dari pengalaman sehari-hari yang prosesnya tidak bisa dengan mudah dipangkas.
Oleh karena itu, interaksi kita dengan AI yang akhir-akhir ini godaannya kian masif dalam hal ringkas-meringkas perlu kita tinjau ulang. Memilih untuk tidak membaca buku dan meminta AI sekadar membuat ringkasannya berarti kita telah menyia-nyiakan kesempatan untuk mendialogkan kekayaan referensi dan pengalaman akal serta batin kita dengan bacaan-bacaan itu. Bersama ringkasan-ringkasan AI, kita mungkin akan dikira sebagai orang yang tahu banyak dan cepat tanggap tentang isu-isu baru, padahal sebenarnya kita sendiri tidak bertumbuh.
Maka, menunda ketergesaan dan memilih lebih menghargai proses akan menjauhkan diri kita dari jebakan-jebakan dunia ringkasan. Dosen Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta; Mahasiswa Doktoral Kajian Budaya dan Media, Universitas Gadjah Mada Akal imitasi terus masuk ke kehidupan kita sehari-hari. Salah satu fitur yang makin digandrungi orang adalah kemampuannya meringkas banyak hal. Kini, kita bisa mengerti isi buku tanpa perlu membacanya sampai tuntas.
Menangkap pesan sebuah film tidak mesti melihatnya dari awal hingga akhir. Demikian pula memetakan sebuah masalah, AI bisa segera memberikan hasilnya secara komprehensif. Lalu, kita bisa menulis artikel dengan menggunakan dalil-dalil yang diringkaskannya dari macam-macam buku tentang isu yang sedang kita bahas. Kita dibuatnya fasih bercerita tentang film-film terkini saat berkumpul bersama kawan-kawan serta lancar mengumbar komentar mengenai berbagai masalah mutakhir setelah mengintip hasil analisis AI.
Kita pun senang saat terlihat pintar dan menguasai berbagai macam persoalan. Bersama AI, orang pun berhasrat menggapai pengetahuan-pengetahuan baru tanpa perlu bersusah payah menjalani setiap tahap dan prosesnya. Barangkali, di antara kita ada yang membatin, kalau jalurnya bisa dipangkas sedemikian rupa, kenapa tidak? Buku tebal yang disusun bertahun-tahun oleh penulisnya dapat diringkas hanya dalam hitungan menit, bahkan detik.
Kemudian, ringkasan itu bisa selesai dibaca kurang dari lima menit. Melihat kondisi semacam itu, artikel berjudul ”Melumbungkan Berpikir” menegaskan kembali soal kecakapan berpikir sebagai kemampuan manusia yang urgen untuk terus-menerus diasah, terlebih ketika kita sekarang sedang berada di dunia yang ”dihujani tiruan canggih dan kecohan yang nyaris sempurna”. Atas laju pesat AI itu, di satu sisi banyak orang menyambutnya gembira, tetapi di lain sisi banyak pula yang prihatin.
Namun, keprihatinan ini acap kali mandek dan berangsur menjelma menjadi kepasrahan yang hanya bisa dibarengi dengan senyum getir. Pertanyaannya kemudian, adakah sesuatu yang hilang saat kita larut dalam dunia ringkasan AI? Dunia memang bergerak cepat, tetapi bukan berarti kita harus selalu turut dalam arus lajunya. Sejak berabad-abad lalu, membaca buku telah memberikan pengalaman tak tergantikan hingga sekarang.
Bahkan, ketika buku digital telah begitu mudahnya kita peroleh. Mengapa? Ya, karena buku memiliki karakteristik unik dibandingkan dengan medium-medium lain yang hadir setelahnya. Ia bisa diraba, dibolak-balik halamannya, dihirup baunya, dipeluk, sesekali dipakai untuk menutup muka ketika kita sedang membayangkan isinya, dan tentunya bisa membuat kita terus-menerus menciptakan bayangan-bayangan visual imajiner di benak kita.
Ia membuat imajinasi kita bergelora mulai dari kata pertama hingga titik terakhir kisah-kisah yang dimuatnya. Ringkasan AI tentang buku apa pun tidak bisa memberi kita pengalaman menakjubkan itu. Demikian pula ketika kita menonton film. Daya getar audio ruang bioskop seolah-olah masuk melalui pori-pori dan membuat tubuh kita berada di antara atmosfer stereo yang diciptakannya.
Mata kita tak dibiarkannya berpaling sekejap pun dari visual yang disajikan melalui beragam teknik sinematografi yang terus berkembang. Kita terpaku sekaligus terpukau menikmati dunia rekaan yang dihadirkannya. Pengalaman semacam itu terkadang begitu memikat, terutama saat pesona sebuah film tidak pernah muncul di film-film lain, sehingga kita tak kuasa untuk tidak kembali menontonnya. Ulasan secanggih apa pun tak akan cukup menggeser ikatan kita pada stimulus pengalaman audiovisual yang mampu menggetarkan pancaindra kita.
Sebagian kita tak akan mudah melupakan ekspresi Joker saat tertawa pahit melihat seorang perempuan digoda dengan tak senonoh oleh beberapa pria di sebuah kereta. Film mengikat kita dengan pengalaman menonton yang kadang menjadi momen-momen sangat personal. Gambaran menarik mengenai pengalaman tak tergantikan pancaindra, terutama mata, bisa kita peroleh dari Aldous Huxley dalam tulisan berjudul ”The Art of Seeing” yang terbit kembali di buku.
Aktivitas ”mengindra” dilakukan secara fisik oleh mata, sementara aktivitas ”memilih” dilakukan oleh mata yang sudah mulai berkoordinasi dengan pikiran, mengingat tidak semua hal yang tertangkap mata akan mendapatkan fokus perhatian yang sama. Sedangkan aktivitas ”mempersepsikan” lebih besar porsinya masuk ke dalam proses mental yang sangat dipengaruhi oleh memori dan pengalaman masa lalu sang pemilik mata. Sampai di sini, kita bisa membayangkan, betapa pengalaman melihat saja akan menjadi sangat personal bagi orang per orang.
Apa jadinya jika pengalaman melihat, membaca, mendengar, dan menikmati tontonan audiovisual ditiadakan dan AI menggantikannya dengan ringkasan? Pengalaman hidup, pengetahuan, dan memori yang kita miliki telah menyatu di dalam tubuh kita. Itulah akumulasi bekal yang sehari-hari kita gunakan saat berhadapan dengan obyek, subyek, dan peristiwa dari waktu ke waktu. Maka, wajar apabila kita merasa aneh dan tidak nyaman tatkala berkunjung ke pameran lukisan, tetapi tidak memiliki cukup waktu untuk berdiri di depan lukisan-lukisan itu satu demi satu.
Kondisi berdesakan dan penuh adegan foto sana-sini tidak memungkinkan bagi seorang pengunjung memandangi sebuah lukisan dengan saksama dan dalam tempo yang dapat diaturnya sendiri. Ia pun kehilangan kesempatan untuk perlahan-lahan mengundang kembali memori dan pengetahuannya tentang berbagai hal yang berpotensi menghidupkan interaksi antara dirinya dan lukisan yang sedang dipandanginya. Karya itu pun akan kehilangan momentum untuk menguarkan aura ”sakral”-nya . Padahal, pengalaman semacam itu dapat memperkaya batin dan menumbuhkan benih-benih baru sebagai bekal perjalanan hidup selanjutnya.
Bahkan, YB Mangunwijaya di salah satu bukunya,, menempatkan aktivitas-aktivitas sederhana, seperti melihat, mendengar, berkata, menyanyi, tertawa, menangis, hingga bernapas, dan melamun, menjadi pengalaman yang sarat makna. Aktivitas itu menjaga keseimbangan antara tindakan raga dan keadaan batin. Melamun, misalnya, bisa menjadi wujud aktivitas mencipta yang tidak sama dengan bermimpi ataupun berkhayal. Arah dan bentuk khayalannya masih dikemudikan oleh sang pelamun.
Besarnya daya cipta lamunan bergantung pada resapan nilai dan rasa seseorang dari pengalaman sehari-hari yang prosesnya tidak bisa dengan mudah dipangkas. Oleh karena itu, interaksi kita dengan AI yang akhir-akhir ini godaannya kian masif dalam hal ringkas-meringkas perlu kita tinjau ulang. Memilih untuk tidak membaca buku dan meminta AI sekadar membuat ringkasannya berarti kita telah menyia-nyiakan kesempatan untuk mendialogkan kekayaan referensi dan pengalaman akal serta batin kita dengan bacaan-bacaan itu.
Bersama ringkasan-ringkasan AI, kita mungkin akan dikira sebagai orang yang tahu banyak dan cepat tanggap tentang isu-isu baru, padahal sebenarnya kita sendiri tidak bertumbuh. Maka, menunda ketergesaan dan memilih lebih menghargai proses akan menjauhkan diri kita dari jebakan-jebakan dunia ringkasan.
Opini Buku Membaca Membaca Buku AI Utama X-Hide-Give-Me-Perspective
United States Latest News, United States Headlines
Similar News:You can also read news stories similar to this one that we have collected from other news sources.
Skuad Swedia untuk Piala Dunia 2026: Duet Gyokeres dan Isak di Lini SerangSwedia umumkan 26 pemain untuk Piala Dunia 2026, dominasi pemain Premier League dengan Isak dan Gyokeres sebagai andalan serangan.
Read more »
Pemerintah Provinsi Banten Meminta Aparatur OPD Lebih ResponsifGubernur Banten, Andra Soni, meminta seluruh jajaran pemerintahan untuk cepat tanggap terhadap berbagai keluhan warga, terutama pada sektor pelayanan dasar seperti kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur.
Read more »
Ancelotti Sesumbar Brasil Juara Piala Dunia 2026: Tapi Tim Ini Siap Taklukkan Dunia!Carlo Ancelotti optimistis Brasil juara Piala Dunia 2026. Neymar kembali dipanggil, sementara Endrick dan Rayan siap debut di turnamen terbesar dunia.
Read more »
Carlo Ancelotti meminta maaf kepada Joao Pedro atas pencoretan namanya dari skuad Brasil untuk Piala DuniaCarlo Ancelotti meminta maaf kepada Joao Pedro setelah striker Chelsea itu tidak dipanggil ke skuad Brasil untuk Piala Dunia, meskipun ia tampil gemilang di Liga Premier.
Read more »




