Dirut BTN Bicara Korelasi Kenaikan Suku Bunga BI dengan Penentu Bunga Pinjaman TempoBisnis
TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama Bank BTN Haru Koesmahargyo menyebutkan kenaikan suku bunga BI rate bukan menjadi satu satunya komponen yang menentukan meningkatnya suku bunga pinjaman.
'Jadi kalau semuanya sama atau cetris paribus, tentu akan mengikuti demand naik. Tapi hal itu tidak mengurangi demand terhadap kebutuhan kredit,' imbuhnya.Haru menjelaskan tidak berkurangnya demand pada kebutuhan kredit disebabkan pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan daya beli sanggup untuk mengambil kredit dengan jumlah yang lebih tinggi karena manfaat ekonominya lebih tinggi lagi. Selain itu, Haru juga menegaskan kenaikan suku bunga BI rate bukan suatu hal yang pihaknya hindari.
Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama
Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.
Imbas Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga The Fed, Pergerakan Harga Minyak Dunia Cenderung DatarPergerakan harga minyak mentah dunia yang cenderung datar terjadi karena dollar AS yang menguat dan kekahawatiran suku bunga.
Baca lebih lajut »
Gubernur BI: Kenaikan Suku Bunga Acuan Tak Diperlukan LagiGubernur Bank Indonesia (BI) menganggap kenaikan suku bunga acuan tak diperlukan lagi. Kode apa nih?
Baca lebih lajut »
Strategi BI Hadapi Kenaikan Suku Bunga The Fed AS pada 2023Bank Sentral Amerika Federal Reserve (the Fed) diperkirakan masih akan menaikkan suku bunga acuan satu hingga dua kali pada tahun ini. BI atur strategi.
Baca lebih lajut »
Perry Warjiyo: Suku Bunga BI Tak Diperlukan Kenaikan LagiBank Indonesia (BI) pada Februari 2023 ini menahan suku bunga acuannya di 5,75 persen. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa kebijakan itu akan bertahan pada 2023.
Baca lebih lajut »
Ekonomi Lebih Kondusif, Kenaikan Suku Bunga DitahanBI memperkirakan, ke depan rupiah akan terus menguat sejalan dengan prospek ekonomi global yang lebih baik dari perkiraan dan fundamental ekonomi domestik yang kuat. Suku bunga acuan pun ditahan di 5,75 persen. Ekonomi AdadiKompas
Baca lebih lajut »