Terdakwa kerusuhan 22 Mei mengaku mendapatkan kekerasan dari anggota polisi yang berjaga di depan Gedung Bawaslu.
TEMPO.CO, Jakarta - Terdakwa kerusuhan 22 Mei Raga Eka Darma mengaku mendapat perlakuan kekerasan dari anggota Brimob yang berjaga saat kerusuhan di depan kantor Bawaslu, Jakarta Pusat. Raga menceritakan, awalnya petugas berbaju preman menangkapnya usai menyanyikan yel-yel di sekitaran Bawaslu pada 21 Mei.Polisi berseragam kemudian mencekik bagian belakang leher Raga. Polisi juga memelintir tangan kiri Raga ke arah punggung belakang. Tak sampai di situ, seorang di depan Raga menendang dadanya.
Namun undangan tersebut, menurut dia, bukan ajakan untuk demo melainkan saur bersama dan salat tarawih di depan kantor Komisi Pemilihan Umum pada 21-22 Mei. Dia kemudian memenuhi undangan itu sehingga membawa tikar. Dia pun seorang diri berangkat ke KPU. Massa di KPU kemudian berpindah ke Bawaslu.Sebelum dihajar polisi, Raga berujar sedang duduk di pembatas jalan sekitar Bawaslu sembari minum kopi dan menghisap rokok.
Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama
Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.
Cerita Terdakwa Kerusuhan 22 Mei Lemas Dihajar PolisiTerdakwa kerusuhan 22 Mei mengaku mendapatkan kekerasan dari anggota polisi yang berjaga di depan Gedung Bawaslu.
Baca lebih lajut »
Sidang Lanjutan 12 Terdakwa Kerusuhan 22 Mei, Jaksa Akan Hadirkan SaksiAgenda persidangan hari ini adalah pemeriksaan saksi yang dibawa oleh jaksa dan pembacaan eksepsi.
Baca lebih lajut »
Terdakwa Kerusuhan 21-22 Mei Ini Izin Demo-Tawuran ke IstrinyaMaslucky yang tinggal di Karawang, Jawa Barat, meminta izin ke istrinya. Ia minta izin demo dan tawuran.
Baca lebih lajut »
Terdakwa Kerusuhan 21-22 Mei Mengaku Disiksa Polisi Saat PenangkapanSalah satu terdakwa, Raga Eka Darma, menyatakan di hadapan hakim bahwa saat ditangkap dalam kerusuhan 22 Mei 2019 dia disiksa polisi berseragam. \n\n
Baca lebih lajut »
Andri Bibir Didakwa Siapkan Batu Saat Kerusuhan 21-22 MeiKesal terhadap polisi yang saat itu memaksa mereka bubar, Andri Bibir mengambil batu-batu dan memberikannya kepada massa untuk dilemparkan ke polisi
Baca lebih lajut »